BERITA TERKINI
Tran Thi Van Anh, dari Desa Miskin di Ha Tinh hingga Raih Penghargaan Musik di Jepang

Tran Thi Van Anh, dari Desa Miskin di Ha Tinh hingga Raih Penghargaan Musik di Jepang

Tran Thi Van Anh menapaki perjalanan panjang dari sebuah desa terpencil di komune Co Dam, provinsi Ha Tinh, Vietnam, hingga meraih penghargaan pada kompetisi musik internasional di Jepang. Lahir dari keluarga yang hidup dalam keterbatasan, Van Anh dibesarkan ibunya seorang diri setelah sang ayah meninggal ketika ia berusia empat tahun.

Van Anh menceritakan, ibunya bekerja serabutan untuk menghidupi dan menyekolahkan tiga anak. Pekerjaan yang dilakukan beragam, mulai dari berdagang kecil-kecilan, membuat saus ikan, mengasuh bayi, hingga memperbaiki jaring ikan. Karena penghasilan yang terbatas, keluarga mereka sempat dikategorikan sebagai keluarga miskin dalam rentang waktu lama. “Dari kelas satu hingga kelas tujuh, keluarga kami diklasifikasikan sebagai miskin, kemudian sebagai hampir miskin,” ujar Van Anh.

Kondisi ekonomi membuat dua kakak laki-laki Van Anh harus putus sekolah dan bekerja ke luar negeri untuk membantu keluarga, meski mereka disebut sebagai siswa berprestasi. Dukungan keluarga kemudian terfokus pada pendidikan Van Anh. Ia menyebut ibunya memprioritaskan sekolahnya, bahkan mengantar-jemputnya secara rutin saat jarak ke sekolah dasar sekitar 30 kilometer.

Berbekal dukungan itu, Van Anh menjadi satu-satunya anak di keluarga yang menempuh pendidikan formal hingga perguruan tinggi. Bakat bernyanyinya terlihat sejak kecil. Sejak kelas tiga sekolah dasar, ia sudah tampil bernyanyi di kuil-kuil saat festival Buddha, seperti Hari Ulang Tahun Buddha dan Festival Vu Lan. Ia mengingat penampilan pertamanya di kuil berlangsung dalam suasana gugup.

Ketertarikannya pada dunia vokal membuat Van Anh memilih jalur pendidikan musik. Ia semula belajar di Sekolah Tinggi Kebudayaan dan Seni Nghe An, sebelum memutuskan mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk Akademi Musik Nasional Vietnam. Pada masa pandemi Covid-19, proses seleksi dilakukan dengan pengiriman klip video dari rumah, namun ia tidak lulus pada percobaan pertama.

Kesempatan berikutnya datang setelah seorang kenalan keluarga mengirim video penampilannya kepada Seniman Berprestasi Lan Anh. Van Anh mengisahkan, Lan Anh menilai penampilannya baik meski sebelumnya ia tidak mengenal Van Anh. Saat nilai kelulusan tercantum 9,5, Van Anh mengaku memperoleh 9,2 atau 9,3 dan kemudian mengajukan banding. Setelah itu, hasilnya berubah menjadi 9,7.

Kelulusan tersebut sekaligus memunculkan kekhawatiran baru terkait biaya studi. Van Anh menyebut ibunya berada di antara rasa senang dan cemas, serta pada awalnya tidak ingin ia menekuni karier seni karena menginginkan pekerjaan yang lebih stabil. Untuk meyakinkan ibunya sekaligus mencukupi kebutuhan, Van Anh mengambil berbagai pekerjaan paruh waktu, termasuk siaran langsung bernyanyi. Seiring waktu, ia juga menerima undangan tampil yang membantunya menambah pemasukan.

Di Akademi Musik Nasional Vietnam, Van Anh memilih mendalami musik rakyat di bawah bimbingan Seniman Berprestasi Lan Anh. Ia menggambarkan sang mentor sebagai sosok penyayang namun tegas, yang menciptakan lingkungan belajar nyaman sekaligus terstruktur. Di bawah bimbingan tersebut, Van Anh mulai membangun gaya bernyanyi yang khas dan memperkuat teknik serta keterampilan panggung.

Kompetisi besar pertama yang diikuti Van Anh adalah Kontes Menyanyi Hanoi 2023. Ia mengatakan, gurunya mendorongnya ikut kompetisi untuk mencari pengalaman, bukan semata mengejar hadiah. Namun hasilnya melampaui ekspektasi: Van Anh meraih hadiah pertama dan disebut menjadi juara termuda, berusia 18 tahun, dalam kompetisi musik profesional pertamanya.

Pada 2026, Van Anh mengikuti Kompetisi Musik Kyushu ke-28 di Jepang. Meski berspesialisasi dalam musik rakyat, ia berkompetisi pada kategori opera dengan waktu latihan sekitar dua bulan. Lagu yang dibawakan dipilih oleh gurunya dan berkisah tentang putri duyung yang mengirim pesan cinta kepada pria yang dicintainya namun tidak dapat bersamanya.

Van Anh mengaku sempat tidak percaya diri karena para kontestan lain dinilai memiliki pelatihan opera formal dan merupakan pemain unggulan di bidangnya. Saat pengumuman pemenang, ia tidak memahami bahasa Jepang sehingga tidak langsung menyadari namanya disebut. Ia juga sempat merasa malu ketika melihat anggota tim Vietnam lainnya memperoleh penghargaan sementara namanya belum dipanggil. Namun kemudian panitia kembali memanggil namanya, dan ia akhirnya mengetahui dirinya meraih hadiah khusus.

Penghargaan di Jepang tersebut menjadi pencapaian besar kedua bagi Van Anh setelah kemenangan di Kontes Menyanyi Hanoi 2023. Ia menilai manfaat terpenting dari penghargaan itu bukan hanya hadiah dan ketenaran, tetapi juga perubahan pola pikir tentang profesi, pengalaman panggung, serta pelajaran yang sulit didapat tanpa proses kompetisi.

Seusai meraih penghargaan, Van Anh menyebut dirinya menerima lebih banyak undangan dari program seni, acara televisi, dan perusahaan. Ia juga menekankan pentingnya peran mentor dalam perjalanan kariernya. “Saya merasa sangat beruntung telah bertemu dengan mentor yang tepat di saat-saat penting. Selain semangat dan usaha, bimbingan yang baik juga merupakan faktor pendukung kesuksesan saya,” kata Van Anh.