Wafatnya Ibu Suri Sirikit pada 24 Oktober 2025 meninggalkan duka bagi rakyat Thailand. Di tengah kabar tersebut, perhatian publik kembali tertuju pada warisan besarnya, terutama perannya dalam dunia mode dan upaya pelestarian budaya yang turut membentuk citra Thailand di mata internasional.
Sepanjang hidupnya, Ibu Suri Sirikit dikenal bukan hanya karena keanggunannya, melainkan juga pengaruhnya dalam merumuskan identitas busana nasional Thailand. Ia kerap disebut sebagai salah satu perempuan paling bergaya, termasuk ketika menerima penghormatan di Hall of Fame New York City sebagai salah satu dari 12 perempuan berpakaian terbaik di dunia. Pengakuan itu menegaskan posisinya sebagai figur yang mampu memadukan selera global dengan akar tradisi.
Gaya berbusana Ibu Suri Sirikit dinilai mencerminkan keseimbangan antara sofistikasi internasional dan warisan Thailand. Sejumlah busana bergaya Barat yang dikenakannya dirancang oleh desainer Prancis, Pierre Balmain, yang bekerja sama dengannya selama bertahun-tahun. Dalam kolaborasi tersebut, busana diposisikan bukan semata sebagai mode, tetapi juga sebagai simbol diplomasi, kebanggaan nasional, dan ekspresi seni.
Kontribusi penting Ibu Suri Sirikit terhadap budaya Thailand terlihat dalam lahirnya busana nasional yang dikenal sebagai Thai Phra Ratcha Niyom atau “Busana Pilihan Kerajaan Thailand”. Inisiatif ini berangkat dari keprihatinannya pada awal 1960-an, saat ia menilai perempuan Thailand belum memiliki pakaian khas nasional yang setara dengan sari di India atau kimono di Jepang.
Untuk mewujudkannya, Ibu Suri Sirikit memimpin penelitian bersama sejarawan dan penjahit istana. Ia menelusuri lukisan serta foto ratu dari berbagai era kerajaan guna memahami perkembangan busana tradisional Thailand. Dari riset tersebut, lahirlah rancangan baru yang kemudian ia kenakan saat mendampingi Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) dalam kunjungan kenegaraan ke lebih dari 30 negara, sekaligus memperkenalkan identitas busana Thailand ke panggung dunia.

