BERITA TERKINI
Brian Khrisna Luncurkan Buku ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ yang Mengangkat Isu Kesehatan Mental

Brian Khrisna Luncurkan Buku ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ yang Mengangkat Isu Kesehatan Mental

Penulis asal Bandung, Jawa Barat, Brian Khrisna meluncurkan buku terbarunya berjudul Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati di Makarya Gramedia Matraman, Jakarta, Jumat (14/2/2025). Buku ini mengangkat persoalan kesehatan mental yang disebutnya dialami banyak orang saat ini.

Brian mengatakan, karya tersebut mengajak pembaca untuk mensyukuri kehidupan yang dijalani sekaligus menemukan alasan-alasan sederhana untuk tetap hidup. “Ini bukunya bercerita tentang kesedihan,” ujarnya di Jakarta.

Ia menilai masih banyak orang mengalami kesulitan untuk merasa sedih. Menurut Brian, kesedihan kerap dianggap aneh atau tabu, bahkan ada yang menjadikan kesedihan orang lain sebagai bahan candaan. Selain itu, ia menyebut sebagian orang juga melakukan guilt tripping terhadap mereka yang sedang bersedih atau menghadapi masalah kesehatan mental.

Brian juga menyoroti pandangan di lingkungan keluarga yang membuat seseorang sulit mengekspresikan kesedihan. Salah satu contoh yang ia sebut adalah anggapan bahwa pria tidak boleh cengeng, bersedih, apalagi menangis.

Beragam kondisi tersebut, kata Brian, pada akhirnya membuat banyak orang enggan bercerita tentang perasaannya ketika menghadapi kesedihan atau masalah kesehatan mental. “Di mata orang-orang yang tidak mengenal mental health, ini [kesedihan] adalah sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal,” ujarnya.

Melalui buku ini, Brian berharap pembaca dapat memahami bahwa setiap orang boleh merasa sedih dan perasaan tersebut valid. Ia juga berharap pembaca dapat bersikap lebih tepat saat menghadapi orang yang sedang bersedih atau mengalami masalah kesehatan mental. “Dengan buku ini, saya berharap kita bisa menjadi orang yang lebih mampu untuk mendengar,” katanya.

Brian menambahkan, buku tersebut ditulis berdasarkan wawancara dengan tiga orang yang mengalami masalah kesehatan mental, salah satunya depresi akut atau distimia. Selain itu, ia juga melakukan wawancara dengan psikologi. Proses penulisan buku ini berlangsung selama dua tahun dan menggunakan pilihan kata yang ringan agar dapat dibaca oleh orang awam.

Dalam cerita, tokoh utama bernama Ale, 37 tahun, seorang pekerja di perusahaan di Jakarta yang merasa kesepian. Teman-temannya telah menikah, sementara rutinitas hariannya digambarkan sebagai kerja pagi, pulang, lembur, tubuh yang kerap sakit, merasa tidak punya siapa-siapa, serta berada dalam posisi generasi roti lapis.

Ale diceritakan menderita depresi akut dan berniat mengakhiri hidup. Namun sebelum mewujudkan niat tersebut, ia ingin makan mie ayam. Karena tidak menemukannya, Ale berusaha mencari makanan itu. Dalam proses pencarian mie ayam, ia bertemu banyak orang yang kemudian membuatnya mengurungkan niat untuk berhenti hidup.