BERITA TERKINI
Kolaborasi Jejak Bhumi dan Teras Nyaman di Malang Angkat Ecoprint sebagai Ruang Pulih

Kolaborasi Jejak Bhumi dan Teras Nyaman di Malang Angkat Ecoprint sebagai Ruang Pulih

MALANG — Konsep sustainable fashion bertemu isu kesehatan mental dalam kolaborasi antara jenama ecoprint Jejak Bhumi dan ruang Teras Nyaman di Bukit Dieng Regency Kav 3, Malang, Jumat (5/6/2026). Seni cetak dedaunan alami yang selama ini dikenal sebagai produk fesyen berkelanjutan diperkenalkan sebagai medium wellness, sekaligus ruang pulih melalui aktivitas seni.

Pemilik Jejak Bhumi, Anny Meilia Shofaa (55) yang akrab disapa Meilia, menuturkan perjalanannya menekuni ecoprint sejak 2016 tidak lepas dari tantangan edukasi pasar. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah persaingan harga dengan produk tiruan yang menggunakan pewarna campuran sintetis dan alami.

“Tantangannya itu kita kalah dengan yang pakai pewarna sintetis atau mix. Mereka menjual dengan harga murah, dan ternyata hari ini sebagian besar orang masih memilih harga murah daripada kualitas yang bagus dan keaslian produk,” ujar Meilia di Malang.

Meilia yang lebih banyak memproduksi ecoprint di Bali juga melihat perbedaan karakter pasar domestik dan mancanegara. Ia menjelaskan, konsumen di Indonesia cenderung menyukai hasil cetakan daun yang rapi, bersih, dan berwarna tajam, yang umumnya dihasilkan melalui teknik steaming atau pengukusan.

Berbeda dengan pasar di Bali yang menurutnya lebih menyukai teknik dirty pot dengan hasil abstrak, teknik yang ia pelajari di Australia. Meilia menilai prospek ecoprint di Bali relatif lebih baik karena wisatawan aktif mencari produk tersebut, sementara di Malang pelaku usaha perlu lebih aktif menjangkau calon pelanggan.

Di balik produk ecoprint yang bernilai tinggi, Meilia menyebut proses pembuatan yang panjang dan menguras tenaga menjadi faktor utama. Ia menggunakan beberapa teknik, mulai steaming, boiling, hingga teknik solar yang memanfaatkan panas matahari selama dua hari tanpa dipindah.

Untuk pewarnaan, Jejak Bhumi mengandalkan bahan alam. Serbuk kayu secang digunakan untuk menghasilkan warna oranye hingga marun, sedangkan kayu tegeran untuk menghasilkan warna kuning terang. Sebelum daun dicetak, kain harus melewati tahap pembersihan (scoring) dan penguncian warna (mordanting).

Setelah kain direbus atau dikukus selama sekitar dua jam, proses belum berakhir. Kain perlu didiamkan minimal tiga hari hingga maksimal satu minggu untuk oksidasi agar warna meresap sempurna sebelum akhirnya dicuci.

Meilia menambahkan, ketekunan dalam proses tersebut turut mengantarkan Jejak Bhumi mengembangkan produk turunan ke media lain seperti kulit, kanvas, hingga keramik lantai. Produk Jejak Bhumi juga disebut telah menembus pasar ekspor melalui kontrak dengan institusi fesyen internasional.