BERITA TERKINI
Dua Duo HOME di Malang: Ketika Pameran Seni Menjadi Ruang Pulang, Jeda dari Gawai, dan Ajakan Memelihara Imajinasi

Dua Duo HOME di Malang: Ketika Pameran Seni Menjadi Ruang Pulang, Jeda dari Gawai, dan Ajakan Memelihara Imajinasi

Pameran seni “Dua Duo HOME” mendadak ramai dibicarakan di Malang dan meluas di percakapan daring. Ia muncul sebagai tren karena menyentuh keresahan yang terasa dekat.

Di tengah hari-hari yang serba cepat, kata “HOME” terdengar seperti janji sederhana. Janji tentang pulang, tentang ruang aman, tentang jeda yang kita butuhkan.

Di Hamur Art Space, pameran ini berlangsung 31 Januari hingga 7 Februari 2026. Ruang kecil itu berubah menjadi tempat bertemu banyak cerita.

Yang menarik, pameran ini tidak memosisikan seni sebagai milik segelintir orang. Pemilik Hamur Art Space, Agni Pratiwi, menegaskan pintunya terbuka untuk siapa saja.

“Acara ini menyasar semua kalangan, bukan hanya mereka yang berkecimpung di dunia seni rupa. Tetapi siapa saja,” ujar Agni kepada wartawan, Sabtu malam.

Di kota yang dipenuhi kampus dan arus anak muda, pernyataan itu terasa penting. Seni tidak lagi menunggu orang datang dengan “kredensial” tertentu.

-000-

Mengapa “Dua Duo HOME” Menjadi Tren

Tren tidak selalu lahir dari sensasi. Kadang ia lahir dari kebutuhan kolektif yang lama dipendam dan akhirnya menemukan bentuk yang tepat.

Alasan pertama, pameran ini menjawab kegelisahan orang tua tentang gawai. Agni menyebut banyak orang tua ingin anaknya tidak terlalu fokus pada layar.

Di sini seni rupa ditawarkan sebagai latihan tangan sekaligus latihan otak. Kalimat itu sederhana, tetapi memotong perdebatan panjang soal perhatian anak.

Alasan kedua, pameran ini ramah untuk publik. Tidak perlu undangan, pengunjung bisa datang pukul 11.00 hingga 20.00.

Akses yang mudah sering kali menjadi faktor penentu. Ketika seni tidak terasa eksklusif, ia lebih cepat menyebar dari mulut ke mulut.

Alasan ketiga, programnya memberi pengalaman, bukan sekadar tontonan. Ada live sketch, workshop cyanotype, hingga menggambar dan menyulam totebag.

Harga totebag Rp75.000 juga menciptakan rasa “terjangkau” bagi banyak anak muda. Seni terasa bisa disentuh, dicoba, dan dibawa pulang.

-000-

Pameran yang Mengundang Anak SD dan SMP

Agni menyebut Hamur Art Space terbuka bagi siswa SD dan SMP yang tertarik seni rupa. Ini bukan detail kecil, melainkan arah sikap.

Ia menekankan ketertarikan tidak harus berujung menjadi seniman. Yang penting adalah ruang untuk bereksplorasi, tanpa beban hasil.

Dalam budaya pendidikan yang sering mengukur anak dengan angka, gagasan “eksplorasi” terasa seperti napas panjang. Seni hadir sebagai proses, bukan target.

Di sisi lain, pameran ini juga menangkap realitas Malang sebagai kota pelajar. Mayoritas peminat disebut berasal dari mahasiswa UB dan UM.

Namun ada pula mahasiswi UMM yang ikut pameran sebelumnya, tanpa latar akademis seni rupa. Agni menyebut itu bukti anak muda menggemari seni.

Pernyataan itu menantang stigma lama. Bahwa seni hanya untuk mereka yang “sekolah seni” dan punya jejaring tertentu.

-000-

Dua Seniman, Dua Bahasa Visual

“Dua Duo HOME” menghadirkan karya dua seniman Malang, Aksan dan Ilyas Badnews. Mereka datang dengan bahasa visual yang berbeda.

