BERITA TERKINI
Bambang Paningron Bahas Tantangan Seni Pertunjukan dan Ruang Dialog Tradisi-Kontemporer

Bambang Paningron Bahas Tantangan Seni Pertunjukan dan Ruang Dialog Tradisi-Kontemporer

Budayawan sekaligus pendiri Festival Asiatri, Bambang Paningron, menjadi tamu dalam episode terbaru Putcast. Dalam perbincangan bersama Kepala Suku Mojok, ia mengulas beragam sisi dunia seni pertunjukan Indonesia, mulai dari persoalan mitos dan legitimasi kekuasaan hingga perubahan bentuk teater rakyat.

Bambang juga menyinggung perjuangan tari kontemporer yang tetap bertahan di tengah keterbatasan ruang dan minimnya dukungan negara. Menurutnya, kondisi tersebut membuat seniman kerap bekerja dalam situasi yang tidak ideal, namun tetap berupaya menjaga keberlangsungan praktik dan gagasan kesenian.

Dalam obrolan itu, ia turut menyoroti ekosistem seni di Yogyakarta dan Solo. Dua poros kebudayaan Jawa ini dinilai memiliki karakter yang berbeda, tetapi tetap terhubung erat. Bambang menilai institusi tradisional seperti keraton memegang peran ganda dalam kehidupan kesenian: menjadi sumber nilai dan inspirasi, sekaligus berpotensi membatasi kebebasan berekspresi karena adanya kekuasaan kultural yang melekat.

Karena itu, Bambang menekankan pentingnya ruang dialog antara tradisi dan kontemporer. Ia memandang dialog semacam ini diperlukan agar seni dapat terus hidup, merespons perubahan, dan beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan akar.

Selain membahas ekosistem seni, Bambang juga menyoroti situasi seniman hari ini di tengah hiruk-pikuk industri hiburan. Ia menggambarkan banyak pelaku seni masih berjuang menjaga keikhlasan dan pengabdian. Baginya, menjadi seniman berarti memilih “jalan sunyi”, sebuah pilihan hidup yang memberi makna tersendiri.

Melalui kisah dan pemikirannya, Bambang mengajak pendengar melihat tari bukan sekadar rangkaian gerak yang indah. Ia menempatkan tari sebagai cara bangsa berpikir dan berdialog dengan sejarah—sebuah cermin yang menghubungkan tubuh, tradisi, dan pikiran dalam perjalanan seni pertunjukan, sekaligus memuat dimensi perlawanan dan kesadaran.

Festival Asiatri yang didirikannya disebut sebagai ajang seni tari lintas negara yang mempertemukan seniman dari lebih dari tiga puluh negara di Asia, Eropa, dan kawasan lainnya. Kehadiran festival tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pertemuan gagasan dan praktik seni di tingkat internasional.