BERITA TERKINI
Benarkah Senyum Bisa Membuat Kita Lebih Bahagia? Ini Temuan Sejumlah Studi

Benarkah Senyum Bisa Membuat Kita Lebih Bahagia? Ini Temuan Sejumlah Studi

Banyak orang akrab dengan nasihat untuk tetap tersenyum, bahkan ketika suasana hati sedang buruk. Senyum kerap dianggap sebagai cara sederhana untuk menenangkan diri dan menjaga emosi tetap stabil. Namun, pertanyaannya: apakah senyum—termasuk yang dibuat-buat—benar-benar bisa membuat seseorang lebih bahagia?

Sejumlah penelitian telah mencoba menguji gagasan tersebut. Hasilnya, selama bertahun-tahun, sains belum mencapai kesimpulan yang benar-benar bulat.

Studi awal: senyum “dipaksa” dan respons emosi

Salah satu riset pionir pada 1988 menguji partisipan dengan cara memancing ekspresi senyum. Dalam eksperimen itu, peserta diminta menempatkan pulpen di mulut untuk membentuk senyum secara tidak langsung. Sebagai pembanding, ada kelompok lain yang diarahkan mempertahankan ekspresi netral dengan cara memegang pulpen di bibir.

Hasilnya, peserta yang tidak sadar bahwa mereka sedang tersenyum tampak lebih senang saat ditunjukkan karakter kartun dibanding kelompok yang sejak awal berekspresi netral.

Hasil yang sulit diulang

Meski temuan awal tersebut sempat menjadi rujukan populer, meta-analisis pada 2016 menyatakan hasil serupa tidak dapat direplikasi. Ini berarti klaim “senyum bikin bahagia” belum terbukti sepenuhnya.

Selanjutnya, tinjauan penelitian yang dipublikasikan pada 2019 menyimpulkan bahwa senyum memang dapat memengaruhi emosi, tetapi dampaknya sangat kecil.

Eksperimen lintas negara: 3.800 responden dari 19 negara

Di tengah belum adanya konsensus, ilmuwan dari berbagai kampus di dunia yang dipimpin Nicholas A. Coles melakukan riset berskala besar untuk menilai efek senyum terhadap emosi. Penelitian ini melibatkan sekitar 3.800 responden dari 19 negara, dengan desain eksperimen yang mirip studi 1988, tetapi tanpa menggunakan kartun.

Untuk meminimalkan campur tangan dan bias, peserta tidak diberi tahu bahwa penelitian berkaitan dengan senyum. Tim peneliti menggunakan skenario samaran, seolah-olah mereka mempelajari pengaruh gerakan kecil dan distraksi terhadap kemampuan pemecahan matematika. Peserta menerima instruksi pancingan, misalnya menggerakkan bagian tubuh tertentu atau melakukan gerakan sederhana dalam durasi tertentu.

Tiga jenis tugas yang menguji senyum

Dalam eksperimen ini, peserta menjalani beberapa tugas yang dirancang memunculkan atau menahan ekspresi wajah, antara lain:

  • Tugas pulpen di mulut: peserta meletakkan pulpen di antara gigi atau menahannya dengan bibir, meniru metode studi 1988 dengan penyesuaian.

  • Tugas meniru foto: peserta meniru foto aktor yang tersenyum atau mempertahankan ekspresi kosong/netral.

  • Tugas gerakan wajah: peserta diminta memasang ekspresi senang, misalnya dengan sedikit mengangkat bibir atau pipi, atau mempertahankan postur wajah kaku.

Setelah setiap tugas, peserta mengerjakan soal matematika sederhana, mengisi kuesioner kebahagiaan dan kecemasan, serta survei tentang kemarahan, kelelahan, dan kebingungan. Rangkaian pertanyaan tambahan ini digunakan untuk membantu “mengaburkan” tujuan penelitian.

Apa hasilnya?

Penelitian tersebut menemukan bahwa perasaan bahagia meningkat dalam setiap intervensi yang melibatkan senyum. Namun, besarnya efek berbeda-beda: peningkatan lebih besar muncul pada tugas meniru ekspresi dan gerakan wajah dibanding tugas pulpen-di-mulut.

Para peneliti menuliskan bahwa hasil ini sejalan dengan meta-analisis sebelumnya: umpan balik wajah bukan hanya dapat memperkuat perasaan bahagia yang sedang berlangsung, tetapi juga dapat memunculkan perasaan bahagia dalam konteks yang netral.

Kemungkinan celah: tugas aktif vs tugas pasif

Meski demikian, peneliti juga mencatat potensi celah dalam eksperimen. Ada kemungkinan tugas yang lebih aktif—seperti meniru ekspresi—lebih menarik dan tidak membosankan dibanding tugas pasif seperti mempertahankan tatapan kosong. Perbedaan tingkat kebosanan ini bisa saja memengaruhi penilaian kebahagiaan.

Untuk mengontrol kemungkinan tersebut, peneliti membandingkan tugas ekspresi netral dengan tugas umpan aktif. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa tersenyum memberi dampak pada kebahagiaan yang lebih besar dibanding aktivitas sederhana lain yang juga melibatkan gerakan otot.

Apakah senyum bekerja tanpa rangsangan positif?

Dalam eksperimen itu, setengah peserta juga diperlihatkan serangkaian gambar optimistis selama tugas tersenyum. Tujuannya untuk menguji apakah efek senyum lebih besar ketika ada rangsangan positif.

Hasilnya, peningkatan kebahagiaan tetap muncul baik ketika ada maupun tidak ada rangsangan emosional—menunjukkan bahwa efek tersebut dapat terjadi hanya dengan modal senyum.

Kesimpulan sementara: efeknya ada, tetapi kecil

Peneliti mengajukan kemungkinan penjelasan: berpura-pura tersenyum dapat memengaruhi suasana hati karena seseorang menyimpulkan dirinya bahagia saat tersenyum, atau karena senyum otomatis mengaktifkan proses biologis yang terkait dengan emosi.

Namun, mereka juga menekankan bahwa efek umpan balik wajah relatif kecil. Ada kemungkinan efek kecil itu terakumulasi menjadi perubahan yang berarti bagi kesejahteraan dalam jangka panjang, meski para peneliti menilai hal tersebut belum tentu akan menjadi intervensi kesejahteraan yang serius.

Dengan kata lain, senyum berpotensi memengaruhi perasaan bahagia, tetapi dampaknya tidak besar dan masih menyisakan ruang perdebatan ilmiah.