Perkembangan teknologi dalam beberapa dekade terakhir mengubah cara orang mengakses bacaan. E-book dan berbagai platform bacaan digital menawarkan kemudahan membaca tanpa perlu membawa buku fisik, sekaligus memperluas pilihan format—dari teks digital hingga audiobook. Laporan Statista (2023) memproyeksikan pendapatan pasar e-book global mencapai USD 14,16 miliar pada 2024, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 2,7%, menandakan meningkatnya minat terhadap buku digital.
Meski demikian, dominasi buku cetak belum tergeser. Data Association of American Publishers (AAP, 2022) menunjukkan pendapatan buku fisik mencapai USD 12,4 miliar pada 2022, jauh di atas pendapatan e-book yang tercatat USD 1,97 miliar. Angka ini mengindikasikan bahwa di tengah bertambahnya opsi digital, banyak pembaca masih mempertahankan kebiasaan membaca buku cetak karena kenyamanan dan pengalaman yang ditawarkan.
Di antara kelompok yang paling menentukan arah tren literasi adalah Generasi Z, yakni mereka yang lahir dari pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Generasi ini kerap disebut digital natives karena tumbuh dalam lingkungan yang terintegrasi dengan teknologi (Prensky, 2001). Namun, kedekatan dengan perangkat digital tidak otomatis membuat mereka sepenuhnya beralih ke e-book.
Sejumlah survei menunjukkan bahwa buku fisik tetap kuat di kalangan anak muda. Pew Research Center (2022) mencatat 65% anak muda di Amerika Serikat masih membaca buku cetak. Temuan serupa muncul di Inggris: Survei National Literacy Trust (2023) menemukan hanya 26% remaja yang lebih memilih e-book dibanding buku cetak, dengan alasan utama buku fisik terasa lebih nyaman dan membantu fokus saat membaca.
Di sisi lain, buku digital terus berkembang karena menawarkan akses cepat dan fleksibel. Ekosistem perangkat dan aplikasi—seperti e-reader serta layanan bacaan digital—membuat ribuan judul dapat diakses dari satu gawai. Faktor biaya juga menjadi pertimbangan: buku digital kerap lebih murah daripada buku cetak dan tersedia dalam skema berlangganan, yang memungkinkan pembaca mengakses banyak judul dengan biaya lebih rendah.
Perbedaan format ini juga membawa konsekuensi pada pengalaman membaca. Buku digital unggul dalam hal portabilitas dan fitur pencarian, serta menawarkan opsi seperti highlight dan mode malam. Statista (2023) bahkan memperkirakan jumlah pengguna e-book global dapat mencapai 1,1 miliar pada 2027. Dari sisi lingkungan, Cleantech Group (2021) melaporkan penggunaan e-book dapat mengurangi emisi karbon hingga 87% dibanding produksi buku cetak, meski dampak perangkat elektronik tetap menjadi catatan tersendiri.
Namun, membaca di layar juga memiliki tantangan. American Optometric Association (2022) melaporkan 65% pengguna perangkat digital mengalami gejala digital eye strain, seperti mata kering, sakit kepala, dan kelelahan visual. Selain itu, lingkungan digital yang penuh notifikasi berpotensi mengganggu konsentrasi. Common Sense Media (2022) mencatat remaja menghabiskan rata-rata 7 jam 22 menit per hari dengan perangkat digital, dengan media sosial dan hiburan menjadi distraksi utama.
Sementara itu, buku cetak sering dikaitkan dengan pengalaman membaca yang lebih minim gangguan dan lebih imersif. Studi Delgado dkk. (2018) menemukan pembaca buku fisik cenderung memiliki pemahaman lebih tinggi dibanding pembaca e-book, terutama untuk bacaan yang menuntut analisis dan pemikiran kritis. Selain itu, pengalaman sensorik—seperti membalik halaman dan interaksi fisik dengan teks—dinilai sulit digantikan sepenuhnya oleh format digital. Studi Mangen dkk. (2013) juga menunjukkan interaksi fisik dengan buku cetak dapat membantu pemahaman dan daya ingat.
Preferensi Generasi Z pun kerap dipengaruhi tujuan membaca. Untuk kebutuhan akademik, sejumlah penelitian menunjukkan kecenderungan memilih buku cetak karena lebih mudah menandai halaman, membuat catatan, dan mengurangi distraksi. Mizrachi & Salaz (2019) mencatat preferensi ini muncul karena buku fisik dinilai lebih mendukung proses belajar. Sebaliknya, untuk bacaan ringan atau hiburan, Generasi Z cenderung lebih fleksibel menggunakan e-book atau audiobook yang praktis diakses lewat ponsel.
Perubahan kebiasaan membaca ini berdampak pada strategi industri penerbitan. Di satu sisi, e-book menghadirkan distribusi yang lebih cepat dan biaya produksi yang berbeda dibanding buku cetak. Di sisi lain, data penjualan menunjukkan buku fisik masih menjadi tumpuan pasar. Kondisi tersebut mendorong model hibrida, ketika satu judul ditawarkan dalam beberapa format—cetak, e-book, hingga audiobook—agar menjangkau pembaca dengan preferensi beragam.
Arah masa depan literasi juga menguat pada pendekatan yang lebih beragam. UNESCO (2022) menekankan akses literasi tidak seharusnya bergantung pada satu format, melainkan mengakomodasi perkembangan teknologi tanpa mengabaikan metode konvensional yang dinilai efektif. Pada saat yang sama, audiobook menunjukkan pertumbuhan pesat. Grand View Research (2023) memperkirakan pasar audiobook global tumbuh dengan laju tahunan 26,4% hingga 2030, mencerminkan meningkatnya minat pada format yang memungkinkan konsumsi bacaan secara lebih fleksibel.
Kesimpulannya, perdebatan buku digital versus buku fisik di kalangan Generasi Z tidak mengarah pada pilihan tunggal. Data dan riset menunjukkan kedua format memiliki fungsi yang saling melengkapi: e-book menawarkan aksesibilitas dan efisiensi, sementara buku cetak tetap unggul dalam pengalaman membaca yang minim gangguan dan mendukung pemahaman mendalam. Di tengah arus digitalisasi, kecenderungan yang muncul adalah pola membaca hibrida, ketika pembaca memilih format berdasarkan kebutuhan, konteks, dan kenyamanan.

