BERITA TERKINI
Direktur Kantor Hak Cipta: Pencipta Harus Jadi Pusat Rantai Nilai Musik di Era Digital

Direktur Kantor Hak Cipta: Pencipta Harus Jadi Pusat Rantai Nilai Musik di Era Digital

Transformasi digital membuat musik hadir di hampir semua bentuk hiburan dan media, mulai dari platform streaming, media sosial, siaran langsung, karaoke online, hingga iklan komersial. Namun, di balik meningkatnya nilai ekonomi industri musik, muncul pertanyaan tentang seberapa besar manfaat yang benar-benar diterima para pencipta.

Direktur Kantor Hak Cipta, Tran Hoang, menilai keberlanjutan pasar hak cipta bergantung pada penempatan pencipta—terutama musisi dan penulis lagu—sebagai pusat dalam rantai nilai musik. Menurutnya, seluruh ekosistem pemanfaatan musik pada akhirnya bersumber dari karya asli para pencipta.

Tran Hoang mengatakan banyak musisi mengakui kesulitan untuk mengetahui secara akurat di mana karya mereka digunakan, seberapa sering dieksploitasi, dan berapa pendapatan yang dihasilkan. Di sisi lain, banyak platform digital dinilai memiliki kendali yang lebih besar atas data dan arus kas dibanding para pencipta.

Ia menyoroti bahwa selama bertahun-tahun terdapat banyak kasus yang menunjukkan peningkatan nilai ekonomi industri musik tidak selalu sejalan dengan peningkatan hak cipta bagi pencipta lagu. Banyak karya digunakan di berbagai platform yang menghasilkan pengguna dan pendapatan iklan, tetapi komposer masih menghadapi hambatan untuk melacak cakupan penggunaan dan memastikan pendapatan royalti yang semestinya.

Menurut Tran Hoang, situasi tersebut bukan hanya terjadi di Vietnam, melainkan juga menjadi perhatian banyak negara dalam menyusun kebijakan industri budaya di era digital. Salah satu hambatan utama saat ini adalah kesadaran tentang hak cipta yang dinilai belum sejalan dengan laju perkembangan teknologi. Meski bisnis, platform digital, dan pihak yang memanfaatkan musik memperoleh pendapatan, dalam banyak kasus hak cipta belum sepenuhnya dipandang sebagai aset.

Ia mendorong perubahan perspektif: hak cipta tidak hanya berkaitan dengan perlindungan kehormatan, reputasi, dan pengakuan pencipta, tetapi juga merupakan aset dengan nilai ekonomi nyata. Sebuah lagu, menurutnya, dapat terus menghasilkan pendapatan bertahun-tahun setelah diciptakan melalui pertunjukan, siaran, iklan, produksi konten digital, maupun produk turunan.

Tran Hoang menegaskan musisi harus memperoleh keuntungan yang adil dari semua bentuk pemanfaatan karya, termasuk di lingkungan digital. Ia menyebut pembayaran royalti perlu dipandang sebagai prinsip wajib ketika musik digunakan untuk menarik pengguna atau menghasilkan pendapatan, bukan sekadar dukungan atau niat baik.

Dalam konteks pemanfaatan lintas batas, Tran Hoang menilai mekanisme pengumpulan dan pendistribusian royalti perlu diperkuat dengan fokus pada transparansi, akurasi, dan penerapan teknologi canggih. Ia menekankan bahwa karya kini dapat dieksploitasi lintas negara dalam hitungan detik setelah diunggah.

Perkembangan kecerdasan buatan, platform streaming, dan ekosistem konten digital juga disebut memunculkan tantangan baru. Menurutnya, persoalan tidak selalu terletak pada apakah penggunaan karya dapat dideteksi, melainkan kemampuan untuk melacak seluruh siklus pemanfaatan di lingkungan digital.

Tran Hoang menilai metode pengelolaan manual sudah tidak lagi memadai. Ia mendorong investasi pada sistem data digital, identifikasi konten, dan rekonsiliasi pendapatan agar musisi dapat mengetahui di mana karya mereka dieksploitasi, berapa kali digunakan, dan berapa pendapatan yang diterima. Ia juga menyebut tuntutan transparansi data menjadi tren global, sehingga pasar hak cipta modern memerlukan bukan hanya perangkat hukum, tetapi juga infrastruktur teknologi yang kuat.

Selain aspek hukum dan teknologi, Tran Hoang menyoroti pentingnya penguatan organisasi manajemen hak cipta kolektif, terutama karena tidak semua penulis memiliki sumber daya untuk melindungi haknya. Ia menilai penulis muda kerap berada dalam posisi lebih lemah dibanding perusahaan produksi, platform teknologi, atau penerbit, baik dari sisi informasi, sumber daya, maupun daya tawar.

Menurutnya, organisasi pengelola hak cipta kolektif dan hak terkait berperan dalam mengumpulkan dan mendistribusikan royalti, sekaligus mewakili kreator dalam negosiasi, perizinan, dan penanganan pelanggaran hak cipta.

Tran Hoang juga menekankan perlunya membangun budaya menghormati hak cipta. Ia menilai kemudahan mendengarkan, mengunduh, atau menggunakan musik secara daring dengan beberapa klik dapat membuat masyarakat lupa bahwa setiap karya lahir dari kerja kreatif, upaya intelektual, dan biaya produksi.

Dalam pandangannya, isu hak cipta tidak semata soal jumlah pendapatan yang dikumpulkan atau banyaknya pelanggaran yang ditangani, melainkan juga tentang melindungi dorongan kreatif. Ia menyatakan pencipta akan lebih mampu terus menginvestasikan waktu, kecerdasan, dan sumber daya untuk karya baru jika hak atas nilai yang mereka ciptakan dijamin. Sebaliknya, bila eksploitasi terjadi tanpa pengakuan memadai, motivasi berkarya berisiko menurun.

Tran Hoang menutup dengan menegaskan bahwa pasar hak cipta yang sehat bukan hanya melindungi pendapatan industri musik, tetapi juga melindungi potensi kreatif masyarakat. Menurutnya, perlindungan yang adil bagi musisi akan memperkuat motivasi untuk menciptakan karya baru, yang menjadi fondasi berkelanjutan bagi pengembangan industri budaya di era digital.