“Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat, dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran pasti terancam”. — Wiji Thukul
Apatisme mahasiswa kerap disebut sebagai penyebab berbagai persoalan kampus tak kunjung terselesaikan. Sejumlah isu, baik yang berkaitan dengan rektorat maupun pemerintahan kemahasiswaan, sering berakhir menjadi bahan perbincangan tanpa tindak lanjut yang jelas. Dalam situasi ini, pertanyaan yang muncul kemudian: apatisme itu salah siapa?
Pemilwa dan Minimnya Partisipasi
Salah satu gambaran apatisme mahasiswa terlihat dalam penyelenggaraan pemilihan mahasiswa (pemilwa). Sebuah pemberitaan menyebut KPU Pemilwa UAD menyiapkan 8.000 kertas suara untuk pemilwa 2019. Angka ini kontras dengan jumlah mahasiswa UAD yang disebut mencapai 32.000 orang berdasarkan data dari Wakil Rektor III.
Jika dibandingkan, jumlah surat suara yang disediakan bahkan tidak mencapai setengah dari total mahasiswa. Pada pemilwa tahun sebelumnya, jumlah surat suara disebut lebih sedikit lagi, yakni 6.000. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang seberapa “meriah” pesta demokrasi kampus jika partisipasi yang diperkirakan terjadi relatif kecil.
Mahasiswa Kerap Disalahkan
Dalam situasi partisipasi rendah, mahasiswa yang tidak ikut memilih kerap dituding tidak peduli, apatis, atau sekadar menjalani rutinitas “kuliah–pulang”. Di sisi lain, aktivis kampus dan organisasi mahasiswa merasa telah berupaya mengajak mahasiswa lain terlibat, sehingga muncul anggapan bahwa rendahnya partisipasi sepenuhnya kesalahan individu mahasiswa.
Dua Faktor Penyebab Apatisme
Apatisme mahasiswa dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, faktor internal, yakni sikap individu yang memang acuh atau enggan terlibat. Namun, ada faktor kedua yang dinilai tidak kalah penting, yakni faktor eksternal yang memengaruhi perilaku dan komitmen mahasiswa.
Untuk menggambarkan faktor eksternal ini, penulis membandingkannya dengan pemilu nasional 2019. Berdasarkan data yang disebut berasal dari katadata.com, Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan ke-2 (DPTHP-2) berjumlah 192,83 juta jiwa, dengan surat suara masuk sebanyak 154.257.601. Angka tersebut menunjukkan partisipasi yang besar, sehingga pemilu nasional lebih mudah dipahami sebagai sebuah “pesta demokrasi” karena keterlibatan publiknya tinggi.
Mengapa Antusias di Pemilu Nasional, Tidak di Pemilwa Kampus?
Perbandingan itu memunculkan pertanyaan lanjutan: mengapa sebagian orang—termasuk mahasiswa—bisa berpartisipasi dalam pemilu nasional, tetapi tidak dalam pemilwa kampus?
Salah satu jawabannya adalah persepsi manfaat. Dalam pemilu nasional, pemilih merasa suaranya berpengaruh terhadap arah kehidupan mereka dalam lima tahun ke depan. Sementara dalam pemilwa kampus, ada mahasiswa yang mempertanyakan dampak nyata dari memilih presiden mahasiswa. Jika kepemimpinan dan program kerja tidak terasa manfaatnya, partisipasi pun cenderung melemah.
Kritik terhadap Kinerja Organisasi Mahasiswa
Rendahnya minat memilih juga dikaitkan dengan penilaian bahwa program kerja organisasi mahasiswa cenderung berulang dan kurang menyentuh kebutuhan mahasiswa. Kritik diarahkan pada kecenderungan kegiatan yang dianggap monoton, serta pemanfaatan kedekatan dengan pihak kampus yang dinilai belum maksimal untuk membahas isu-isu yang beredar di kalangan mahasiswa.
Selain itu, muncul penekanan bahwa dana yang digunakan dalam kegiatan organisasi mahasiswa pada dasarnya berasal dari mahasiswa, sehingga manfaatnya semestinya kembali kepada mahasiswa.
Perlu Evaluasi dan Kerja Nyata
Alih-alih hanya menyalahkan mahasiswa yang dianggap apatis, penulis menilai perlu ada evaluasi dari lembaga-lembaga kemahasiswaan—baik eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun badan lain—agar kembali bekerja untuk kepentingan mahasiswa, bukan semata untuk universitas atau sebatas memenuhi formalitas program kerja.
- Meninjau ulang program kerja agar lebih relevan dan berdampak.
- Menguatkan peran BEM sebagai fasilitator dan penghubung aspirasi mahasiswa.
- Mendorong aksi nyata sebagai cara membangun kepercayaan, bukan sekadar nasihat.
Pada akhirnya, harapannya kepemimpinan mahasiswa yang terpilih mampu menjadi pelindung dan penghubung aspirasi, serta hadir sebagai tempat mahasiswa menyampaikan keluhan atas persoalan yang mereka hadapi di kampus. Pesannya jelas: tetap bergerak, namun juga memastikan arah gerak itu tidak melenceng agar tenaga yang dikeluarkan tidak sia-sia.

