BERITA TERKINI
Wave to Earth Kembali ke Jakarta untuk Java Jazz 2026, Cerita Pilih Bahasa Inggris hingga Eksperimen Musik Baru

Wave to Earth Kembali ke Jakarta untuk Java Jazz 2026, Cerita Pilih Bahasa Inggris hingga Eksperimen Musik Baru

Band indie rock asal Seoul, Wave to Earth, kembali menyapa penggemar Indonesia lewat penampilan mereka di Java Jazz Festival pada 30 Mei 2026. Trio yang beranggotakan Daniel Kim (vokal dan gitar), Dong Q (drum), dan John Cha (bass) ini telah aktif sejak debut pada 2019 dan merilis dua album studio, “0.1 flaws and all.” (2023) serta “play with earth! 0.03” (2024). Tahun ini, mereka juga merilis single terbaru berjudul “Heaven and Hell”.

Menjelang penampilan di festival, Wave to Earth bertemu sejumlah media dalam sesi wawancara. Mereka menceritakan pengalaman kembali tampil di Jakarta—kunjungan yang disebut menjadi kali keempat ke Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Di luar urusan panggung, ketiganya juga berbagi cerita tentang pengalaman menikmati kuliner lokal seperti nasi goreng, termasuk rasa pedas yang kini semakin terasa akrab bagi mereka.

Dalam wawancara tersebut, Wave to Earth menjelaskan keputusan mereka memproduksi lagu berbahasa Inggris sejak awal karier. Menurut mereka, pasar industri musik band di Korea Selatan terasa cukup kecil untuk membangun karier yang berkelanjutan. Bahasa Inggris kemudian dipilih sebagai jembatan agar musik mereka bisa menjangkau audiens global. Pendekatan itu ikut mengantarkan mereka mendapatkan pendengar lintas negara, termasuk Indonesia yang disebut menjadi negara dengan jumlah pendengar terbanyak mereka di Spotify.

Mereka juga membahas akar unsur jazz yang kerap muncul dalam musik Wave to Earth, terutama menjelang tampil di panggung festival jazz. Daniel Kim mengungkapkan ia pernah mengambil jurusan gitar jazz saat sekolah menengah dan tertarik menggabungkan elemen tersebut ke dalam format band. Sementara John Cha bercerita pernah bermimpi pergi ke Amerika Serikat untuk belajar jazz pada usia awal 20-an. Namun setelah menyelesaikan wajib militer, ia bertemu rekan-rekannya di Wave to Earth dan memilih mengejar mimpi bersama band tersebut.

Soal proses kreatif, mereka mengakui tantangannya cukup besar karena setiap anggota memiliki pandangan dan keunikan masing-masing. Ketiganya menyebut pada dasarnya sangat menyukai rock, sehingga ketika mencoba memainkan jazz, permainan mereka kerap bergeser secara alami ke arah rock. Karena itu, mereka merasa perlu sengaja menyisipkan elemen “jazzy” agar nuansanya tetap seimbang, meski untuk aksi panggung mereka mengakui cenderung menampilkan performa rock yang bertenaga.

Di penghujung obrolan, Wave to Earth turut mengungkap sejumlah musisi yang belakangan memengaruhi eksperimen musik terbaru mereka. Setelah menonton pertunjukan langsung di New York, mereka terinspirasi memikirkan cara memasukkan gaya pedal steel dan instrumen akustik ke dalam karya mereka.

Mereka juga menyebut mengagumi album terbaru Bon Iver, “SABLE, fABLE”, terutama teknik suara seperti glitchy sound dan permainan panning audio yang radikal. Pengalaman mendengar itu mendorong mereka membawa instrumen synth baru untuk rangkaian pertunjukan berikutnya. Selain itu, mereka banyak mendengarkan trek akustik yang santai, termasuk “If I’m Lucky” dari Chelsea Jordan, untuk menghadirkan elemen yang ramah dan mudah didengar ke dalam musik mereka.

Rangkaian cerita tersebut memperlihatkan bagaimana Wave to Earth terus mengembangkan arah musikalnya—menjaga keseimbangan antara rock dan jazz, sekaligus membuka ruang untuk eksperimen baru dalam karya-karya berikutnya.