Banyak orang mendambakan hidup yang bahagia, bebas stres, dan terasa lebih ringan dijalani. Namun dalam praktiknya, kebahagiaan tidak selalu mudah dicapai. Ada kalanya seseorang sudah berusaha membahagiakan diri, tetapi tetap merasa kurang puas.
Sejumlah temuan ilmiah yang dirangkum dari laman Bustle menyoroti beberapa kebiasaan dan pendekatan yang kerap dikaitkan dengan tingkat kebahagiaan yang lebih baik. Berikut 11 kunci hidup bahagia menurut sains.
1. Optimistis
Berbagai studi menunjukkan orang yang optimistis cenderung lebih bahagia, lebih mampu melewati masa-masa sulit, dan bahkan memiliki kondisi fisik yang lebih sehat. Sikap ini dapat dilatih, misalnya dengan membuat jurnal rasa syukur, membiasakan pikiran positif, serta membangun hubungan yang sehat.
2. Memanfaatkan kemampuan dan kekuatan diri
Menggunakan kemampuan yang dimiliki juga dikaitkan dengan kebahagiaan. Studi yang disebut dalam buku The Happiness Advantage menemukan pekerja yang mengerjakan tugas sesuai keahliannya cenderung lebih bahagia dibanding mereka yang terjebak dalam rutinitas biasa.
3. Hidup pada momen saat ini (living in the moment)
Memusatkan perhatian pada apa yang sedang dijalani, tanpa terus-menerus memikirkan masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan, disebut sebagai salah satu kunci kebahagiaan. Psikolog sekaligus coach kebahagiaan Anita Marchesani menyebut riset menunjukkan orang yang lebih bahagia biasanya lebih terlibat dalam aktivitas dan berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Ia juga menyoroti distraksi seperti ponsel dan fokus berlebihan pada unggahan media sosial dapat menjauhkan seseorang dari kebahagiaan. Studi Harvard University turut menemukan bahwa orang yang tidak fokus saat beraktivitas cenderung lebih tidak bahagia dibanding mereka yang fokus.
4. “Membeli” pengalaman, bukan barang
Penelitian Cornell University menyimpulkan orang yang mengeluarkan uang untuk memperoleh pengalaman cenderung lebih bahagia dibanding mereka yang membelanjakannya untuk barang. Salah satu alasannya, kepuasan dari pengalaman dinilai dapat bertahan lebih lama, sementara pembelian benda kadang berujung penyesalan.
5. Bersyukur
Meski tidak selalu mudah, banyak penelitian mengaitkan rasa syukur dengan kebahagiaan. Bersyukur juga disebut dapat mendorong perasaan lebih positif, membantu menikmati pengalaman, meningkatkan kesehatan, serta memperkuat hubungan. Karena itu, membiasakan diri bersyukur setiap hari dinilai bermanfaat.
6. Mencurahkan perasaan lewat tulisan
Menulis dapat membantu otak memproses masalah emosional dan membuat seseorang merasa lebih bahagia. Bentuknya bisa beragam, mulai dari catatan harian hingga puisi atau lagu.
7. Menjadi relawan
Kegiatan sukarela tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga bagi diri sendiri. Ulasan dari University of Exeter Medical School menemukan relawan cenderung lebih jarang mengalami depresi, lebih sehat, dan risiko kematiannya dilaporkan turun hingga 22 persen.
8. Memiliki hubungan yang bermakna
Studi Harvard University yang berlangsung selama 75 tahun menemukan bahwa menjalin hubungan baik dengan orang lain penting untuk kebahagiaan jangka panjang. Bentuknya bisa berupa pernikahan yang bahagia, hubungan dengan orang tua, maupun dukungan sosial dari teman. Hal yang ditekankan bukan jumlah relasi, melainkan seberapa bermakna hubungan tersebut.
9. Makan sehat
Pola makan sehat bukan hanya terkait bentuk tubuh. Studi di jurnal BMC Medicine menyebut konsumsi makanan yang dianjurkan dalam diet Mediterania—seperti buah dan sayur utuh, kacang-kacangan, ikan, dan minyak zaitun—dapat menurunkan risiko depresi. Sejumlah nutrisi juga disebut dapat membantu meningkatkan suasana hati.
10. Berolahraga teratur
Olahraga disebut berkontribusi pada kebahagiaan, tidak hanya kebugaran fisik. Studi di jurnal Public Health Nutrition menyatakan olahraga teratur dapat menurunkan risiko depresi dan meningkatkan kesejahteraan. Aktivitas fisik juga dikaitkan dengan peningkatan harga diri, perbaikan suasana hati, penurunan kecemasan, ketahanan terhadap stres, serta kualitas tidur yang lebih baik.
11. Tidak menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup
Sejumlah penelitian menemukan bahwa terlalu fokus mengejar kebahagiaan justru dapat membuat seseorang merasa kurang bahagia. Karena itu, kebahagiaan disarankan tidak dijadikan target utama, melainkan hadir sebagai bagian dari proses menjalani hidup.

