BERITA TERKINI
Anak Gajah Sumatera Tari Ditemukan Mati di Tesso Nilo, Penyebab Masih Diselidiki

Anak Gajah Sumatera Tari Ditemukan Mati di Tesso Nilo, Penyebab Masih Diselidiki

Seekor anak gajah Sumatera bernama Kalistha Lestari, yang dikenal dengan nama Tari, ditemukan mati di Camp Elephants Flying Squad, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Desa Lubuk Kembang Bunga, Pelalawan, Riau, Rabu (10/09) sekitar pukul 08.00 WIB. Balai TNTN menyatakan penyebab kematian gajah betina berusia dua tahun 10 hari itu masih dalam penelusuran.

Kepala Balai TNTN Heru Sutmantoro mengatakan Tari tidak menunjukkan tanda-tanda sakit sebelum ditemukan tak bernyawa. Menurutnya, pada sore hari sebelumnya Tari masih terlihat sehat. “Kemarin sore dia masih sehat. Rupanya tadi pagi pas dicek mahout, Tari sudah tergeletak mati. Saya sangat kaget. Soalnya tidak ada tanda-tanda sakit,” kata Heru, Rabu (10/09).

Dalam keterangan Balai TNTN, pada Selasa (09/09) Tari masih memperlihatkan kondisi normal. Disebutkan Tari tampak aktif dan bermain seperti biasa, nafsu makan normal, feses baik, serta tidak menunjukkan tanda kelemasan. Balai TNTN mencatat hanya ada penurunan pada intensitas menyusu, sementara kondisi pada sore hari dilaporkan tetap stabil tanpa gejala sakit.

Namun pada Rabu pagi, seorang pawang gajah (mahout) menemukan Tari dalam keadaan berbaring tanpa gerakan dan kemudian dinyatakan mati. Pemeriksaan awal disebut tidak menemukan luka atau trauma pada tubuh, meski perut Tari terlihat sedikit menggembung.

Balai TNTN menyatakan dokter hewan telah melakukan nekropsi (bedah bangkai) dan mengambil sampel organ untuk pemeriksaan laboratorium. Sampel tersebut akan dikirim ke Bogor untuk analisis lebih lanjut guna memastikan penyebab kematian.

Penyelidikan juga dilakukan oleh Kepolisian Daerah Riau. Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Riau AKBP Nasrudin mengatakan pihaknya telah turun ke lokasi bersama BBKSDA Riau dan Balai TNTN. “Iya, anggota kami sudah turun ke lokasi, saat ini masih dalam proses penyelidikan, untuk laporan hasilnya, akan kami sampaikan,” ujarnya. Nasrudin menambahkan dugaan apakah ada unsur diracun atau tidak masih didalami.

Kabar kematian Tari memicu gelombang duka di media sosial, terutama setelah Balai TNTN mengumumkannya melalui Instagram. Sejumlah warganet menuliskan pesan belasungkawa dan mengenang Tari yang kerap muncul dalam konten-konten Balai TNTN karena tingkahnya yang dianggap lucu dan menggemaskan. Seorang penggemar Tari bernama Rumondang juga mengaku terpukul karena Tari baru berulang tahun pada akhir Agustus lalu.

Tari diketahui merupakan anak dari gajah bernama Lisa yang kawin dengan gajah liar. Balai TNTN menyebut kematian Tari menjadi kehilangan besar bagi jajaran pengelola taman nasional dan para mahout. Heru menyatakan Tari dinilai memiliki peran penting dalam perawatan serta upaya konservasi gajah Sumatera di kawasan Tesso Nilo.

Selain warganet, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan turut menyampaikan duka. Ia menyebut Tari sebagai “suara hutan Tesso Nilo yang semakin menyempit” dan menilai kepergiannya menjadi pengingat pentingnya hubungan saling menjaga antara manusia dan alam.

Kematian Tari menambah daftar kasus kematian gajah Sumatera di TNTN dalam satu dekade terakhir. Data BBKSDA Riau mencatat terdapat 23 kasus kematian gajah di kawasan tersebut selama 10 tahun terakhir, dengan angka tertinggi pada 2015 sebanyak delapan ekor. Kepala BBKSDA Riau Supartono menyebut kematian gajah disebabkan sejumlah faktor, antara lain diracun, dijerat, perburuan liar, serta penyakit.

Salah satu kasus yang sempat menjadi sorotan adalah kematian gajah latih bernama Rahman pada Januari 2024, yang diduga diracun. Dalam kasus itu, gading Rahman sebelah kiri dilaporkan dipotong dan hilang.

Di sisi lain, tekanan terhadap habitat juga menjadi persoalan di Tesso Nilo. Perambahan hutan yang berubah menjadi kebun sawit ilegal dan permukiman disebut mengancam kehidupan gajah. Kejaksaan Agung sebelumnya menyampaikan adanya dugaan korupsi terkait pengalihfungsian kawasan TNTN, termasuk temuan dokumen kependudukan dan kepemilikan tanah palsu yang beredar. Jaksa Agung ST Burhanuddin menyampaikan bahwa berdasarkan kunjungan tim Satgas PKH pada 10 Juni 2025, dari luas kawasan hutan sekitar 81.793 hektare, saat ini disebut hanya tersisa sekitar 12.561 hektare.

Hingga kini, Balai TNTN dan aparat kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium serta penyelidikan lapangan untuk memastikan penyebab kematian Tari.