Sebuah penelitian dengan pendekatan kuantitatif menelaah hubungan antara eksistensi musik K-Pop dan kesehatan mental remaja. Kajian ini berangkat dari fenomena Korean Wave (Hallyu) yang kian mudah diakses di era digital, serta kuatnya keterlibatan remaja dalam konsumsi musik, konten visual, interaksi daring dengan idola, hingga aktivitas komunitas penggemar (fandom).
Dalam latar belakang penelitian, K-Pop dipahami bukan sekadar genre musik, melainkan bagian dari budaya populer yang dapat membentuk gaya hidup, nilai sosial, dan identitas, terutama pada remaja yang berada pada fase pencarian jati diri dan perkembangan emosi. Penelitian juga menyoroti efek psikologis yang dinilai kompleks: K-Pop dapat menjadi sarana hiburan, pelarian dari tekanan, dan penguat keterhubungan sosial melalui fandom, namun juga berpotensi memunculkan tekanan sosial, standar kecantikan dan kesuksesan, hingga kecenderungan obsesif terhadap idola.
Penelitian ini merumuskan tiga pertanyaan utama, yakni apakah terdapat hubungan antara eksistensi musik K-Pop dan kesehatan mental remaja, bagaimana hubungan tersebut, serta dampak yang menyertainya. Tujuan utamanya adalah mengidentifikasi, menganalisis hubungan, dan menelaah dampaknya terhadap kondisi psikologis remaja.
Dari sisi konsep, penelitian mengaitkan peran musik dalam kehidupan remaja dengan teori Uses and Gratifications yang menyebut individu secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan psikologis seperti hiburan, pembentukan identitas, dan interaksi sosial. Dalam konteks K-Pop, keterlibatan remaja digambarkan dapat mencakup kedekatan emosional dengan idola dan penguatan relasi sosial melalui komunitas penggemar. Kajian teori juga memuat pembahasan kesehatan mental berdasarkan definisi WHO (2022) sebagai kondisi sejahtera ketika individu menyadari potensinya, mampu mengatasi tekanan hidup, bekerja produktif, dan berkontribusi pada lingkungan.
Metode penelitian yang digunakan adalah korelasional dengan uji korelasi Spearman. Partisipan berjumlah 25 remaja berusia 13 hingga 18 tahun yang merupakan penggemar K-Pop. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan Google Form yang disebarkan melalui WhatsApp dan Instagram. Instrumen menggunakan skala Likert lima tingkat, dari “sangat setuju” (5) hingga “sangat tidak setuju” (1).
Kuesioner mencakup identitas responden, indikator eksistensi musik K-Pop (misalnya frekuensi mendengarkan, seberapa besar pengaruh dan pentingnya K-Pop, persepsi kualitas, hingga kemungkinan mendengarkan secara langsung), serta indikator dampak pada kesehatan mental. Pada bagian dampak, pertanyaan mencakup aspek positif seperti ketenangan suasana hati, bantuan menghadapi tekanan atau emosi, motivasi, dan fungsi sebagai pelarian saat stres, serta aspek negatif seperti penggunaan waktu berlebihan, tekanan, hambatan aktivitas, atau kecemasan jika tidak mengikuti musik terbaru.
Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi Spearman (rs) sebesar 0,375. Nilai rhitung tersebut lebih kecil daripada rtabel 0,398 pada taraf signifikansi 0,05 dengan jumlah sampel 25 responden. Dengan demikian, hipotesis nol (H0) diterima, yang berarti penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara eksistensi musik K-Pop dan kesehatan mental remaja.
Penelitian menafsirkan temuan ini sebagai indikasi bahwa kesehatan mental remaja kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor lain yang lebih dominan, seperti tekanan akademik, hubungan sosial, kondisi lingkungan keluarga, serta faktor psikologis individu, dibandingkan paparan terhadap musik K-Pop semata.
Dalam pembahasan, penelitian juga mencatat adanya studi lain yang menunjukkan hasil berbeda bergantung pada fokus variabel. Misalnya, ada penelitian yang menyoroti hubungan fanatisme K-Pop dengan kesehatan mental, serta temuan bahwa terapi musik K-Pop dapat membantu menurunkan kecemasan pada konteks tertentu. Perbedaan fokus—antara “fanatisme” dan “eksistensi” musik K-Pop—dipandang dapat memengaruhi hasil.
Penelitian ini menyarankan kajian lanjutan dengan sampel yang lebih besar dan pendekatan yang lebih beragam, termasuk metode kualitatif atau eksperimen, untuk memahami lebih rinci peran musik populer terhadap emosi, stres, dan kesejahteraan mental remaja. Peneliti juga mendorong eksplorasi variabel lain yang turut berkontribusi terhadap kesehatan mental, seperti aspek psikososial, tekanan akademik, serta pola konsumsi media secara lebih menyeluruh.

