KEDIRI — Suasana halaman Masjid Al Masyhur di Baudendo, Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri, perlahan kembali hangat pada Minggu (19/4). Tawa anak-anak yang sempat meredup setelah tragedi pembunuhan balita berusia tiga tahun, MHM, mulai terdengar lagi melalui kegiatan trauma healing.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pemulihan bagi anak-anak yang terdampak secara psikologis atas peristiwa yang terjadi pada Rabu (15/4). Dengan pendekatan ramah anak, peserta diajak bernyanyi, bermain, hingga mengekspresikan perasaan lewat tulisan sederhana.
Program pendampingan digelar UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Kediri di bawah DP3AP2KB, bekerja sama dengan mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri. Rangkaian kegiatan dikemas interaktif, mulai dari ice breaking, bernyanyi bersama, sesi berbagi cerita, hingga journaling.
Kepala UPT PPA Kota Kediri, Suwarsi, menyebut anak-anak di RT 3 RW 6 sebagai kelompok yang paling rentan mengalami trauma karena korban merupakan bagian dari lingkungan bermain sehari-hari. “Pendampingan ini penting agar anak-anak kembali merasa aman dan nyaman, serta tidak terus dihantui bayangan kejadian tersebut,” ujarnya.
Selain pendampingan langsung, UPT PPA juga membuka layanan pengaduan 24 jam melalui UPT PPA maupun Satgas PPA. Langkah ini diperkuat dengan koordinasi rutin bersama Satgas PPA di tingkat kelurahan.
Upaya pemulihan juga menyasar lingkungan keluarga. Kabid PPA DP3AP2KB Kota Kediri, Zaki Zamani, menekankan pentingnya pola asuh untuk mencegah dampak lanjutan, termasuk penerapan kebijakan pembatasan penggunaan gawai pada anak atau PP Tunas. Menurutnya, orang tua perlu memposisikan penggunaan gawai sebagai “pinjaman”, bukan kepemilikan penuh anak. “Dengan begitu, kontrol tetap ada di orang tua sehingga penggunaan bisa lebih terarah,” jelasnya.
Sementara itu, Psikolog UPT PPA Kota Kediri, Novarida Maulidya, menegaskan pentingnya keberadaan ruang aman dalam pemulihan psikologis anak. “Ruang aman adalah kondisi di mana anak merasa diterima, dihargai, dan bebas dari tekanan,” terangnya.
Ia menambahkan, peran keluarga sangat menentukan karena anak cenderung meniru perilaku orang tua. Saat anak mengalami emosi, orang tua disarankan memberi ruang ekspresi terlebih dahulu sebelum mengajak berdialog ketika situasi sudah lebih tenang.
Melalui kegiatan trauma healing ini, anak-anak tidak hanya diajak kembali bermain, tetapi juga belajar mengenali dan menyalurkan emosi. Di akhir sesi, mereka menuliskan perasaan sebagai bagian dari proses pemulihan.
Program tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah trauma yang belum sepenuhnya pulih, anak-anak tetap membutuhkan rasa aman, perlindungan, serta kesempatan menjalani masa kecil tanpa bayang-bayang ketakutan.