BERITA TERKINI
Teater Koma Pentaskan "Mencari Semar", Budi Ros dan Rita Matumona Tampil sebagai Dua Legenda di Panggung

Teater Koma Pentaskan "Mencari Semar", Budi Ros dan Rita Matumona Tampil sebagai Dua Legenda di Panggung

Pementasan Teater Koma kerap menghadirkan rasa takjub bagi penonton. Namun, suasana terasa berbeda saat kelompok teater ini menampilkan pementasan ke-235 berjudul Mencari Semar di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, pada 13–17 Agustus 2025. Dalam produksi kali ini, penonton menyaksikan penampilan dua aktor yang telah mendedikasikan lebih dari empat dekade hidupnya untuk teater: Budi Ros sebagai Semar dan Rita Matumona sebagai Sutiragen, istri Semar.

Dalam lakon tersebut, Budi Ros memerankan Semar yang di dalam tubuhnya tertanam jimat Kalimasada. Pusaka itu menjadi rebutan bangsa Nimacha, yang digambarkan sebagai robot kecerdasan buatan yang menguasai pemerintahan. Kalimasada tidak hanya hadir sebagai benda sakral, tetapi juga menjadi simbol kebijaksanaan leluhur yang hilang dan hendak ditulis ulang oleh penguasa baru.

Sementara itu, Rita Matumona tampil sebagai Sutiragen, ibu dari Gareng, Petruk, dan Bagong. Bersama para punakawan, Sutiragen berjuang mencari Semar setelah tokoh tersebut diculik bangsa Nimacha.

Menjelang pertunjukan pada Jumat, 15 Agustus 2025, Rita Matumona sempat berbagi pandangannya di ruang kostum. Ia menyebut Teater Koma sebagai “rumah kedua” baginya, sebuah tempat yang menurutnya perlu dirawat melalui karya, pemikiran, dan kerja sama antaranggotanya.

“Kalau kita menganggap teater sebagai rumah, tentu harus dirawat. Kita isi rumah itu dengan karya, pemikiran, dan kerja sama. Siapa pun sutradaranya, prinsipnya sama: semua anggota saling mendukung,” kata Rita.

Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di panggung, Rita menilai teater bukan sekadar hiburan, melainkan ruang belajar tentang kehidupan. Ia menekankan bahwa cerita-cerita teater selalu berbicara mengenai manusia dan relasinya, baik dengan Tuhan, sesama, maupun alam.

“Setiap cerita teater selalu tentang manusia, dengan segala hubungannya: dengan Tuhan, sesama, juga alam. Kalau aktor membicarakan korupsi, ia harus anti korupsi. Kalau bicara alam, ia harus cinta alam. Teater mengajarkan kedalaman rasa,” ujarnya.

Rita juga menyampaikan bahwa proses produksi Mencari Semar tidak jauh berbeda dari produksi Teater Koma lainnya. Ia menyebut disiplin, kerja sama, dan gotong royong sebagai kunci, termasuk dalam hubungan kerja antara senior dan junior di dalam kelompok.

“Kami para senior membantu memberi arahan pada yang muda. Tidak ada peran kecil atau besar, yang ada hanya aktor baik atau tidak. Kuncinya disiplin latihan,” tuturnya, sambil mengutip ajaran Nano Riantiarno bahwa teater adalah dua mata pisau: ketajaman rasa dan pengetahuan.