Pasar kripto memasuki awal Mei 2026 dengan kewaspadaan tinggi seiring jadwal rilis sejumlah agenda ekonomi penting dari Amerika Serikat (AS) yang datang beruntun dalam sepekan. Rangkaian ini mencakup pidato pejabat bank sentral AS (The Fed) hingga data ketenagakerjaan utama, yang kerap memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga.
Perhatian investor tertuju pada bagaimana sinyal kebijakan moneter dan kondisi pasar tenaga kerja AS akan membentuk proyeksi langkah The Fed berikutnya. Perubahan ekspektasi tersebut dapat memicu pergerakan tajam pada aset berisiko, termasuk Bitcoin (BTC) dan aset kripto lainnya.
Agenda pekan ini dibuka pada Senin (4/5) waktu AS dengan pidato Presiden Federal Reserve New York, John Williams. Sebagai anggota Federal Open Market Committee (FOMC) yang berpengaruh, pernyataannya kerap dijadikan rujukan untuk membaca arah kebijakan suku bunga. Jika Williams menyampaikan nada hawkish—misalnya menekankan perlunya suku bunga tinggi bertahan lebih lama—dolar AS berpotensi menguat dan menekan aset berisiko. Sebaliknya, sinyal yang lebih dovish dapat membuka ruang penguatan pada Bitcoin.
Masih terkait komunikasi kebijakan, pada Jumat (8/5) anggota FOMC Michelle Bowman dijadwalkan menyampaikan pidato. Bowman dikenal cenderung hawkish, sehingga pasar akan mencermati apakah ada perbedaan penekanan dibandingkan pernyataan Williams di awal pekan.
Di sisi data, Selasa (5/5) akan diwarnai rilis Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk Maret 2026. Laporan ini menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS dan sering dipandang sebagai indikasi awal kekuatan pasar tenaga kerja. Konsensus memperkirakan jumlah lowongan turun dari 8,7 juta pada Februari. Jika penurunan terjadi, pasar bisa melihatnya sebagai tanda perlambatan ekonomi yang biasanya meningkatkan peluang penurunan suku bunga. Namun bila angka lowongan tetap tinggi, kekhawatiran terkait tekanan inflasi dari sisi upah dapat bertahan sehingga The Fed berpotensi lebih berhati-hati.
Rabu (6/5), perhatian beralih ke laporan ADP Non-Farm Employment Change yang memberikan gambaran awal kondisi tenaga kerja sektor swasta. Proyeksi menunjukkan penambahan sekitar 180.000 pekerjaan, sedikit di bawah capaian Maret sebesar 184.000. Meski data ADP tidak selalu sejalan dengan laporan resmi pemerintah, pelaku pasar kerap menggunakannya untuk mengantisipasi arah data Non-Farm Payrolls (NFP). Angka yang kuat umumnya memperkuat dolar AS dan menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Kamis (7/5), pasar akan memantau data klaim pengangguran mingguan (jobless claims) yang sering dianggap sebagai indikator paling cepat untuk membaca kondisi tenaga kerja secara real-time. Selama klaim tetap rendah, ekonomi dinilai masih solid. Namun jika klaim melonjak melewati 250.000, kekhawatiran perlambatan ekonomi dapat meningkat dan memicu perubahan sentimen pasar.
Puncak rangkaian agenda terjadi pada Jumat (8/5) dengan rilis Non-Farm Payrolls (NFP) beserta tingkat pengangguran. Konsensus memperkirakan penambahan 200.000 pekerjaan baru, tingkat pengangguran stabil di 4,1%, serta perhatian khusus pada kenaikan upah rata-rata per jam. Data NFP kerap menjadi pemicu volatilitas terbesar di pasar. Angka yang lebih kuat dari perkiraan dapat menunda harapan penurunan suku bunga, sementara hasil yang lebih lemah bisa memperbesar peluang pelonggaran kebijakan.
Dengan enam agenda yang berdekatan—pidato dua pejabat The Fed serta empat rilis data ketenagakerjaan utama—awal Mei 2026 menjadi periode krusial bagi pasar global, termasuk kripto. Pelaku pasar menunggu apakah indikator-indikator tersebut menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat untuk mempertahankan suku bunga tinggi, atau mulai memberi sinyal perlambatan yang membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter.