BERITA TERKINI
Angel Pieters Perkenalkan “Garis Tangan”, Lagu tentang Ikhlas Melepas dan Berdamai dengan Takdir

Angel Pieters Perkenalkan “Garis Tangan”, Lagu tentang Ikhlas Melepas dan Berdamai dengan Takdir

Penyanyi Angel Pieters merilis karya terbaru berjudul Garis Tangan, lagu yang mengangkat tema keikhlasan melepas seseorang serta upaya berdamai dengan takdir. Lagu tersebut diperkenalkan dalam sebuah acara di Teater Salihara pada Selasa, 14 April 2026.

Dalam kesempatan itu, Angel untuk pertama kalinya membagikan cerita di balik proses kreatif Garis Tangan. Lagu ini resmi tersedia di berbagai platform streaming digital mulai Jumat, 17 April 2026.

Angel menyebut Garis Tangan sebagai refleksi perjalanan emosional yang dekat dengan pengalaman banyak orang. “Lagu ini tentang keikhlasan melepas seseorang dan keberanian untuk mengucapkan selamat tinggal, meskipun hati masih ingin bertahan,” ujarnya.

Menurut Angel, lagu ini tidak hanya berbicara tentang perpisahan, tetapi juga penerimaan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali manusia. Ia menggambarkan kondisi seseorang yang pada akhirnya memilih pasrah dan berserah pada kehendak Tuhan. “Kadang kita sudah berusaha sekuat mungkin, tapi tidak semua hal bisa kita kendalikan, termasuk kepada siapa takdir membawa seseorang,” kata Angel.

Angel Pieters bukan nama baru di industri musik Indonesia. Penyanyi yang kini berusia sekitar 28 tahun ini memulai karier sejak kecil melalui ajang Idola Cilik. Sejak itu, ia dikenal luas lewat kemampuan vokalnya dan kerap membawakan lagu-lagu bernuansa rohani.

Dalam beberapa waktu terakhir, Angel mulai mengeksplorasi karya pop sebagai bentuk ekspresi baru. Ia menilai perbedaan genre tidak mengubah makna personalnya dalam bermusik. “Buat saya, mau lagu rohani atau pop, tetap sama. Menyanyi itu sesuatu yang spiritual,” ujarnya dalam sesi wawancara. Ia juga menegaskan bahwa bermusik baginya bukan semata soal popularitas, melainkan bentuk ekspresi dan “pelayanan” yang telah ia jalani sejak kecil.

Perjalanan hidup, termasuk perannya sebagai ibu dan dukungan keluarga, disebut menjadi salah satu titik balik yang membuatnya kembali aktif berkarya. Angel juga membangun platform personal bernama Nocturne sebagai ruang eksplorasi musikal yang ia sebut lebih jujur dan intim.

Garis Tangan ditulis oleh Martinus Layardo atau TinTin dan Kamga dengan pendekatan yang sederhana namun emosional. TinTin menjelaskan, judul lagu itu menjadi simbol bahwa ada hal-hal dalam hidup yang memang sudah memiliki jalannya sendiri. “Ini bukan tentang menyerah, tapi tentang belajar menerima hal yang tidak bisa kita kontrol,” ujarnya.

Di sisi lain, Kamga menghadirkan sudut pandang berbeda dengan mempertanyakan kemungkinan melawan takdir. “Kalau kita memaksakan sesuatu, apakah bisa melawan apa yang sudah ditentukan?” kata Kamga. Perspektif ini kerap dikaitkan dengan realitas hubungan yang penuh tantangan, termasuk perbedaan keyakinan atau kondisi yang tidak memungkinkan.

Perbedaan sudut pandang tersebut membuat Garis Tangan tampil dengan lapisan makna: di satu sisi berbicara tentang kepasrahan, di sisi lain menyentuh keberanian untuk mempertanyakan dan melawan batas yang terasa sudah digariskan.

Dari sisi produksi, proses pembuatan lagu ini disebut terbilang singkat. Angel mengaku langsung tertarik saat pertama kali mendengar demo yang dibawakan tim penulis. Aransemen dibuat minimalis agar emosi lagu lebih menonjol. “Instrumennya sengaja dibuat sederhana, supaya pesan lagunya lebih sampai,” kata TinTin.

Angel menambahkan, ia merasa perlu “belajar menyanyi lagi” untuk lagu ini, bukan dari sisi teknik, melainkan dari sisi rasa. Ia berupaya membawakan lagu dengan pendekatan yang lebih jujur dan emosional, tidak sekadar performatif.

Lebih dari sekadar lagu patah hati, Garis Tangan menawarkan refleksi tentang proses menerima kenyataan. Angel berharap lagu ini dapat menjadi teman bagi mereka yang sedang berada dalam fase kehilangan. “Tidak apa-apa untuk merasakan sakit. Keikhlasan itu tidak datang dalam semalam,” ujarnya.

Bagi Angel, melepaskan bukan tanda kalah, melainkan bentuk cinta yang paling jujur ketika seseorang memilih berhenti memaksakan dan mulai menerima bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing.