Pembahasan soal childfree—keputusan untuk tidak memiliki anak—kembali ramai di media sosial. Perdebatan ini mencuat setelah YouTuber Gita Savitri (Gitasav) menyatakan dirinya merasa lebih bahagia dan tampak awet muda di usia 30 tahun karena tidak memiliki anak.
Dalam unggahan Instagram, Gita Savitri menulis bahwa tidak punya anak disebutnya sebagai “anti penuaan alami”, karena bisa tidur cukup, terhindar dari stres mendengar teriakan anak, dan memiliki uang untuk perawatan seperti botox. Pernyataan tersebut memicu respons beragam dari warganet: ada yang setuju, ada pula yang menolak.
Di luar perdebatan di ruang publik, pertanyaan apakah orang yang memilih childfree lebih bahagia dibanding mereka yang memiliki anak sudah lama diteliti dari berbagai disiplin ilmu. Sejumlah temuan ilmiah menunjukkan bahwa jawabannya tidak sesederhana “lebih bahagia” atau “lebih tidak bahagia”.
Apa yang terjadi pada tubuh dan otak saat memiliki anak?
Menurut laporan yang dikutip dari Science Focus, para ahli saraf menjelaskan bahwa pada tahap awal setelah bayi lahir, ibu dapat mengalami perasaan yang sangat intens. Proses melahirkan dan menyusui membuat tubuh dibanjiri oksitosin, hormon yang sering disebut sebagai “hormon cinta”.
Oksitosin ini memperkuat ikatan emosional dan dikaitkan dengan meningkatnya kesenangan serta kebahagiaan dalam hubungan antarpribadi. Dalam konteks ini, hubungan ibu dan bayi digambarkan sebagai salah satu ikatan emosional terkuat, sehingga emosi yang muncul pada orangtua bisa terasa lebih kuat dibanding mereka yang tidak memiliki anak.
Respons serupa juga dapat terjadi pada ayah atau tipe orangtua lain. Namun, disebutkan bahwa ibu kandung memiliki hubungan yang paling intens dengan bayinya, dengan respons otak yang lebih tinggi terhadap berbagai hal terkait bayi.
Kebahagiaan orangtua: intens, tetapi tidak selalu mudah
Seiring waktu, kebahagiaan bisa memudar atau berubah bentuk. Bukan karena orangtua tidak menyayangi anak, melainkan karena anak yang tumbuh akan menuntut berbagai hal dan orangtua memikul tanggung jawab penuh.
Pengalaman menjadi orangtua kerap diiringi tantangan seperti kurang tidur, mengganti popok, tekanan finansial, hingga perasaan bahwa hidup tidak lagi sepenuhnya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk anak. Kondisi ini dapat meningkatkan stres dan emosi negatif.
Ahli saraf Dean Burnett menyatakan bahwa bukti yang ada menunjukkan memiliki anak dapat membuat seseorang lebih bahagia, tetapi juga dapat membuat seseorang merasa stres, cemas, dan emosi lainnya. Menurut Burnett, secara keseluruhan memiliki anak cenderung membuat pengalaman emosional seseorang lebih intens dibanding jika tidak memiliki anak.
Temuan lintas negara: tidak ada jawaban tunggal
Temuan lain yang dikutip dari If Studies menyebutkan penelitian di 22 negara menemukan tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat kebahagiaan antara mereka yang memiliki anak dan mereka yang memilih childfree.
Namun, hasilnya bervariasi antarnegara. Orangtua di Amerika dilaporkan kurang bahagia dibanding orangtua di Inggris dan Australia. Sementara itu, di beberapa negara lain—terutama Norwegia dan Hungaria—orangtua disebut lebih bahagia dibanding mereka yang childfree.
Perbedaan berdasarkan gender
Dalam studi terpisah berdasarkan gender, ditemukan bahwa perempuan yang memiliki anak mengalami lebih sedikit kebahagiaan dibanding perempuan yang tidak memiliki anak. Temuan ini berbanding terbalik pada laki-laki: penelitian tersebut menyebut menjadi ayah membuat laki-laki lebih bahagia.
Kesimpulan: childfree atau punya anak, dampaknya bisa berbeda-beda
Berbagai temuan menunjukkan bahwa memiliki anak dapat memperkuat ikatan emosional dan membuat pengalaman perasaan lebih intens—baik dalam bentuk kebahagiaan maupun tekanan. Sementara itu, penelitian lintas negara juga mengindikasikan bahwa tingkat kebahagiaan antara kelompok orangtua dan childfree tidak selalu berbeda secara signifikan, serta dipengaruhi konteks sosial dan perbedaan gender.
Dengan kata lain, sains belum memberikan satu jawaban mutlak tentang siapa yang “lebih bahagia”. Pengalaman kebahagiaan tampak bergantung pada banyak faktor, dan dapat berbeda pada tiap individu maupun masyarakat.

