CIPUTAT TIMUR — Dentuman petasan jumbo memeriahkan Gebyar Budaya Betawi yang digelar di Rempoa, Sabtu (9/5). Acara yang dipadati masyarakat itu menampilkan berbagai unsur budaya Betawi, mulai dari pertunjukan seni, kuliner, hingga tradisi khas.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menegaskan, budaya Betawi tidak semata menjadi hiburan, melainkan bagian dari identitas, sejarah, dan kearifan lokal yang perlu dijaga bersama di tengah keragaman budaya yang ada di Kota Tangerang Selatan.
Menurut Benyamin, budaya Betawi merupakan salah satu akar penting yang hidup di masyarakat Tangerang Selatan. Ia menyebut identitas tersebut juga tercermin melalui simbol daerah berupa rumah Blandongan yang menjadi ciri khas Kota Tangerang Selatan.
Dalam kesempatan itu, Benyamin menyampaikan apresiasi kepada Lembaga Budaya Betawi Kota Tangerang Selatan yang dinilai konsisten menjaga serta memperkenalkan budaya Betawi kepada generasi muda. Ia menyebut kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi, edukasi, sekaligus pelestarian budaya melalui kesenian, kuliner, pakaian adat, musik tradisional, hingga tradisi yang ditampilkan.
“Kegiatan Gebyar Tradisi Betawi ini bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi ruang silaturahmi, ruang edukasi, sekaligus ruang pelestarian budaya melalui kesenian, kuliner, pakaian adat, musik tradisional hingga tradisi Betawi yang ditampilkan. Termasuk petasan tadi. Betawi kalau tidak ada petasan bukan Betawi namanya,” kata Benyamin.
Sejumlah kesenian tradisional turut ditampilkan, di antaranya pantun Betawi dan seni pertunjukan, serta rencana penampilan gambang kromong pada malam hari.
Benyamin menyatakan Pemerintah Kota Tangerang Selatan mendukung pelestarian budaya lokal. Ia juga mendorong agar Gebyar Budaya Betawi menjadi agenda rutin tahunan yang masuk dalam kalender pariwisata kota.
“Tahun depan akan kita alokasikan kegiatannya di APBD. Saya ingin ini menjadi agenda tetap yang nanti akan diakomodasi dalam program kerja Dinas Pariwisata,” ujarnya.
Ia menilai kemajuan kota tidak hanya diukur dari modernitas infrastruktur, tetapi juga dari kuatnya karakter budaya. Karena itu, Benyamin mengajak generasi muda untuk tidak malu mencintai budaya sendiri dengan mempelajari pantun, silat, lenong, tanjidor, serta tradisi Betawi lainnya.