BERITA TERKINI
Soroti Burnout Guru, Penulis Usulkan Klinik Profesi sebagai Ruang Pemulihan PTK

Soroti Burnout Guru, Penulis Usulkan Klinik Profesi sebagai Ruang Pemulihan PTK

Bulan Mei kerap menjadi momentum refleksi publik melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei). Namun bagi Dr N.A.N. Murniati MPd, Mei juga menjadi ruang perenungan personal yang ia sebut sebagai “audit batin” atas dedikasi dan kondisi para penggerak pendidikan di sekolah.

Dalam tulisannya, Murniati menilai perayaan simbolik kemajuan pendidikan sering berbanding terbalik dengan situasi riil Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK). Berdasarkan pengalamannya mendampingi sekolah dan membedah data Rapor Pendidikan, ia melihat paradoks: di tengah narasi transformasi, banyak PTK justru berada pada titik kelelahan yang serius.

Ia menggambarkan “hadiah” yang diterima guru dan tenaga kependidikan saat ini berupa beban administrasi yang terus menumpuk. Guru, menurutnya, tidak hanya mengajar, tetapi juga dituntut menjadi manajer data, operator platform digital, perancang kurikulum, hingga pengasuh moral siswa pada saat yang sama. Di sisi lain, tenaga kependidikan menjadi tulang punggung operasional sekolah yang terhimpit tuntutan presisi sistem digital nasional yang berjalan tanpa jeda.

Kondisi tersebut, tulis Murniati, memunculkan burnout yang semakin nyata. Ia menyebut kelelahan sistemik bukan lagi sekadar konsep penelitian, melainkan terlihat dalam keseharian ruang guru yang mulai kehilangan keceriaan. Situasi ini dinilai berisiko menggerus profesionalisme dan berdampak pada masa depan pendidikan.

Selama ini, ia menilai berbagai upaya perbaikan telah dilakukan melalui transformasi pendidikan, mulai dari pendampingan intensif di sekolah-sekolah, pencarian solusi mutu berbasis data Rapor Pendidikan, hingga perumusan indikator kompetensi sosio-emosional guru agar selaras dengan tuntutan zaman. Ia menyebut rangkaian kerja itu sebagai bentuk “wakaf intelektual” agar kebijakan nasional tidak berhenti sebagai dokumen administratif, melainkan benar-benar bermakna di ruang kelas.

Namun, Murniati menekankan perlunya langkah lanjutan yang tidak hanya berfokus pada kurikulum atau infrastruktur fisik. Ia mengusulkan pembangunan ekosistem kesejahteraan SDM yang lebih substantif. Menurutnya, ketangguhan sejati bukan kemampuan menahan beban hingga retak, melainkan kemampuan untuk pulih kembali.

Karena itu, ia menggagas pembentukan “Klinik Profesi” atau “Ruang Pemulihan” sebagai standar baru dalam manajemen sekolah. Fasilitas ini dimaksudkan sebagai tempat validasi kelelahan emosional guru, ruang jeda bagi kelelahan teknis operator sekolah, serta wadah merawat refleksi diri dan rasa syukur sebagai energi kerja.

Dalam konsepnya, Klinik Profesi bukan sekadar layanan kesehatan fisik seperti UKS, melainkan oase kesehatan profesi yang terintegrasi dalam ekosistem pendidikan. Ia membayangkan ruang ini menyediakan layanan konseling bagi guru yang mengalami burnout, ruang tenang bagi operator sekolah yang kelelahan, serta dukungan untuk pemulihan mental dan profesional. Murniati menilai SDM yang sehat secara mental dan profesional merupakan aset strategis, sekaligus investasi agar “mesin” pembangunan manusia tidak rusak akibat tekanan berlebih.

Ia juga menyoroti perlunya kebijakan yang tidak hanya menuntut capaian angka, tetapi menyediakan perlindungan psikologis dan fisik bagi PTK. Menurutnya, tindak lanjut evaluasi pendidikan semestinya mulai menyentuh kesejahteraan profesi secara nyata.

Di akhir tulisannya, Murniati menegaskan harapannya agar pendidik dan tenaga kependidikan tidak dipandang semata sebagai unit produksi angka-angka sistemik, melainkan manusia seutuhnya yang berhak sehat, berhak pulih, dan berhak tangguh demi martabat bangsa.