BERITA TERKINI
Cedera Kepala Membuat Derek Amato Mendadak Jadi Pianis, Ilmuwan Kaitkan dengan Sindrom Savant yang Didapat

Cedera Kepala Membuat Derek Amato Mendadak Jadi Pianis, Ilmuwan Kaitkan dengan Sindrom Savant yang Didapat

Sebuah insiden di kolam renang pada 2006 mengubah hidup Derek Amato secara drastis. Pria yang saat itu berusia 39 tahun itu mengalami cedera kepala serius setelah terjun ke kolam yang ternyata terlalu dangkal saat menghadiri pesta bersama teman-temannya di Colorado.

Benturan keras membuat kepala Amato menghantam lantai beton di dasar kolam. Ia mengalami gegar otak parah, kehilangan pendengaran sekitar 35% di satu telinga, serta sakit kepala yang berlangsung terus-menerus. Pada fase awal, perhatian dokter berfokus pada pemulihan cedera fisiknya.

Namun beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, Amato merasakan perubahan yang tidak biasa. Ia mengaku sering melihat kotak-kotak hitam dan putih bergerak di depan matanya, seperti pola yang terus tersusun. Ia menggambarkan pengalaman itu menyerupai bentuk-bentuk matematika yang melayang.

Perubahan paling mencolok muncul ketika ia duduk di depan piano. Menurut pengalamannya, pola-pola visual tersebut seolah berubah menjadi musik. Padahal, sebelum kecelakaan, Amato bukan musisi profesional. Ia disebut bekerja sebagai salesman, tidak memiliki pelatihan piano formal, dan tidak bisa membaca not musik.

Meski demikian, ketika menempatkan tangan di atas tuts, ia dapat memainkan melodi kompleks secara spontan. Orang-orang di sekitarnya, termasuk teman-temannya, disebut tak percaya melihat seseorang yang tidak pernah belajar musik mampu bermain berjam-jam dengan harmoni yang terdengar emosional layaknya pemain terlatih.

Sejumlah ahli neurologi kemudian mengaitkan kasus Amato dengan kondisi langka yang dikenal sebagai Acquired Savant Syndrome atau Sindrom Savant yang Didapat. Kondisi ini merujuk pada munculnya kemampuan luar biasa secara tiba-tiba setelah cedera otak atau gangguan neurologis. Kasus yang tercatat di dunia disebut sangat sedikit.

Dalam sindrom tersebut, seseorang yang sebelumnya dianggap tidak memiliki bakat khusus dapat mendadak menunjukkan kemampuan tingkat tinggi, misalnya dalam matematika, seni rupa, atau musik. Kasus Amato kerap disebut sebagai salah satu contoh yang paling dikenal.

Para peneliti menduga benturan keras pada kepala bisa memicu restrukturisasi koneksi saraf di otak, sehingga kemampuan tertentu yang sebelumnya “tersembunyi” menjadi muncul. Meski begitu, mekanisme pastinya masih dinyatakan belum sepenuhnya dipahami.

Hal lain yang turut menonjol dalam kisah Amato adalah caranya bermain musik. Ia tetap tidak bisa membaca not dan tidak memainkan lagu-lagu sederhana dengan metode tradisional sebagaimana musisi yang menjalani pendidikan formal. Ia disebut lebih banyak menyusun dan berimprovisasi langsung berdasarkan gambaran yang muncul di benaknya.

Hampir dua dekade setelah kecelakaan itu, Amato telah merilis karya musik, tampil di berbagai panggung, dan menjadi subjek penelitian bagi para ahli saraf. Bagi banyak orang, cedera kepala merupakan bencana. Namun bagi Amato, peristiwa itu justru menjadi awal kehidupan baru—dari seorang pria biasa menjadi pianis yang kemampuannya muncul secara tiba-tiba.