Peringatan Hari Buruh atau May Day di Kota Malang, Jumat (1/5/2026), berlangsung dengan suasana berbeda. Selain diisi orasi dan penyampaian tuntutan, aksi massa kali ini turut diramaikan pertunjukan musik dari komunitas hardcore dan punk yang tampil langsung di jalan.
Di tengah kerumunan peserta aksi, suara drum dan distorsi gitar terdengar mengiringi jalannya demonstrasi. Sejumlah kolektif musik independen, antara lain Hektar, Glich, DC Threat, dan The Reackless, tampil bergantian, menjadikan jalanan sebagai panggung terbuka.
Salah satu musisi yang terlibat, Ciwen Ilusi, mengatakan kehadiran musik dalam aksi tersebut bukan semata hiburan. Menurutnya, penampilan di ruang publik merupakan bentuk ekspresi atas kondisi ruang publik yang dinilai semakin terbatas.
“Teman-teman dari berbagai kolektif memang sengaja berkumpul di momen ini. Kami ingin mengembalikan ruang publik sebagai tempat menyampaikan aspirasi. Biasanya kami tampil di ruang tertutup, sekarang kami bawa ke jalan,” ujar Ciwen, Jumat.
Ciwen menyebut, langkah tersebut juga dipengaruhi sulitnya proses perizinan dalam menyelenggarakan acara musik. “Isu besarnya soal kebebasan bersuara. Sekarang membuat acara saja terasa dipersulit. Karena itu, kami ingin menyampaikan bahwa ruang publik itu milik bersama,” katanya.
Aksi musik di tengah demonstrasi ini disebut menjadi pengalaman pertama bagi kolektif-kolektif tersebut. Meski demikian, para musisi yang tampil bukan pendatang baru, melainkan bagian dari jaringan komunitas musik alternatif di Malang.
Menurut Ciwen, respons peserta aksi—termasuk massa buruh dan mahasiswa—dinilai positif. “Tanggapannya luar biasa. Kami diapresiasi dan diberi ruang, karena semua sadar bahwa May Day ini milik semua kalangan,” ujarnya.
Seluruh perlengkapan musik yang digunakan dalam penampilan itu berasal dari swadaya para anggota kolektif. Peralatan dikumpulkan secara gotong royong tanpa dukungan sponsor. “Semua alat kami kumpulkan bersama. Ini murni dari solidaritas teman-teman,” kata Ciwen.
Koordinator lapangan Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu, Zaki, menilai kehadiran musik memberikan nuansa baru dalam aksi demonstrasi tahun ini. “Selain orasi, kami juga bisa mendengarkan musik dari kawan-kawan kolektif. Ini menambah semangat dalam aksi,” kata Zaki.