BERITA TERKINI
IHSG Turun ke 5.839, Rupiah Tembus Rp18.050 dan Sentimen Global Tekan Pasar

IHSG Turun ke 5.839, Rupiah Tembus Rp18.050 dan Sentimen Global Tekan Pasar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Kamis. IHSG ditutup turun 1,70% ke level 5.839,78 dari pembukaan 5.919,65, setelah sempat jatuh lebih dalam hingga 5.644,23. Meski berhasil memangkas sebagian pelemahan menjelang penutupan, tekanan di pasar dinilai masih kuat.

Pergerakan tersebut membuat IHSG semakin jauh dari level psikologis 6.000, setelah sebelumnya sempat bertahan di area 5.950–6.250. Rebound dari titik terendah harian memberi ruang napas sementara, namun selama indeks masih bertahan di bawah 6.000, pemulihan dinilai rentan berbalik arah jika sentimen kembali memburuk.

Tekanan terlihat menyebar ke sejumlah kelompok saham. Indeks sektor industri (IDXINDUST) mencatat penurunan terdalam, turun 4,07% ke 1.520, diikuti sektor properti (IDXPROPERT) yang melemah 3,29% ke 742. Kelompok perbankan dalam indeks INFOBANK15 turun 2,52% ke 781, sedangkan indeks teknologi (IDXTECHNO) terkoreksi 0,49% ke 6.650.

Di tengah pelemahan tersebut, beberapa indeks masih mencatat penguatan. IDXMESBUMN naik 1,11% ke 77 dan IDXSHAGROW menguat 0,57% ke 80. Namun, kenaikan terbatas ini belum mampu menahan tekanan IHSG secara keseluruhan karena pelemahan di industri, properti, dan perbankan lebih dominan.

Dari sisi makro, pelemahan rupiah yang menembus Rp18.050 per dolar AS menjadi salah satu faktor yang menambah kehati-hatian investor. Kurs yang mencetak rekor terlemah baru memunculkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap beban impor, margin emiten tertentu, serta potensi arus keluar dana asing.

Sentimen energi juga belum sepenuhnya mendukung. Meski harga minyak melemah pada Kamis, levelnya masih tinggi dengan WTI sekitar US$94,96 per barel dan Brent US$96,53 per barel. Kondisi ini menjadi perhatian bagi Indonesia sebagai importir energi, terlebih pasar tetap sensitif terhadap risiko pasokan dan jalur perdagangan energi di tengah tensi AS-Iran. Kekhawatiran investor mengarah pada potensi tekanan inflasi, pelemahan rupiah, dan risiko terhadap neraca eksternal.

DBS Group Research mencatat inflasi Indonesia pada Mei naik menjadi 3,1% (yoy) dari 2,4%, dipicu tekanan harga makanan dan energi. Meski masih berada dalam target Bank Indonesia 1,5%–3,5%, posisinya dinilai mendekati batas atas. Ekonom DBS Radhika Rao juga menyoroti risiko cuaca, pelemahan rupiah, serta surplus perdagangan yang menyempit.

Surplus perdagangan April tercatat hanya US$0,09 miliar, jauh di bawah ekspektasi US$1,5 miliar dan menjadi yang terkecil sejak 2020. Penyempitan surplus terjadi seiring impor yang naik 22,49% (yoy), terutama karena lonjakan impor migas yang meningkat lebih dari 80% (yoy).

Dari sisi kebijakan, MUFG menilai rencana pengendalian ekspor komoditas utama melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) berpotensi menjadi faktor risiko baru bagi aset Indonesia, termasuk IHSG. Dalam jangka pendek, ketidakpastian implementasi dinilai bisa mengganggu arus perdagangan, menciptakan ambiguitas harga, dan menekan sentimen, terutama pada saham komoditas seperti batu bara, CPO, dan ferroalloy.

IHSG juga masih dibayangi perkembangan indeks global. Keputusan FTSE Russell dan MSCI membuat investor kembali mencermati kualitas pasar saham Indonesia, termasuk free float, konsentrasi kepemilikan, dan aksesibilitas pasar. FTSE menetapkan perlakuan khusus terhadap saham Indonesia sejak 13 Mei, memperbarui daftar saham yang keluar dari indeks pada awal Juni, dan akan memberlakukan perubahan tersebut pada 22 Juni 2026.

Sementara itu, perhatian pasar terhadap MSCI belum mereda setelah tidak ada saham Indonesia yang masuk indeks utama dalam review Mei. Investor menanti evaluasi lanjutan pada 18 dan 23 Juni, yang dipandang dapat memengaruhi persepsi terhadap pasar saham Indonesia dan membuat investor asing cenderung lebih selektif.

Dari eksternal, data Amerika Serikat turut menahan selera risiko. JOLTS menunjukkan lowongan kerja naik ke 7,6 juta, sementara ADP Mei bertambah 122 ribu, di atas konsensus. Meski PMI Gabungan S&P Global turun ke 51,5, PMI Jasa ISM naik ke 54,5 dan indeks harga menguat ke 71,3. Sinyal ketenagakerjaan yang solid serta tekanan harga jasa yang tinggi dinilai membatasi ruang ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, sehingga minat risiko ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, ikut tertahan.

Menjelang rilis data nonfarm payrolls (NFP) pada Jumat, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data AS seperti klaim pengangguran, Challenger Job Cuts, neraca perdagangan, produktivitas, dan biaya tenaga kerja. Untuk IHSG, peluang pemulihan masih terbuka, namun pasar dinilai memerlukan kombinasi stabilisasi rupiah, meredanya tekanan harga minyak, serta sentimen global yang lebih kondusif agar kepercayaan investor kembali menguat.