Karya Aksan menawarkan perpaduan imajinasi dan teknologi. Ia lekat dengan gaya retro-futuristik dan dieselpunk.

Gaya itu sering meminjam masa lalu untuk membayangkan masa depan. Ada mesin, ada nostalgia, ada pertanyaan tentang arah kemajuan.

Sementara Ilyas Badnews mengedepankan teknik cetak alternatif cyanotype. Teknik ini dikenal melalui jejak biru yang khas.

Dalam pameran, perbedaan bukan dijadikan kompetisi. Ia menjadi percakapan, seolah dua cara memandang “rumah” saling menyapa.

Pameran ini ditegaskan bukan sekadar menceritakan arti rumah. Ia tentang membuka ruang bersama, tempat berbagai kisah hidup berdampingan.

-000-

“HOME” sebagai Metafora Kota dan Generasi

Rumah di kota sering menjadi kata yang rumit. Banyak anak muda merantau, tinggal di kos, berpindah kontrakan, dan merakit rasa pulang sendiri.

Di Malang, arus mahasiswa datang dan pergi. Kota menjadi persinggahan, tetapi juga tempat membangun identitas.

Maka “HOME” bisa dibaca sebagai metafora. Bukan hanya bangunan, melainkan pengalaman diterima, ruang untuk tumbuh, dan tempat aman untuk salah.

Ketika pameran mengundang publik luas, ia seperti mengatakan rumah tidak boleh menjadi hak istimewa. Rumah adalah sesuatu yang bisa dibangun bersama.

Di sinilah seni bekerja diam-diam. Ia memelihara empati, menampung perbedaan, dan memberi bahasa bagi hal-hal yang sulit diucapkan.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Literasi, Kesehatan Mental, dan Ekonomi Kreatif

Isu gawai pada anak bukan sekadar soal kebiasaan. Ia terkait literasi perhatian, kemampuan fokus, dan cara generasi muda memproses dunia.

Ketika Agni berbicara tentang melatih tangan dan otak, ia mengingatkan bahwa kreativitas adalah keterampilan. Bukan hiasan, melainkan kebutuhan.

Dalam konteks kesehatan mental, ruang seni sering menjadi ruang jeda. Ia memberi kesempatan menurunkan ketegangan melalui proses yang pelan.

Meski pameran ini tidak mengklaim terapi, praktik menggambar, menyulam, atau mencetak bisa menjadi bentuk perawatan diri yang sederhana.

Di tingkat yang lebih luas, pameran publik juga menyentuh agenda ekonomi kreatif. Kota-kota di Indonesia membutuhkan ruang yang menghidupkan ekosistem.

Ekosistem itu bukan hanya seniman. Ia melibatkan ruang pamer, komunitas, program workshop, dan pengunjung yang merasa seni relevan.

Ketika publik datang tanpa undangan, seni bergerak dari menara gading ke ruang kota. Ini penting bagi Indonesia yang ingin kreatifnya berdaya saing.

-000-

Riset yang Relevan: Seni sebagai Ruang Belajar dan Keterampilan

Dalam dunia pendidikan, riset tentang pembelajaran berbasis seni sering menekankan manfaatnya bagi keterampilan berpikir. Seni membantu mengolah pengamatan dan keputusan.

Praktik seperti live sketch melatih perhatian pada detail. Ia mengajarkan bahwa melihat adalah kerja, bukan sekadar aktivitas pasif.

Workshop cyanotype memperkenalkan proses, kesabaran, dan eksperimen. Anak muda belajar bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari pencarian.

Kegiatan menggambar dan menyulam totebag juga mempertemukan ide dengan keterampilan tangan. Ada kebanggaan saat hasil kerja bisa dipakai sehari-hari.

Di tengah banjir konten instan, proses yang lambat menjadi nilai. Pameran ini mengajak publik menghargai waktu, bukan hanya hasil.

Riset-riset pendidikan seni kerap menyoroti hubungan antara kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah. Ini membuat seni relevan melampaui galeri.

