BERITA TERKINI
Cemara 6 Galeri-Museum, Ruang Seni di Pusat Jakarta yang Menyimpan Kisah Persahabatan dan Koleksi Toeti Heraty

Cemara 6 Galeri-Museum, Ruang Seni di Pusat Jakarta yang Menyimpan Kisah Persahabatan dan Koleksi Toeti Heraty

Sebuah lukisan kubisme berukuran 60 cm x 38 cm yang didominasi warna biru menyambut pengunjung saat memasuki ruang pameran Cemara 6 Galeri-Museum. Karya berjudul Perahu (1958) itu merupakan lukisan Mochtar Apin, yang menjadi salah satu penanda kisah personal di balik koleksi museum tersebut.

Lukisan Perahu disebut sebagai hadiah dari Mochtar Apin kepada filsuf sekaligus penyair Toeti Heraty, sebagai tanda persahabatan. Keduanya bertemu sekitar 1957 ketika berada di sebuah kapal dalam perjalanan menuju Indonesia. Saat itu, Toeti Heraty baru pulang dari Belanda setelah menempuh pendidikan sarjana psikologi di Amsterdam, sementara Mochtar Apin memutuskan kembali ke Indonesia setelah enam tahun tinggal di Paris.

Di dekat karya tersebut, terpajang pula tiga lukisan Kartika Affandi yang juga memiliki kedekatan dengan Toeti. Kurator Nirwan Sambudi menjelaskan, Toeti termasuk sosok yang memberi dukungan besar kepada Kartika untuk tetap melukis ketika karya-karyanya kerap dituding meniru gaya sang ayah. “Ibu Toeti hadir di saat-saat Kartika terpuruk dan merasa tidak pantas menjadi pelukis,” kata Nirwan.

Dukungan itu juga tercermin ketika Kartika menggelar pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 1970-an, namun tidak ada satupun lukisan yang terjual. Toeti disebut membeli karya Kartika pada kesempatan itu. Kini, lukisan Kartika berjudul Waiting in The Lobby berukuran 106 cm x 139 cm menjadi salah satu koleksi yang dipamerkan di Cemara 6 Galeri-Museum.

Sejumlah karya tersebut hanya sebagian kecil dari koleksi Toeti Heraty yang tersimpan di Cemara 6. Di tempat ini, terdapat sekitar 200 lukisan dari 60 perupa Indonesia. Koleksi itu mencakup karya-karya dari nama-nama seperti Salim, Zaini, Sudjojono, Otto Djaja, Agus Djaja, Basoeki Abdullah, Affandi, Nashar, Hendra Gunawan, hingga Bagong Kusudiardjo, dan lainnya.

Cemara 6 Galeri-Museum berdiri di atas lahan 1.500 meter persegi dan menempati dua bangunan yang terhubung: di Jalan Hos Cokroaminoto No. 09–11 seluas 850 meter dan di Jalan Cemara No. 6, Jakarta Pusat, seluas 650 meter. Di dalamnya terdapat beberapa ruang, antara lain ruang pameran, perpustakaan, auditorium, ruang rapat, kafe, serta lima unit homestay.

Galeri-museum ini didirikan pada 27 November 1993, bertepatan dengan ulang tahun Toeti Heraty Roosseno yang ke-60. Pendirian itu bermula ketika Toeti menampung koleksi lukisan Salim yang kala itu terkatung-katung setelah pameran di TIM. Karya-karya tersebut tidak dapat dijual karena persyaratan bea dan cukai tidak terpenuhi. Jalan keluar yang diambil adalah membeli seluruh lukisan untuk kepentingan umum, yang mendorong Toeti mengoleksi 53 lukisan Salim, ditambah sejumlah karya perupa lain. Dari situ, Toeti mantap mendirikan galeri seni.

Owner sekaligus Direktur Cemara 6 Galeri-Museum, Indah C. Noerhadi, mengatakan program-program di Galeri Cemara 6 dikonsepkan dengan mengedepankan hak-hak manusia untuk mengekspresikan diri secara bebas dan kreatif. Selain menampilkan koleksi dan karya-karya mendiang Toeti Heraty—mulai dari lukisan, buku, foto, hingga karya tulis yang dapat diakses publik—Cemara 6 juga menjadi tempat berlangsungnya pameran lukisan serta pertunjukan tari, musik, dan sastra.

“Ini merupakan bagian dari komitmen untuk memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara,” kata Indah.