Stigma bahwa perempuan identik dengan gosip telah lama mengakar dalam masyarakat dan kerap muncul dalam film, buku, hingga percakapan sehari-hari. Namun, anggapan bahwa perempuan lebih sering bergosip dibanding laki-laki tidak sesederhana itu. Sejumlah kajian menunjukkan gosip merupakan bagian alami dari interaksi sosial manusia, sementara pelabelan negatif yang dilekatkan pada perempuan lebih banyak dipengaruhi bias budaya.
Antropolog dan psikolog Universitas Oxford, Robin Dunbar, menjelaskan gosip memiliki fungsi sosial penting. Dalam bukunya Grooming, Gossip, and the Evolution of Language, Dunbar menyebut gosip bukan sekadar obrolan ringan, melainkan sarana membangun dan mempertahankan hubungan sosial. Gosip membantu individu memahami dinamika kelompok, mengenali siapa yang dapat dipercaya, serta memperkuat ikatan sosial—serupa dengan praktik grooming pada primata yang digunakan untuk membangun relasi dalam kelompok.
Dunbar juga menekankan gosip berperan dalam perkembangan bahasa manusia karena memungkinkan komunikasi yang lebih kompleks dan efektif di dalam kelompok yang lebih besar. Meski demikian, dalam banyak budaya, makna gosip mengalami distorsi, terutama ketika dikaitkan dengan perempuan. Anggapan bahwa gosip adalah aktivitas negatif yang identik dengan perempuan disebut sebagai bentuk bias sosial, mengingat secara evolusioner gosip merupakan bagian dari mekanisme interaksi yang membantu menjaga stabilitas sosial.
Sejumlah penelitian turut mempertanyakan stereotip bahwa perempuan lebih suka bergosip. Studi McAndrew & Milenkovic (2002) menemukan laki-laki dan perempuan memiliki frekuensi bergosip yang hampir sama. Perbedaannya lebih terlihat pada topik: laki-laki cenderung membicarakan status sosial, pekerjaan, dan politik, sedangkan perempuan lebih banyak mendiskusikan hubungan interpersonal dan kehidupan pribadi.
Penelitian lain oleh Leaper & Holliday dari University of Michigan juga menunjukkan pola serupa. Perempuan lebih sering berbagi informasi personal dan emosional dalam gosip, sementara laki-laki lebih banyak melakukan gosip berbasis kompetisi atau status sosial. Namun, karena budaya patriarki cenderung lebih menghargai percakapan tentang status dan pencapaian, gosip laki-laki kerap dipandang lebih “valid” dibanding gosip perempuan.
Stigma terhadap perempuan sebagai penggosip dinilai berdampak luas, termasuk merusak citra dan kredibilitas mereka di lingkungan sosial maupun profesional. Dunbar menyebut stigmatisasi ini berkontribusi membentuk persepsi bahwa suara perempuan dalam diskusi penting menjadi kurang dihargai dan sering diabaikan. Pelabelan tersebut dapat menimbulkan tekanan sosial yang membuat perempuan merasa terpinggirkan dan enggan berpartisipasi dalam diskusi, sehingga membatasi peran mereka dalam masyarakat.
Dampak psikologis juga menjadi sorotan. Mengacu pada ulasan di Psychology Today, individu yang mengalami stigma lebih rentan menghadapi stres, kecemasan, hingga depresi. Dalam konteks ini, perempuan yang terus-menerus menerima label negatif sebagai penggosip dapat merasa terisolasi atau kehilangan kepercayaan diri dalam berkomunikasi. Psikolog Peggy Drexler dari Weil Medical Universitas Cornell menambahkan, kondisi tersebut dapat memunculkan dilema antara keinginan untuk bersosialisasi secara alami dan upaya menghindari stigma yang merugikan.
Di sisi lain, gosip tidak selalu bermakna negatif. Dalam praktiknya, gosip dapat menjadi cara berbagi informasi penting, memperingatkan orang lain tentang potensi bahaya, atau sekadar hiburan. Dalam beberapa situasi, gosip juga bisa menjadi sarana mengkritik ketidakadilan atau perilaku yang dianggap tidak pantas.
Namun gosip juga memiliki konsekuensi yang perlu diwaspadai, terutama ketika menyebarkan informasi keliru, merusak reputasi seseorang, atau menciptakan lingkungan sosial yang dipenuhi kecurigaan. Karena itu, penting untuk menyadari bias yang melekat pada stereotip gender, menilai informasi secara kritis, serta menghindari penyebaran informasi yang tidak terverifikasi. Upaya membangun budaya komunikasi yang sehat dan saling menghormati dinilai dapat membantu mengurangi gosip yang merusak dan mengarahkan percakapan pada komunikasi yang lebih konstruktif.