Namun pameran ini tidak memaksa kesimpulan besar. Ia cukup menyediakan ruang, lalu membiarkan pengalaman bekerja pada tiap pengunjung.

-000-

Referensi Luar Negeri yang Serupa: Seni Partisipatoris dan Ruang Komunitas

Di berbagai negara, tren seni partisipatoris berkembang melalui workshop publik dan program komunitas. Galeri tidak hanya memajang karya, tetapi mengundang keterlibatan.

Model seperti ini terlihat pada banyak ruang seni komunitas yang mengadakan kelas cetak, menggambar, atau kerajinan. Tujuannya memperluas akses dan rasa memiliki.

Di beberapa kota besar, museum dan art space juga membuka sesi “open studio” agar publik memahami proses artistik. Pengalaman itu sering lebih membekas daripada pameran formal.

Kesamaannya dengan “Dua Duo HOME” ada pada gagasan pintu terbuka. Seni tidak diposisikan sebagai dunia tertutup, melainkan ruang belajar bersama.

Perbedaannya, konteks Indonesia punya lapisan tambahan. Ada dorongan orang tua untuk mengurangi waktu layar, dan ada kebutuhan ruang aman bagi anak muda kota.

Dengan demikian, pameran ini bukan sekadar mengikuti tren global. Ia menjawab kebutuhan lokal, dengan bahasa yang akrab bagi Malang.

-000-

Peresmian dan Peran Kota

Pameran dibuka 31 Januari oleh Camat Blimbing I Ketut Widi Eika Wirawan, mewakili Wali Kota Malang. Kehadiran pemerintah memberi sinyal pengakuan.

Namun pengakuan saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kesinambungan ruang dan program, agar seni tidak hanya hadir saat peresmian.

Ruang seperti Hamur Art Space sering bertahan karena kerja sunyi. Ia bergantung pada komunitas yang datang, belajar, dan saling menguatkan.

Ketika publik meramaikan pameran, mereka sebenarnya ikut menjaga napas ruang itu. Mereka ikut memastikan kota memiliki tempat untuk imajinasi.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, orang tua bisa memandang pameran seperti ini sebagai alternatif kegiatan keluarga. Bukan untuk “mencetak seniman”, tetapi untuk melatih rasa ingin tahu.

Kedua, sekolah dapat memanfaatkan kunjungan ke ruang seni sebagai pengalaman belajar. Anak melihat bahwa kreativitas punya ruang nyata di kotanya.

Ketiga, kampus dan komunitas bisa memperluas kolaborasi. Jika mahasiswa menjadi mayoritas pengunjung, maka potensi program lintas disiplin sangat besar.

Keempat, pemerintah kota dapat mendukung keberlanjutan ruang seni melalui kemudahan perizinan kegiatan dan promosi agenda budaya kota. Dukungan yang konsisten lebih berarti.

Kelima, publik perlu menjaga etika ruang bersama. Datang dengan rasa hormat pada karya, pada seniman, dan pada pengunjung lain.

Menanggapi tren ini tidak perlu dengan euforia berlebihan. Cukup dengan kebiasaan baru: menyempatkan diri hadir, melihat, dan mendengar cerita orang lain.

-000-

Penutup: Pulang yang Kita Bangun Bersama

“Dua Duo HOME” mengingatkan bahwa rumah bukan hanya tempat kembali. Rumah juga cara kita memandang dunia, dan cara kita memberi ruang bagi orang lain.

Di Malang, sebuah pameran yang terbuka untuk semua kalangan menjadi peristiwa kecil yang berdampak besar. Ia menyalakan percakapan tentang perhatian dan kreativitas.

Ketika anak muda, orang tua, mahasiswa, dan warga umum bertemu di ruang seni, kota seperti menemukan denyutnya. Denyut yang pelan, tetapi jujur.

Dan mungkin, di tengah gempuran layar, kita memang butuh tempat untuk menatap sesuatu yang tidak bergerak. Agar batin kita kembali bergerak.

“Rumah adalah tempat kita belajar menjadi manusia, lalu membawa pelajaran itu ke dunia.”