Penulis Boy Candra merilis buku terbarunya berjudul Ikhlas Penuh Luka, yang mengangkat sisi lain dari pengalaman kehilangan—sebuah perasaan yang kerap hadir secara sepi dan personal. Melalui buku ini, Boy menghadirkan beragam sudut pandang dari mereka yang pernah ditinggalkan, sekaligus menunjukkan bahwa rasa kehilangan bisa dirasakan berbeda oleh setiap orang, bahkan ketika berduka atas hal yang sama.
Boy juga menyampaikan keinginannya untuk meluruskan persepsi umum tentang makna ikhlas. Menurutnya, ikhlas bukanlah jalan pintas menuju ketenangan, melainkan proses panjang yang tetap menyisakan luka. Ia mengajak pembaca untuk jujur terhadap rasa sakit tanpa terburu-buru menuntut diri segera merasa damai. “Karena selama ini kan, yang digambarkan orang-orang ikhlas itu bikin kita damai, bikin kita tenang gitu. Tapi menurutku, ikhlas itu tetap aja ada lukanya. Tetap aja kita butuh waktu yang bisa jadi lebih panjang dari orang lain gitu,” ujarnya.
Dari sisi penamaan, Boy mengaku sengaja memilih judul yang ia anggap “catchy” dengan memadukan kata yang tidak lazim disandingkan. Jika ikhlas sering dikaitkan dengan damai, ia justru memasangkannya dengan “luka” untuk memberi “pematah” yang lebih tajam dan membekas. “Judul buku ini aku buat lumayan catchy. Aku sering membuat semacam itu. Kayak, Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang, Cinta Rumit, dan sebagainya. Aku suka memainkan kata semacam itu. Karena kan ikhlas itu biasanya bersanding dengan damai. Nah, aku sandingkan dengan ‘luka’ biar ada pematahnya,” tutur Boy.
Selain berbicara tentang luka dan penerimaan, buku ini juga memiliki makna personal bagi Boy. Ia menyebut Ikhlas Penuh Luka sebagai salah satu proyek untuk “meromantisasi” kota Padang, tanah kelahirannya. Padang tidak hanya menjadi latar, tetapi dihadirkan sebagai bagian penting cerita dengan nuansa kekinian, yang menurutnya berbeda dari gambaran lama yang kerap melekat. “Ini jadi salah satu proyek romantisasi kota, Padang lah khususnya. Karena orang-orang mungkin kenalnya Padang itu masih dalam frame cerita lama. Nah, buku ini sebetulnya membicarakan Padang hari ini, spesifiknya Padang 2023. Jadi membicarakan isu-isu yang masih sangat baru atau dekat,” lanjut dia.
Boy menegaskan, buku ini juga memuat pesan tentang keluasan makna ikhlas. Ia tidak ingin memahaminya secara sempit, melainkan menghadirkannya dari berbagai perspektif tokoh, agar pembaca dapat menemukan pengalaman yang paling relevan dengan perjalanan hidup masing-masing. Ia mengutip salah satu bagian dalam bukunya: “Di bukunya ada kutipan ‘Ikhlas itu seperti lautan, sangat luas, kadang kita sebagai manusia hanya gak mampu merenanginya saja.’ Jadi, di buku ini akan ada banyak ‘ikhlas’ dari berbagai perspektif tokoh-tokohnya. Kita bisa menyesuaikan, kira-kira ikhlas mana yang cocok untuk kita.”
Terkait pengalaman karyanya yang pernah dua kali diadaptasi menjadi film, Boy menilai buku dan film adalah dua medium yang berbeda. Ia memahami adanya penyesuaian dalam proses adaptasi, termasuk kemungkinan penambahan atau pengurangan cerita. Karena itu, ia mendorong publik menikmati masing-masing karya dengan caranya sendiri. “Film itu kan produk yang dikerjakan oleh banyak orang. Mereka punya standarnya sendiri. Menulis juga punya kerjanya sendiri. Jadi, cerita di film juga penyesuaian aja. Misalnya, mau ada penambahan, pengurangan, itu memang harus ada. Kita memang harus menikmati film dan buku dengan caranya masing-masing,” pungkasnya.
Melalui Ikhlas Penuh Luka, Boy Candra mengajak pembaca memaknai ikhlas sebagai proses yang manusiawi—yang bisa berbeda bagi setiap orang, dan tidak selalu hadir tanpa rasa sakit.

