BERITA TERKINI
Dosen UPMI Terbitkan Buku tentang Konseling Berbasis Nilai Etis-Spiritual Dwijendra

Dosen UPMI Terbitkan Buku tentang Konseling Berbasis Nilai Etis-Spiritual Dwijendra

Dosen Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI), Dr Roro Dwi Umi Badriyah, MPd, Kons, merilis buku berjudul Konseling Berbasis Nilai Etis Spiritual Dwijendra. Buku ini merupakan hasil penelitian yang diarahkan pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan karakter yang dinilai selaras dengan budaya Bali.

Roro Dwi Umi Badriyah menyampaikan, penerbitan buku tersebut didorong oleh kecintaannya terhadap Bali. Ia juga menyebut buku itu sebagai karya pertamanya.

Menurutnya, buku ini menawarkan inovasi dalam bidang bimbingan dan konseling yang berakar pada keunikan budaya Bali. Ia mengaitkannya dengan semboyan leluhur Bali “Miksatam.Jagadita, Iaca ici Darma.”

Dalam pengembangannya, pendekatan konseling indigenous yang diangkat dalam buku tersebut menekankan nilai etis-spiritual tokoh Dwijendra. Nilai-nilai itu disebut sarat dengan pedoman hidup yang menjadi bagian dari keyakinan umat Hindu Bali, serta mengarah pada kearifan lokal (local genius) yang khas.

Roro menjelaskan, struktur nilai alamiah yang tampak dalam wawasan, kata, dan tindakan, serta dilandasi beragam upacara adat, menjadikan nilai etis-spiritual Dwijendra kaya filosofi makna dan keyakinan. Perspektif ini, lanjutnya, mengungkap inti indegenitas budaya yang dalam konteks sejarah pendekatan indigenous dalam psikologi dapat dihubungkan dengan realitas manusia sebagai bagian dari lingkungan sosio-kultural.

Ia menekankan, untuk memahami serta memutuskan perilaku dan produktivitas manusia, penting menempatkan aspek sosial-kultural dalam konteks desh (tempat), kala (waktu), dan patra (orang). Dengan demikian, ia menyebut salah satu faktor utama psikologi indigenous adalah reaksi terhadap kecenderungan etnosentris dalam pola pikir arus utama, serta keterikatan pada budaya dan karakter budaya.

Roro menambahkan, konseling berbasis budaya ini dipersembahkan untuk masyarakat Bali agar dapat menjaga Ajeg Bali dalam dunia konseling. Ia juga membandingkan pengembangan konsep tersebut dengan inovasi yang telah dibuat di sejumlah negara, seperti konsep Anasaki di India, konsep Amae di Jepang, dan konsep Jung di Korea.

Ia berharap nilai etis-spiritual Dwijendra dapat diserap ke dalam praktik bimbingan dan konseling, sekaligus menguatkan nilai kearifan lokal yang bersumber dari keyakinan agama Hindu Bali.