Arus dana asing di pasar saham berbalik arah setelah empat pekan mencatatkan inflow. Dalam sepekan terakhir, aliran dana asing berubah menjadi outflow sebesar US$254 juta, setelah sebelumnya membukukan inflow kumulatif US$680 juta. Perubahan ini antara lain dipengaruhi aksi unjuk rasa pada pekan lalu, meski pada pekan ini muncul tanda-tanda situasi mereda.
Di sisi transaksi, investor asing melanjutkan langkah mengurangi risiko pada saham bank berkapitalisasi besar. Penjualan bersih tercatat pada BBCA sebesar US$195 juta secara mingguan (year-to-date: US$1,4 miliar) dan BMRI sebesar US$45 juta (year-to-date: US$814 juta).
Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap mampu ditutup menguat 0,5% dalam sepekan. Kenaikan indeks ditopang saham-saham sektor logam, antara lain ANTM yang naik 12% secara mingguan, AMMN 3%, dan MDKA 6%. Penguatan juga terlihat pada sejumlah saham grup konglomerasi seperti DSSA yang naik 7%, EMTK 7%, dan SMMA.
Secara sektoral, kinerja terbaik dicatat sektor unggas yang naik 6% dalam sepekan, disusul minyak dan gas 5% serta logam 5%. Sementara itu, sektor domestik berkapitalisasi besar cenderung tertinggal, dengan sektor perbankan turun 1% dalam sepekan, serta sektor telekomunikasi turut disebut sebagai yang berkinerja lemah.
Sektor konsumer menjadi salah satu sektor domestik yang masih membukukan kinerja positif, naik 2% dalam sepekan. Dari sisi valuasi, sektor ini dinilai semakin menarik dengan rasio P/E 11,9 kali, atau berada di level -1,5 standar deviasi dibanding rata-rata lima tahun, setelah mengalami pelemahan 14% secara year-to-date.
Pada sektor unggas, momentum harga livebird berlanjut dan dinilai membantu mengimbangi tekanan kenaikan biaya pakan. Harga livebird menembus Rp20.000 per kilogram pada pekan terakhir Agustus 2025, naik 8,6% secara mingguan menjadi Rp20.100 per kilogram.
Di saat yang sama, tekanan biaya pakan masih berlangsung. Harga jagung naik 5,2% secara mingguan, sementara harga soybean meal (SBM) relatif lebih lunak di kisaran US$290 per ton. Kenaikan harga livebird yang kini berada di atas Rp20.000 per kilogram dinilai dapat membantu mengimbangi kenaikan biaya pakan, terutama dari kenaikan harga jagung lokal.
Tren positif harga livebird tersebut disebut didukung oleh peningkatan belanja pemerintah dan kelanjutan pelaksanaan program MBG, yang diperkirakan berlanjut dan dampaknya akan tercermin lebih penuh pada kinerja kuartal IV 2025. Untuk sektor unggas, disebutkan rating Overweight dengan CPIN sebagai pilihan utama, dengan rekomendasi Buy dan target harga Rp6.400.
Di segmen ritel, MAPA dinilai sedang menyiapkan fondasi untuk pemulihan yang lebih kuat pada kuartal IV 2025 dan periode setelahnya. Namun, prospek kuartal III 2025 masih dipandang dengan kehati-hatian meski penjualan Juli 2025 dinilai berjalan cukup baik, karena program promosi ‘Buy1 Get1’ diperkirakan berdampak pada GPM.
Pemulihan yang lebih berarti diperkirakan terjadi pada kuartal IV 2025, didorong faktor musiman akhir tahun, sementara konsolidasi disebut tetap menjadi fokus. Proyeksi yang digunakan tetap konservatif, dengan estimasi pertumbuhan EPS FY25-26 masing-masing 13% dan 23%. Rekomendasi Buy dipertahankan, namun target harga diturunkan menjadi Rp800.
Sementara itu, harga batu bara Indonesia bergerak sedikit lebih rendah dibanding pekan sebelumnya. Indeks ICI3 dan ICI4 masing-masing ditutup di US$58 dan US$43 per ton. Meski harga domestik cenderung datar, proses destocking pada persediaan di China disebut masih berlanjut sejalan pola musiman historis, sehingga membuka peluang dimulainya restocking musiman pada akhir kuartal III 2025 atau awal kuartal IV 2025.

