BANDUNG — Program Studi Seni Tari, Jurusan Tari, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung kembali menggelar Bandung Contemporary Dance Competition (BACODACO) 2025 di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung. Kompetisi tahunan ini mengusung tema “Tradition Moves: Tubuh, Silat, dan Eksplorasi Kekinian” dan menjadi ruang aktualisasi gagasan serta pengembangan potensi seniman tari dari berbagai perguruan tinggi seni maupun non-seni, serta komunitas tari di seluruh Indonesia.
Pada penyelenggaraan tahun ini, BACODACO memfokuskan perhatian pada tari kontemporer berbasis Pencak Silat. Tema tersebut diposisikan sebagai upaya konseptual untuk menjembatani tradisi lokal dengan semangat eksperimen seni kontemporer. Melalui pendekatan itu, kompetisi tidak hanya menampilkan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong koreografer menafsirkan ulang gerak, filosofi, dan narasi Pencak Silat dalam konteks koreografi kontemporer.
Dalam kerangka tersebut, tradisi dipandang bukan sebagai sesuatu yang statis, melainkan sumber daya yang dinamis dan terbuka untuk reinterpretasi. Dr. Alfiyanto, S.Sn., M.Sn., yang disebut sebagai salah satu maestro tari kontemporer Jawa Barat, menilai BACODACO berperan penting dalam mendorong proses kreatif yang reflektif. Ia menyebut ajang ini memberi kesempatan peserta untuk membaca ulang Pencak Silat secara lebih mendalam, tidak berhenti pada bentuk formalistiknya, dengan harapan lahir karya yang estetis sekaligus kaya makna.
Penyelenggara juga menempatkan isu sebagai fondasi untuk memperkuat ide dan karakter karya. Isu yang diangkat tidak harus selalu sosial atau politik, tetapi dapat pula berangkat dari refleksi internal seni tari. Isu dapat bersifat personal, lokal, maupun global, selama relevan dengan konteks zamannya. Dengan tubuh sebagai medium ekspresi, karya tari diharapkan tidak hanya menonjolkan narasi atau keindahan visual, tetapi juga berinteraksi dengan realitas sosial dan budaya.
Salah satu indikator penilaian yang ditekankan adalah nilai kebaruan. Kebaruan dimaknai tidak semata sebagai penciptaan bentuk yang sepenuhnya baru, melainkan juga kemampuan mengolah elemen lama menjadi sesuatu yang segar dan relevan dengan kondisi kekinian. Inovasi dapat muncul melalui pengelolaan relasi tubuh, ruang, waktu, isu yang diangkat, hingga penggunaan media dan struktur dramatik yang memperkaya pengalaman estetis dan intelektual.
Dengan fokus tersebut, BACODACO 2025 diposisikan sebagai ruang dialektika antara tradisi dan inovasi, tubuh dan konteks, serta ekspresi dan refleksi. Ajang ini juga menjadi sarana pertemuan berbagai komunitas tari dan perguruan tinggi seni untuk bertukar pengalaman, ide, dan pendekatan dalam pengembangan tari kontemporer.
Salah satu karya yang disebut mencuri perhatian adalah “UING” dari komunitas Wajiwa. Karya ini dinilai memperlihatkan kemungkinan fusi tari kontemporer dengan elemen tradisi lokal seperti Pencak Silat, yang diolah dalam perspektif lebih modern dan relevan. Melalui kompetisi ini, ISBI Bandung dan para peserta berharap pengembangan tari kontemporer berbasis budaya lokal semakin menguat sebagai identitas seni Indonesia.

