BERITA TERKINI
BandungBergerak Umumkan Esai Terpilih Februari 2025: Darurat Militer, Ejekan Kelas di Bandung, hingga Ganja Medis

BandungBergerak Umumkan Esai Terpilih Februari 2025: Darurat Militer, Ejekan Kelas di Bandung, hingga Ganja Medis

BandungBergerak.id mengumumkan Esai Terpilih Februari 2025 setelah sepanjang 1–28 Februari 2025 menayangkan 28 esai dan dua tulisan narasi kiriman dari Kawan Bergerak. Sejumlah tulisan di antaranya merupakan kiriman mahasiswa dalam tajuk “Mahasiswa Bersuara”.

Redaksi menyampaikan apresiasi kepada para penulis yang mempercayakan karyanya dimuat di laman BandungBergerak. Menurut BandungBergerak, setiap tulisan yang masuk memiliki ragam tema, gaya penulisan, sudut pandang, dan argumentasi yang memperkaya khazanah literasi maupun pengetahuan dari pengalaman personal penulis.

BandungBergerak menegaskan pengumuman Esai Terpilih bulanan bukan ajang memilih esai “terbaik” yang menafikan karya lainnya. Dalam pengumuman Februari 2025, terdapat tiga Esai Terpilih, terdiri dari dua esai opini dan satu esai “Mahasiswa Bersuara”.

Esai pertama berjudul “Di Atas Normal, Uraian Singkat Mengenai Darurat Militer” karya Andi Daffa Patiroi, Asisten Pengabdi Bantuan Hukum di Lembaga Bantuan Hukum Bandung. Dalam esainya, Andi mengulas darurat militer secara historis dan hukum, serta menilai kondisi darurat—dengan berbagai istilah seperti keadaan darurat atau state of emergency—berisiko bagi demokrasi dan masyarakat sipil karena subjektivitas penguasa dapat menjadi penentu jalannya pemerintahan. Ia juga menyinggung pengalaman Indonesia, termasuk deklarasi darurat militer di Aceh pada Mei 2003 yang disebutnya berujung pada serangkaian pelanggaran berat hak asasi manusia.

Esai kedua berjudul “Anak Kabupaten, Ejekan, dan Masalah Kelas di Bandung” karya Arfi Pandu Dinata, pegiat dialog lintas iman. Arfi menyoroti segregasi kelas di Bandung yang memunculkan berbagai ejekan seperti jamet, anak kabupaten, the nuruls, the nopals, dan warga Bandung coret. Namun, ia memandang kelompok yang kerap menjadi sasaran ejekan itu sebagai urang Bandung yang melawan budaya dominan yang memproduksi etika dan estetika yang memiskinkan. Dalam esainya, Arfi menilai mereka membutuhkan ruang publik dan sedang merebutnya, misalnya dengan berkumpul di alun-alun kota atau di pinggir jalan. Ia juga menyebut kemiskinan yang dialami sebagai bukti status mereka sebagai warga yang terdampak pembangunan di Bandung Raya.

Esai ketiga merupakan tulisan “Mahasiswa Bersuara” berjudul “Potensi Tanaman Ganja Medis untuk Kesehatan, Peluang atau Tantangan?” karya Anastasia Stella Netanya S, mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung. Stella menulis artikel ilmiah tentang potensi tanaman ganja medis dan berpendapat hukum di Indonesia semestinya mencerminkan keberanian beradaptasi, bukan sekadar warisan yang membatasi inovasi. Ia menilai Cannabis sativa yang kerap dipandang sebagai ancaman menyimpan harapan dalam bidang kesehatan, namun isu pemanfaatannya sebagai pengobatan berulang kali tertutup kontroversi tanpa kemajuan penelitian yang berarti. Stella juga menyebut sejumlah negara seperti Argentina, Australia, Finlandia, Kanada, Kroasia, Inggris, Selandia Baru, Siprus, Thailand, dan lainnya telah melegalkan ganja medis, serta menuliskan bahwa World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunaan ganja untuk keperluan medis.

BandungBergerak menyatakan esai-esai kiriman penulis menegaskan tulisan masih menjadi medium untuk menyampaikan gagasan maupun kritik. Bagi BandungBergerak, kontribusi penulis dinilai berarti bagi keberlangsungan demokrasi, kebebasan berekspresi, dan ruang bagi opini kritis di hadapan publik.

Komunitas BandungBergerak, KawanBergerak, akan menghubungi para penulis Esai Terpilih untuk mengatur pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan, dengan biaya pengiriman ditanggung BandungBergerak. Penulis juga dapat berinisiatif menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor 082119425310. BandungBergerak turut membuka pengiriman esai melalui alamat surel bandungbergerak.id@gmail.com.