Kota Solo akan menjadi tuan rumah Suaraga, festival dua hari yang memadukan musik, wellness, komunitas, dan eksplorasi kota. Acara ini merupakan kolaborasi Boss Creator, MADHAUS, dan Vindes, dan dijadwalkan berlangsung pada 4–5 Juli 2026 di Taman Balekambang, Solo.
Festival ini mengusung semangat “suara dan raga” sekaligus memperkenalkan Solo sebagai The Wellness City of Java. Suaraga dirancang sebagai ruang pertemuan budaya, kreativitas, dan gaya hidup modern, serta ditujukan menjadi wadah ekspresi generasi muda dan destinasi bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya autentik.
Director of Boss Creator, Riandika Winandatama, menyampaikan bahwa Suaraga diharapkan menjadi titik awal destinasi keseimbangan hidup yang berakar pada warisan budaya namun tetap relevan bagi generasi urban. Ia juga menekankan keterlibatan pelaku industri kreatif Solo dalam ekosistem festival, mulai dari UMKM lokal, komunitas kreatif, seniman, pengrajin, hingga pelaku kuliner.
Dari pihak Vindes, Co-Founder & Chief Business Officer Laksamana Satrio AP menilai Suaraga tidak sekadar festival hiburan. Menurutnya, acara ini ingin menghadirkan ruang yang dekat dan hangat bagi keseharian generasi sekarang, sekaligus memberi pengalaman untuk menikmati musik, budaya, komunitas, dan kembali terkoneksi dengan diri sendiri serta kota tempat festival berlangsung.
COO MADHAUS, Suherman Soemardi, menambahkan bahwa Suaraga membawa pendekatan yang dekat dengan keseharian masyarakat melalui rangkaian wellness activities dan community activation. Ia menyebut beberapa aktivitas seperti Mlaku Santai dan Pit-Pitan yang dirancang agar tetap relevan dengan gaya hidup masa kini.
Dukungan juga disampaikan Pemerintah Kota Solo. Wali Kota Solo, Respati Achmad Ardianto, menilai konsep wellness memiliki keterkaitan erat dengan akar budaya Jawa yang hidup di masyarakat. Ia menyebut upaya mengangkat Java Wellness sebagai bagian dari identitas budaya kota, sekaligus komitmen mendukung komunitas industri kreatif dan pelaku wellness agar terus berkembang.
Arthur, mewakili Balai Suka, menyampaikan Suaraga dipandang sejalan dengan semangat menghubungkan komunitas, kreativitas, dan budaya melalui pendekatan inklusif yang dekat dengan gaya hidup masa kini. Ia berharap inisiatif ini membuka lebih banyak ruang kolaborasi dan mendorong masyarakat kembali terhubung dengan kota, budaya, dan komunitasnya.
Suaraga menyediakan beberapa kategori tiket dengan harga mulai Rp150 ribu. Melalui Music Pass, pengunjung dapat menyaksikan penampilan musisi lintas genre selama dua hari, antara lain MALIQ & D’Essentials, Sore, Nadhif Basalamah, Silampukau, Fanny Soegi, Ali, Ucupop, hingga Man Osman & Traffic Jam dengan penampilan spesial keroncong.
Adapun Festival Pass menggabungkan akses konser musik dengan satu sesi wellness pilihan. Aktivitas yang ditawarkan mencakup yoga, mat pilates, hingga Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) bersama Anjasmara, Laila Munaf, dan Amanda Tasning.
Bagi pengunjung yang menginginkan pengalaman lebih eksklusif, tersedia Premium Raga Pass yang menghadirkan program wellness berbasis filosofi Jawa bekerja sama dengan Atsiri Jawa. Program ini mencakup pengalaman seperti Beksan Laku Jawi & Laras Wening serta Racik Candra Raksi, yang memadukan gerak tubuh, meditasi, refleksi diri, dan eksplorasi aroma.
Selain program utama, Suaraga juga menyiapkan kegiatan pra-acara bersama komunitas lokal, termasuk Mlaku Santai dan Pit-Pitan (City Cycling Experience) yang mengajak peserta menikmati wajah Kota Solo dari jarak dekat. Festival ini turut menghadirkan sesi diskusi komunitas bersama Vincent Rompies dan Soleh Solihun yang membahas kreativitas serta perkembangan industri kreatif.
Untuk memperkuat identitas kota, Suaraga menghadirkan elemen city branding di kawasan Jalan Slamet Riyadi melalui instalasi artistik, desain lingkungan, dan sistem penunjuk arah di sejumlah titik strategis.
Angga Puradiredja dari MALIQ & D’Essentials menilai kehadiran Suaraga patut diapresiasi karena menghubungkan banyak elemen dalam satu pengalaman, mulai dari musik, budaya, komunitas, hingga keseimbangan hidup. Menurutnya, pendekatan tersebut membuat budaya terasa lebih hidup dan lebih dekat untuk dinikmati oleh generasi yang lebih luas.
Direktur Rumah Atsiri Indonesia, Natasha Clairine Mitarga, melihat kolaborasi ini sebagai kesempatan memperkenalkan praktik wellness yang berakar pada kearifan lokal. Ia menyebut wellness berbasis budaya sebagai upaya mengenali kembali kearifan yang sudah lama hidup di sekitar dan menerjemahkannya ke dalam pengalaman yang relevan, termasuk ajakan untuk memperlambat ritme dan merasakan hubungan antara keseimbangan hidup, alam, serta warisan budaya Indonesia.
Amanda Tasning menyoroti pentingnya ruang terbuka dalam praktik yoga. Menurutnya, yoga di ruang terbuka dapat menjadi pengalaman yang melampaui aktivitas fisik, sekaligus ruang untuk terhubung dengan diri sendiri, lingkungan, dan komunitas dalam pertemuan antara wellness, budaya, dan kreativitas.
Sementara itu, Laila Munaf menekankan aktivitas berbasis gerak sebagai medium membangun koneksi antarmanusia yang lebih autentik dan inklusif. Ia menilai Suaraga menarik karena menghadirkan ruang pertemuan antara musik, kreativitas, dan komunitas dalam satu pengalaman bersama.
Melalui perpaduan musik, wellness, budaya, dan komunitas, Suaraga menargetkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat hubungan antara masyarakat, kota, dan warisan budayanya. Informasi lebih lanjut disebutkan dapat diperoleh melalui akun media sosial @Suaragafest.