Solo — Program Bintang Muda Lokananta (BML) Vol. 2 membekali lima finalis dengan mentoring eksklusif sebagai persiapan sebelum memasuki sesi rekaman di Studio Lokananta, Solo. Pada tahap ini, para finalis mendapat kesempatan berdiskusi langsung dengan para mentor yang berpengalaman dalam ekosistem musik.
Salah satu mentor, Kukuh Rizal, menekankan pentingnya fondasi manajerial bagi musisi atau band. Ia mengajak finalis memahami pilihan model bisnis di industri musik serta berbagai sumber pendapatan yang dapat dikembangkan.
Mentor lainnya, Ferry Dermawan, memandu finalis memahami cara pandang kurator festival musik dalam menilai potensi dan kesiapan musisi atau band. Sementara itu, Lafa Pratomo menjelaskan peran produser dalam membentuk karakter dan identitas karya tanpa menghilangkan arah atau karakter musik. Endah Widiastuti turut membahas cara membangun karya musikal di tengah tren dan tuntutan pasar, termasuk melalui lirik yang bercerita.
Selama sesi berlangsung, para mentor berinteraksi lebih dekat dengan finalis. Lafa Pratomo, sebagai produser, menyampaikan pandangannya bahwa musisi yang tidak berada di pusat industri justru kerap memiliki semangat kreativitas dan daya juang lebih tinggi dalam berkarya. Ia menilai kemampuan produksi para finalis cukup mumpuni dan berharap kehadirannya dapat memantik semangat mereka untuk terus berkarya.
Kukuh Rizal juga menilai pertemuan dengan musisi-musisi baru berenergi besar menjadi pengalaman yang menyenangkan. Ia melihat keseriusan para finalis dalam setiap sesi dan menilai Bintang Muda Lokananta berperan sebagai jembatan yang mempertemukan potensi sekaligus membuka ruang penemuan baru bagi perkembangan musik Indonesia. Menurutnya, potensi para finalis tidak hanya soal bakat, tetapi juga kemauan untuk menyusun sistem manajemen dalam rencana jangka panjang dan membuktikan diri lewat karya.
Program ini turut mendapat perhatian dari Direktur Musik Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Dr Mohammad Amin, M.Sn., M.A., yang hadir sebagai salah satu narasumber. Ia mengapresiasi BML Vol. 2 karena dinilai sejalan dengan upaya pengembangan talenta musik Indonesia, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan program pendanaan Akselerasi Kreatif (AKTIF) Musik.
“Peran musisi tidak hanya berkarya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan dampak ekonomi dan sosial bagi komunitasnya,” kata Mohammad Amin. Ia menyebut melalui AKTIF Musik, kementerian mengajak musisi memahami ekosistem yang lebih luas serta mengakses peluang yang tersedia. “Pendekatan ini penting agar para musisi tidak hanya siap secara kreatif, tetapi juga memiliki kapasitas berjejaring dan memanfaatkan berbagai dukungan yang ada, sehingga karya mereka dapat membawa dampak yang lebih luas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dari sisi peserta, salah satu finalis, Tuan Sendiri, mengatakan sesi mentoring membuka perspektif baru dan memperluas jejaring. Ia bahkan menyebut terjadi kolaborasi spontan di Lokananta antara dirinya dan Risti Panjali, alumni BML Vol. 1, saat sesi mentoring berlangsung. Menurutnya, proses tersebut menyenangkan dan memperkaya sudut pandang dalam bermusik.
“Melalui sesi mentoring, saya mendapatkan banyak ilmu secara langsung dari para mentor. Materi tersebut membantu saya dalam menjalani proses pembuatan karya di Lokananta, yang dipenuhi berbagai cerita dan sejarah musik sehingga menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Menjadi sebuah kebanggaan karena orang-orang hebat di industri musik bisa ikut berkontribusi dalam proses pembuatan karya,” katanya.
Dengan rangkaian mentoring, jejaring, dan dukungan lintas lembaga, BML Vol. 2 menyiapkan finalis tidak hanya untuk rekaman, tetapi juga untuk menapaki jalur profesional dengan bekal pengetahuan, jaringan, dan semangat baru. Program ini merupakan inisiatif Lokananta yang didukung penuh oleh PT Danareksa (Persero) dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), sebagai upaya mendukung regenerasi ekosistem musik Indonesia.
Lima finalis Bintang Muda Lokananta Vol. 2 yang terpilih adalah Tuan Sendiri (Bandung), Gardenia (Banjarnegara), BeverlyLine (Semarang), Barmy Blokes (Surakarta), dan Drewgon (Maluku Tenggara).