Universitas Paramadina bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) membangun shelter Ruang Pulih Isolasi Mandiri bagi warga yang terpapar Covid-19 tanpa gejala (OTG) atau dengan gejala ringan.
Rektor Universitas Paramadina Prof. Dr. Didik J. Rachbini mengatakan penanggulangan pandemi membutuhkan kerja sama banyak pihak. Menurut dia, kolaborasi seluruh elemen masyarakat diperlukan agar dapat bangkit bersama menghadapi Covid-19, sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat.
Dua lokasi disiapkan untuk lima tenda
Didik menjelaskan, Universitas Paramadina menyiapkan dua lokasi untuk pembangunan shelter dengan total kapasitas lima tenda.
- Di halaman belakang kampus dapat didirikan dua tenda dengan kapasitas hingga 24 orang.
- Di lahan universitas di RW 2 Setu, Cipayung, Jakarta Timur dapat didirikan tiga tenda dengan kapasitas hingga 36 orang.
Kolaborasi lanjutan Paramadina dan PMI
Didik menambahkan, kerja sama ini bukan yang pertama antara PMI dan Universitas Paramadina. Pada awal pandemi, keduanya telah menjalankan Program Kemanusiaan 1 Juta Hygiene Pack dengan melibatkan relawan dari kalangan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, anggota pramuka, serta masyarakat sekitar kampus.
Edukasi isolasi mandiri untuk warga sekitar
Ketua PMI Sudirman Said menyatakan, kolaborasi PMI dan Paramadina tidak hanya berfokus pada pendirian fisik shelter, tetapi juga mencakup edukasi kepada masyarakat sekitar terkait pelaksanaan isolasi mandiri. Ia menyebut tujuan pembangunan shelter isolasi ini untuk mengurangi klaster keluarga dan meringankan beban rumah sakit dalam menampung pasien Covid-19.

