Bogor kembali menegaskan posisinya sebagai kawasan yang rentan terhadap dampak perubahan tutupan lahan. Di tengah lembah yang kerap berkabut di kawasan Eiger Adventure Land, Desa Sukagalih, Megamendung, upaya pemulihan lingkungan dilakukan melalui kegiatan penanaman pohon endemik di pesisir hutan Lembah Nendeut.
Pada Minggu (7/12), Eiger Adventure Land bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menanam 350 bibit Rasamala, Saninten, dan Puspa di area yang disebut rawan erosi. Jenis-jenis tersebut dipilih karena dinilai berperan penting bagi ekosistem Jawa Barat, termasuk dalam menyerap air, menahan lapisan tanah, serta menyediakan habitat bagi berbagai spesies burung dan serangga.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat Daerah Aliran Sungai (DAS) Bogor yang dalam dua dekade terakhir menghadapi tekanan. Mengacu pada data KLHK, lebih dari 47% wilayah DAS di Jawa Barat berada dalam kondisi kritis. Bogor juga disebut sebagai salah satu titik yang kerap mengalami limpasan air ekstrem. Sementara itu, curah hujan tahunan kawasan Puncak berada pada kisaran 3.000–4.000 mm, yang menjadikannya rawan banjir dan longsor ketika vegetasi tidak memadai.
Penanaman pohon dalam konteks ini diposisikan sebagai langkah jangka panjang untuk mengurangi risiko bencana di wilayah hilir, dari Ciawi hingga Jakarta, dengan memperkuat daya serap tanah dan kestabilan lereng.
Acara tersebut dihadiri Staf Ahli Bidang SDA dan Mutu Lingkungan KLH Laksmi Widjayanti, Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut KLH Edy Nugroho Santoso, serta CEO Eiger Ronny Lukito. Dalam kesempatan itu, Ronny memaparkan capaian reforestasi Eiger yang telah menanam 118.000 pohon tegakan dan hampir 8 juta pohon perdu. Ia menyebut jumlah tersebut setara membentuk green belt baru yang diperkirakan mencakup lebih dari 600 hektare area penyerap air.
Ronny juga menyampaikan bahwa inisiatif tersebut berkaitan dengan dorongan untuk mengendalikan runoff air yang meningkat akibat alih fungsi lahan. “Kolaborasi dengan KLH memberikan kami kritik dan arahan yang sangat berarti. Kami sadar perjalanan ini panjang, tapi kami berupaya menjaga kelestarian alam dengan maksimal,” ujarnya.
Selain penanaman, Eiger menggandeng Prof. Dr. Bayuri untuk menyusun strategi pengendalian runoff berbasis kemiringan lahan dan kapasitas serap tanah. Pendekatan ilmiah ini dipandang relevan karena perubahan curah hujan ekstrem diproyeksikan meningkat 10–20% dalam skenario iklim Indonesia 2030.
Di sisi lain, pakar lingkungan Prof. Tukirin Partomihardjo menilai kawasan Eiger Adventure Land tidak hanya dipahami sebagai ruang wisata, melainkan juga berpotensi menjadi “sekolah alam” melalui pengembangan arboretum. Arboretum tersebut direncanakan menampung pohon-pohon langka Nusantara dari berbagai kluster biogeografis, mulai dari Sundaland, Wallacea, hingga Sahul.
“Ekowisata bukan hanya tentang berjalan-jalan,” kata Tukirin. “Ia adalah jembatan pengetahuan. Ketika anak muda melihat, menyentuh, dan merasakan pohon langka, identitas ekologis bangsa ini kembali tumbuh.”
Ia juga menyinggung keragaman hayati Indonesia yang memiliki lebih dari 5.000 spesies pohon, dengan sekitar 15% di antaranya berada dalam kategori rentan, terancam, atau kritis menurut IUCN. Menurutnya, arboretum dapat menjadi salah satu upaya mencegah kepunahan yang kerap terjadi tanpa banyak disadari publik.
Pakar lingkungan Yuli Suhartono menambahkan, penanaman di Lembah Nendeut merujuk pada prinsip global “pohon yang tepat, di tempat yang tepat, untuk tujuan yang tepat.” Prinsip tersebut diterapkan berdasarkan kajian geologi, stabilitas lereng, curah hujan tahunan, hingga kedalaman lapisan tanah.
“Saya berdiskusi dengan Prof. Tukirin terkait vegetasinya, dan dengan Pak Lubis dari BRIN terkait geologinya. Dari situ kami membuat zonasi untuk menentukan pohon apa dan untuk tujuan apa,” ujar Yuli.
Menurut Yuli, ketepatan pemilihan spesies menjadi faktor penting karena salah memilih jenis tanaman dapat meningkatkan risiko longsor. Ia menyebut Rasamala dan Puspa dikenal memiliki sistem perakaran dalam dan menyebar yang membantu mengikat tanah di lereng curam, berbeda dengan sejumlah spesies cepat tumbuh yang lebih rentan tumbang.
Melalui kegiatan ini, para pihak berharap penanaman pohon dapat menjadi contoh kolaborasi antara perusahaan, ilmuwan, dan pemerintah yang tidak berhenti pada kampanye, melainkan bertumpu pada data ilmiah, pemantauan jangka panjang, serta edukasi publik. Lembah Nendeut pun menjadi pengingat bahwa pemulihan ekosistem merupakan proses berkelanjutan yang menuntut konsistensi dari waktu ke waktu.

