BERITA TERKINI
Bùi Thế Kiên dan Irama Ngãi Cầu: Upaya Panjang Menghidupkan Kembali Ca trù

Bùi Thế Kiên dan Irama Ngãi Cầu: Upaya Panjang Menghidupkan Kembali Ca trù

Irama phách Ngãi Cầu disebut telah menjadi bunyi yang terus “menghantui” perjalanan hidup Seniman Rakyat Bùi Thế Kiên. Di rumahnya yang berada jauh di dalam Desa Ngãi Cầu, Komune An Khánh, suasana seolah berjalan lebih lambat di tengah ketukan alat musik kayu dan bunyi đàn đáy yang dalam dan bergema—warna khas ca trù, salah satu seni nyanyian tradisional Vietnam.

Bùi Thế Kiên lahir pada 1950 dan melewati masa muda pada periode perang. Pada 1967, ia bergabung dengan tentara dan ditugaskan menggunakan musik serta nyanyian untuk meningkatkan moral prajurit. Ia mempelajari alat musik tradisional dalam gerakan “nyanyian meredam suara bom”, namun kedekatannya dengan ca trù baru benar-benar terbentuk beberapa dekade kemudian.

Kesempatan itu datang pada akhir 1980-an, ketika Vietnam memasuki masa reformasi dan pemugaran nilai-nilai budaya tradisional mulai diprioritaskan. Kien menyebut salah satu titik balik terpenting terjadi pada sebuah pertunjukan malam di festival kuil Desa Cát Quế (kini wilayah Komune Dương Hòa, Hanoi). Saat itu, para warga lanjut usia menyatakan keinginan untuk kembali mendengar ca trù—seni yang sebelumnya dianggap sebagai “kemewahan”.

Ia terkesan menyaksikan penampilan para seniman veteran, sekaligus merasa terbebani oleh pesan para tetua yang meminta generasi muda mempelajari tradisi yang kian jarang dikuasai. Dari situ, Kien memandang ca trù bukan sekadar hiburan, melainkan seni yang rumit—kristalisasi puisi, musik, dan filsafat hidup. Ia membandingkannya dengan nyanyian xẩm yang merepresentasikan suara kaum pekerja miskin, sementara ca trù memiliki karakter lebih “mulia” dan pernah digunakan dalam upacara keagamaan serta lingkungan istana.

Pemahaman itu mendorongnya menempuh jalan berat: memulihkan tradisi đàn đáy dari perkumpulan Ngãi Cầu. Pada awal 1990-an, mencari đàn đáy yang layak dan autentik untuk latihan nyaris mustahil karena banyak instrumen telah rusak atau hancur setelah puluhan tahun terabaikan. Kien melakukan perjalanan ke Hải Phòng setelah mendengar kabar bahwa sebuah keluarga dari perkumpulan đàn đáy lama masih menyimpan kerangka instrumen. Yang ditemukan hanya rangka kayu yang lapuk, namun ia membawanya pulang, mengukur, dan mempelajari detail strukturnya dengan teliti.

Pada 1993, đàn đáy pertama yang ia buat sendiri akhirnya selesai. Kien menjelaskan instrumen itu memiliki struktur khas berupa kotak resonansi, jembatan, dan leher panjang. Di masa lalu, ketika rombongan musik tampil dari tempat ke tempat, leher đàn đáy bahkan kerap dilepas dan digunakan sebagai tongkat pengangkut—sebuah detail yang, menurutnya, menunjukkan kedekatan alat musik itu dengan kehidupan para musisi.

Membuat instrumen sendiri, baginya, bukan sekadar agar memiliki alat latihan, melainkan penegasan tekad untuk menghidupkan kembali ca trù di kampung halaman. Dengan đàn đáy itu, ia mencari rekan sejalan dan mengajak para penyanyi serta musisi ca trù setempat membentuk wadah berkegiatan.

Pada 1995, Klub Ca trù Hoài Đức resmi berdiri, menandai kembalinya tradisi setelah lama terputus. Kemudian pada 2003, Klub Ca trù Ngãi Cầu dibentuk sebagai tempat memupuk kecintaan terhadap seni tersebut di wilayahnya. Kien bersama anggota klub membawa nyanyian Ngãi Cầu tampil dan berkompetisi di berbagai festival. Salah satu pencapaian yang disebutkan adalah penghargaan “Xiêm y” pada Festival Nasional Ca trù 2011, yang diberikan kepada penyanyi perempuan dengan kemampuan menyanyi yang dinilai telah mencapai tingkat kematangan.

Dalam praktik bermusik, Kien menekankan pentingnya menjaga “gaya standar” dibanding “gaya artistik” yang lebih bebas dan penuh ornamen. Menurutnya, ca trù harus berpegang pada standar, notasi, dan pola ritme yang diwariskan. Ketegasan itu ia anggap sebagai inti dari upaya menjaga warisan, bukan mengejar ketenaran.

Namun, kebanggaan terhadap tradisi juga dibayangi kekhawatiran soal keberlanjutan. Kien menyampaikan bahwa meski daftar anggota klub cukup banyak, hanya sedikit yang aktif rutin dan mampu tampil. Ia menilai generasi muda kini sibuk belajar, bekerja, dan terpapar hiburan modern, sehingga tidak banyak yang memiliki kesabaran untuk menekuni ca trù yang menuntut latihan ketat dan ketelitian.

Meski begitu, ia menyatakan tetap akan mengajar meski hanya ada satu orang yang tersisa untuk belajar. Ia tidak memungut biaya dan membagikan pengetahuan yang dikumpulkannya sepanjang hidup, dengan harapan warisan budaya Desa Ngãi Cầu tidak hilang.

Di usia 76 tahun, setelah menerima gelar Seniman Rakyat, Kien disebut tetap menjalani hidup sederhana. Ia menyebut tunjangan pengrajin dan manfaat asuransi sosial sebagai dorongan spiritual. Kekhawatiran utamanya bukan penghasilan, melainkan nasib instrumen dan melodi lama yang ia rawat. Ia kerap berpesan kepada anak dan cucunya bahwa alat musik itu sangat berharga: selama instrumen ada, jiwa ca trù tetap ada; jika instrumen hilang, semuanya hilang.

Cita-citanya adalah agar ca trù tidak hanya hidup di museum atau festival, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ia menulis lirik baru untuk melodi ca trù dengan tema kehidupan modern dan pujian bagi tanah air agar lebih mudah diterima anak muda, sambil tetap mematuhi aturan nada dan musikalitas tradisional. Gambaran dirinya mengajari anak berusia delapan tahun setiap ritme menjadi simbol harapan akan keberlanjutan identitas budaya.

Dalam penjelasannya, ca trù membutuhkan pengantar musik sebelum bernyanyi, dan seorang seniman harus menghafal setidaknya lima frasa musik dasar agar selaras dengan penyanyi perempuan dan pemain laki-laki. Ketiganya membentuk segitiga artistik: bunyi đàn đáy yang dalam, ketukan phách yang jernih, dan suara gendang chầu yang berwibawa. Karya-karya lisan seperti “Hồng hồng tuyết tuyết” karya Dương Khuê, maupun puisi Tản Đà dan Nguyễn Công Trứ, melalui nyanyian ca trù disebut menjadi hidup kembali, membawa semangat masa keemasannya. Bagi Kien, perubahan zaman boleh terjadi, tetapi nilai asli harus dijaga—sebab ketika prinsip itu hilang, ca trù tidak lagi menjadi ca trù.