BERITA TERKINI
Studi di RSUD Dr. Soetomo: Pupillary Pain Index Berpotensi Gantikan QoR-40 untuk Menilai Kualitas Pemulihan Pasca Operasi

Studi di RSUD Dr. Soetomo: Pupillary Pain Index Berpotensi Gantikan QoR-40 untuk Menilai Kualitas Pemulihan Pasca Operasi

Nyeri pasca operasi dapat memicu berbagai dampak, mulai dari meningkatkan rasa tidak nyaman pasien, memperlambat proses penyembuhan, hingga meningkatkan risiko berkembangnya nyeri kronis. Karena itu, penilaian nyeri dan kualitas pemulihan (recovery quality) menjadi bagian penting dalam perawatan pasca bedah.

Selama ini, penilaian nyeri pasca operasi kerap menggunakan alat ukur seperti Numeric Rating System (NRS), Visual Analogue Scale (VAS), maupun kuesioner. Salah satu instrumen kuesioner yang digunakan adalah QoR-40 (The Recovery Quality Questionnaire), yang menilai kualitas pemulihan pasien pasca operasi melalui 40 item pertanyaan.

Selain kuesioner, terdapat pendekatan lain yakni Pupillary Pain Index (PPI), yang memanfaatkan respons tubuh terhadap nyeri atau ketidaknyamanan, salah satunya melalui interpretasi pelebaran pupil mata menggunakan pupillometry.

Riset membandingkan QoR-40 dan PPI

Sebuah penelitian dilakukan untuk melihat hubungan antara QoR-40 dan PPI dalam mengukur kualitas pemulihan pasien pasca operasi. Penelitian ini berlangsung di Ruang Pulih Sadar (Recovery Room) Gedung Bedah Pusat Terpadu RSUD Dr. Soetomo pada September–Oktober 2019.

Penelitian melibatkan 46 pasien berusia 18–60 tahun yang menjalani operasi elektif dengan general anesthesia dan memiliki nilai PS-ASA 1–2. Kualitas pemulihan dinilai pada 12 jam dan 24 jam pasca operasi menggunakan kedua instrumen tersebut, kemudian dilakukan uji komparasi dan korelasi.

Hasil pengukuran QoR-40 pada 12 jam dan 24 jam

Pada QoR-40, penelitian menetapkan cut off skor 142. Skor QoR-40 > 142 dikategorikan sebagai kualitas pemulihan yang baik.

  • 12 jam pasca operasi: 28 pasien (60,8%) memiliki skor <142 (poor recovery) dan 18 pasien (39,2%) memiliki skor ≥142 (good recovery).
  • 24 jam pasca operasi: 37 pasien (80,4%) memiliki skor >142 (good recovery) dan 9 pasien (19,6%) memiliki skor <142 (bad recovery).

Penelitian mencatat, buruknya kualitas pemulihan pada 12 jam pasca operasi berdasarkan QoR-40 mencakup lima dimensi, yaitu dukungan pasien, kenyamanan pasien, emosi pasien, kemandirian fisik, dan nyeri.

Hasil pengukuran PPI pada 12 jam dan 24 jam

Pada PPI, skor berkisar 1–10. Semakin tinggi skor PPI, semakin buruk pemulihan (pasien masih merasakan nyeri dan ketidaknyamanan). Sebaliknya, skor yang lebih rendah menunjukkan pemulihan yang lebih baik.

  • 12 jam pasca operasi: rata-rata skor PPI 4,39 ± 1,94.
  • 24 jam pasca operasi: rata-rata skor PPI 2,82 ± 1,33.

Perubahan skor PPI dari 12 jam ke 24 jam menunjukkan:

  • 36 pasien (78,2%) mengalami penurunan skor PPI (kualitas pemulihan meningkat),
  • 7 pasien (15,2%) skornya tetap,
  • 3 pasien (6,6%) mengalami peningkatan skor PPI (kualitas pemulihan menurun).

Korelasi kuat antara QoR-40 dan PPI

Uji korelasi menunjukkan hubungan yang signifikan antara kedua instrumen:

  • 12 jam pasca operasi: P<0,001 dan R = -0,952.
  • 24 jam pasca operasi: P<0,001 dan R = -0,928.

Nilai korelasi negatif yang kuat ini menunjukkan bahwa ketika skor QoR-40 meningkat (pemulihan lebih baik), skor PPI cenderung menurun (pemulihan juga lebih baik), dan sebaliknya.

Implikasi klinis: PPI dinilai lebih praktis

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian menyimpulkan bahwa PPI dapat digunakan untuk menggantikan QoR-40 dalam menilai kualitas pemulihan pasien pasca operasi. Secara klinis, penggunaan PPI dinilai lebih praktis dan efektif dibandingkan QoR-40.

Pengukuran PPI dengan pupillometry disebut sebagai salah satu cara penilaian nyeri yang objektif, sejalan dengan pendekatan biomarker seperti kortisol, IL-6, dan TNF-alpha. PPI juga dinilai praktis, non-invasif, cepat, dan tidak mahal untuk mengevaluasi parameter nyeri yang objektif serta kaitannya dengan kualitas pemulihan pasca operasi.