BERITA TERKINI
BandungBergerak Umumkan Esai Terpilih Agustus 2025, Angkat Isu Bendera One Piece hingga Batas Pakar dan Pemengaruh

BandungBergerak Umumkan Esai Terpilih Agustus 2025, Angkat Isu Bendera One Piece hingga Batas Pakar dan Pemengaruh

BandungBergerak mengumumkan Esai Terpilih Agustus 2025 dari kanal Esai, setelah sepanjang bulan tersebut menayangkan 41 opini karya penulis dari dalam maupun luar Bandung. Tulisan-tulisan yang terbit disebut memiliki keragaman tema dan gaya penulisan.

Redaksi menegaskan pengumuman bulanan ini bukan ajang pemilihan esai terbaik. Seluruh tulisan yang masuk ke kanal Esai BandungBergerak dinilai sebagai khazanah yang memperkaya diskusi kritis dan ilmu pengetahuan.

Melalui rapat redaksi, BandungBergerak menetapkan beberapa esai terpilih beserta ulasan singkatnya. Salah satunya berjudul “Joget di Senayan, Bayang Pemakzulan, dan Bendera Bajak Laut” karya Abah Omtris, musikus balada Bandung. Dalam esai tersebut, Omtris menyoroti DPR yang menyetujui kenaikan pendapatan mereka sendiri di tengah situasi rakyat yang disebut sedang tertekan oleh pajak, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan ancaman resesi, hingga memicu aksi turun ke jalan. Omtris juga menulis soal kemunculan simbol budaya pop dalam demonstrasi, yakni bendera bajak laut One Piece yang disebut pertama kali dikibarkan kalangan sopir truk sebelum merembes ke berbagai gerakan sosial.

Esai terpilih berikutnya adalah “Renaisans Sastra Sunda dan Ajip Rosidi” karya Salehudin, dosen ISBI Bandung. Salehudin menekankan peran sastra dalam lahirnya Renaisans, dengan merujuk pada periode yang melahirkan sastrawan besar dunia seperti Dante Alighieri, Francesco Petrarcha, Niccolò Machiavelli, hingga William Shakespeare. Dalam catatannya mengenai khazanah Sastra Sunda, ia menyebut periodisasi sastra memiliki beberapa versi, antara lain dari R. I. Adiwidjaja, M. A. Salmun, dan Ajip Rosidi, yang masing-masing memandang dari sudut berbeda. Esai ini mengetengahkan renaisans dalam kesusastraan Sunda, terutama dalam pandangan Ajip Rosidi.

BandungBergerak juga memilih esai “MAHASISWA BERSUARA: Konten Makanan Viral Hanya Memberi Dampak Negatif pada Konsumen dan Pelaku Usaha” karya Elsa Abigail Susan Manueke, mahasiswa teknologi rekayasa pangan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung. Elsa membahas dampak negatif Fear Of Missing Out (FOMO) dan dorongan mengunggah konten makanan viral di media sosial. Menurutnya, situasi tersebut mendorong konsumen membeli produk meski harganya dianggap tidak wajar. Ia juga menilai UMKM yang tidak memiliki kekuatan promosi sebanding dengan figur publik dan viralitas media sosial menjadi sulit bersaing, bukan karena kualitas, melainkan karena kalah membentuk persepsi nilai di mata konsumen.

Esai lain yang masuk daftar terpilih ditulis Farhan M Adyatma, siswa di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Malang. Dalam tulisannya, Farhan membahas fenomena buzzer (pendengung) dan influencer (pemengaruh). Ia mengajak pembaca mempertanyakan pihak yang lebih dipercaya di era ketika suara seseorang bisa viral karena cara bicaranya menarik: mereka yang belajar bertahun-tahun atau mereka yang pandai berbicara di depan kamera.

BandungBergerak menyampaikan bahwa esai-esai kiriman para penulis menegaskan tulisan masih menjadi medium untuk menyampaikan gagasan maupun kritik. Bagi BandungBergerak, esai-esai tersebut disebut sebagai dukungan bagi keberlangsungan demokrasi, kebebasan berekspresi, dan kebebasan beropini, khususnya dalam menghadirkan opini-opini kritis ke hadapan publik.

Komunitas KawanBergerak akan menghubungi para penulis Esai Terpilih untuk mengatur pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan, dengan biaya pengiriman ditanggung BandungBergerak. Para penulis juga dapat berinisiatif menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor telepon 082119425310.