PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) berencana menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk tahun buku 2025 pada 16 April 2026. Dalam keterbukaan informasi, perseroan mengungkap tiga rencana aksi korporasi strategis yang akan dimintakan persetujuan pemegang saham.
Tiga agenda tersebut mencakup penggunaan sebagian saldo laba untuk pembagian dividen, pembelian kembali (buyback) saham, serta Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Rangkaian aksi korporasi ini disiapkan di tengah transisi bisnis TOBA dari energi konvensional menuju sektor hijau, dengan fokus pada pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, menilai penggunaan sebagian saldo laba untuk dividen dan buyback berpotensi meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Sementara itu, PMHMETD dinilai menjadi fondasi penguatan modal untuk ekspansi jangka menengah hingga panjang.
Menurut Andhika, pengajuan beberapa agenda strategis sekaligus dalam RUPS merupakan praktik yang lazim dilakukan untuk efisiensi waktu. Ia juga menyoroti rencana dividen TOBA meski perseroan membukukan rugi bersih pada 2025, yang disebutnya dipengaruhi rugi non-kas dan akuntansi dari divestasi aset PLTU sebagai bagian dari transisi.
“Secara historis sebenarnya TOBA adalah emiten yang dividend paying, tahun 2025 memang ada kerugian non-kas karena transisi aset ke bisnis hijau, tetapi saldo laba masih positif dari keuntungan tahun-tahun sebelumnya jadi masih bisa bagi dividen,” ujarnya dalam keterangan resminya, Jumat (27/3/2026).
Perseroan menyatakan, meski mencatat rugi bersih non-kas pada 2025 akibat divestasi aset PLTU, TOBA tetap membukukan EBITDA Disesuaikan positif dan memiliki saldo kas sebesar US$102,3 juta, naik 15% dari tahun sebelumnya.
SVP Corporate Strategy & Business Development TOBA, Nafi Sentausa, mengatakan transformasi bisnis mulai memberikan hasil. Ia menyebut pendapatan dari bisnis berkelanjutan mencapai US$164,1 juta pada 2025, naik 738% secara tahunan, dengan kontribusi pengelolaan limbah sebesar 41% dari total pendapatan.
Di sisi lain, TOBA menilai percepatan pergeseran portofolio membutuhkan penguatan modal, yang salah satunya dapat difasilitasi melalui PMHMETD untuk mendukung ekspansi jangka panjang. Skema rights issue juga disebut dapat membuka peluang masuknya investor strategis untuk berpartisipasi dalam pengembangan bisnis perseroan.
Manajemen menyampaikan, dana yang diperoleh dari rights issue—setelah dikurangi biaya emisi yang menjadi kewajiban perseroan—akan digunakan untuk mendukung ekspansi usaha, terutama di sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, serta kendaraan listrik.

