SukkhaCitta merilis koleksi terbaru bertajuk “PERTIWI” yang berangkat dari gagasan untuk merefleksikan sekaligus mengenang makna Ibu Pertiwi sebagai tanah air Indonesia. Koleksi ini lahir dari dorongan untuk menjaga, meneruskan, dan merawat warisan budaya agar tetap relevan, tidak hanya untuk masa kini, tetapi juga puluhan tahun ke depan.
Dalam proses kreatifnya, Creative Director SukkhaCitta, Anastasia Setiobudi, memulai perjalanan dengan menghargai warisan berpakaian yang telah ada. Karena itu, siluet dasar koleksi banyak mengambil inspirasi dari beskap, kebaya, dan kain tradisional yang selama ini menjadi identitas utama busana Nusantara. Kebaya diposisikan sebagai representasi sisi feminin, beskap melambangkan maskulin, sementara kain dipahami sebagai simbol netral yang bisa dikenakan siapa saja.
Alih-alih menghadirkan rancangan yang sepenuhnya baru, “PERTIWI” dikembangkan melalui pendekatan “edit” atau pengolahan ulang siluet-siluet khas dengan sentuhan berbeda. Proses re-editing ini dilakukan melalui eksplorasi bahan, teknik pewarnaan, hingga perumusan filosofi warna. Dengan demikian, karya yang dihasilkan tidak hanya bertumpu pada estetika, tetapi juga memuat makna budaya yang ingin dihadirkan kembali dalam konteks kontemporer.
Salah satu karya utama yang ditonjolkan adalah PERTIWI Kebaya, yang menggabungkan tiga elemen: siluet anggun kebaya, potongan tegas beskap, serta keluwesan kain. Rancangan ini juga dilengkapi detail ikatan kain yang dapat diputar dan diikat, menghadirkan nilai fungsional sekaligus memperkaya karakter busana.
Koleksi “PERTIWI” turut menonjolkan aspek adaptif dalam penggunaan. SukkhaCitta merancang busana agar dapat dikenakan dalam berbagai gaya. Salah satu desain kebaya, misalnya, dapat dipakai dengan tiga cara berbeda sehingga lebih fleksibel mengikuti kebutuhan masyarakat modern, termasuk pemakai berhijab. Pada siluet kebaya “PERTIWI” terdapat pula detail tersembunyi seperti kancing dan tali yang bisa diatur, memungkinkan pemakainya menemukan cara personal dalam menafsirkan busana.
Anastasia menyebut ia berupaya menjadikan kebaya tersebut lebih serbaguna. “Im so very proud of it karena sebenernya aku juga coba membuat kebaya ini menjadi sesuatu yang verstile, yang sebenarnya dia (kebaya) bisa dipake tiga macam cara gitu,” ujarnya.
Di sisi lain, filosofi warna dalam koleksi ini dirancang dengan rujukan yang dekat dengan keseharian. Inspirasi warna diambil dari cara berpakaian ibu-ibu desa: gadis muda cenderung memilih warna netral, sementara perempuan yang telah menikah lebih banyak mengenakan warna pekat seperti merah dan hitam. Dari pengamatan ini, SukkhaCitta merumuskan warna khas “PERTIWI”, termasuk ThreeBark Red yang dieksplorasi dari pewarna alami berbahan kulit kayu.
Anastasia menegaskan, pendekatan warna tersebut tidak dimaksudkan sebagai tuntutan agar tampil “harus Indonesia” dalam pengertian simbolik semata. “Filosofi warnanya ini sebenernya tidak dimaksudkan untuk yang harus Indonesia banget, harus merah putih gitu. Engga, sebenarnya warna ini sendiri itu dateng dari ibu-ibu di desa,” katanya.
Selain filosofi, koleksi ini juga membawa klaim keberlanjutan dalam proses produksi. Mulai dari kapas hingga pewarna disebut ditanam sendiri dengan metode ramah lingkungan, serta memiliki rantai produksi yang dapat ditelusuri untuk menjamin prinsip etika dan transparansi. Anastasia juga menyampaikan bahwa menghasilkan warna merah alami bukan proses singkat, melainkan melalui penelitian bertahun-tahun untuk mendapatkan merah pekat tanpa bahan kimia. Warna itu diperoleh dari tiga jenis kulit kayu hingga menghasilkan karakter yang khas.
Konsep regenerasi tanah menjadi pilar lain yang diangkat. SukkhaCitta menggunakan kapas lokal “kanesia” yang ditanam dengan metode tumpang sari sebagai simbol keberlanjutan. Dalam risetnya, Anastasia menemukan keterkaitan menarik dengan filosofi warna: bunga kapas berubah warna dari putih menjadi merah muda setelah penyerbukan, sejalan dengan transformasi warna yang dibaca dari cara berpakaian perempuan desa.
“Waktu aku doing my research there's also like very interesting thing yang nyambung ke warna. Karena bunga kapas itu tumbuh, warnanya putih. Terus setelah dipolinasi, dia berubah jadi merah, pink gitu. Jadi disitu akhirnya nyambung dengan filosofi tadi warna yang dipakai ibu-ibu di desa,” ujar Anastasia.
“PERTIWI” juga memanfaatkan pewarna alami lain, termasuk tanaman indigo untuk menghasilkan warna biru. Bahan-bahan tersebut disebut berasal dari budi daya berkelanjutan tanpa deforestasi dan ditanam bersama petani lokal. Kolaborasi ini menjadi bagian dari semangat “farm to closet” yang dipegang label tersebut.
Di saat yang sama, SukkhaCitta menyebut ikut membudidayakan kembali kapas lokal “kanesia” yang hampir punah. Inisiatif ini diposisikan sebagai upaya menjaga sumber daya alam sekaligus mendukung petani lokal agar tidak kehilangan warisan turun-temurun.
Keterlibatan masyarakat desa dalam proses kreatif turut menjadi bagian penting dari narasi koleksi. Para pengrajin, khususnya perempuan, disebut menjadi inspirasi utama. Keteguhan mereka menghadapi tantangan hidup di desa membuat proses penciptaan busana dipandang lebih jujur dan penuh harapan.
Dalam konteks industri yang didominasi merek besar, SukkhaCitta menyatakan tetap berfokus pada apa yang dikuasai: menghadirkan karya otentik dengan nilai kebaikan tanpa mengejar kompetisi. Anastasia meyakini publik akan merespons ketika melihat ketulusan di balik proses kreatif.
Melalui “PERTIWI”, SukkhaCitta menempatkan kebaya dan elemen busana Nusantara bukan sekadar sebagai peninggalan, melainkan sebagai identitas yang diolah kembali. Koleksi ini digambarkan lahir dari tanah, diproses bersama pengrajin desa, dan dihidupkan dalam format kontemporer agar tetap dikenali oleh generasi mendatang.

