BERITA TERKINI
Skena Hardcore Bandung Beralih ke Kampus di Tengah Krisis Venue

Skena Hardcore Bandung Beralih ke Kampus di Tengah Krisis Venue

Krisis venue di Bandung mendorong skena musik hardcore mencari ruang alternatif untuk tetap menggelar pertunjukan. Kampus menjadi salah satu pilihan yang dinilai paling memungkinkan, meski menghadirkan sejumlah keterbatasan teknis dan kenyamanan.

Pada Selasa sore, 14 April 2026, gelanggang olahraga Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) di kawasan Buah Batu berubah fungsi menjadi ruang konser. Ratusan anak muda memadati lokasi untuk menyaksikan pertunjukan bertajuk Now a Youth Fest, yang menghadirkan delapan band, termasuk Contention, band straight edge hardcore asal Florida, Amerika Serikat. Acara sempat mundur sekitar satu jam dari jadwal karena kendala teknis.

Feit, band pembuka asal Pandaan, Jawa Timur, mengawali konser dengan musik bertempo cepat. Suasana kian memanas saat Kenya dari Bali naik panggung. Band lokal yang pernah tampil di Outbreak Fest Inggris 2025 itu membuat penonton saling bertabrakan mengikuti ritme intens, memunculkan violence dance yang berlangsung dalam “kekacauan terkendali”.

Ketika Contention tampil sebagai penutup, energi penonton tidak mereda. Diiringi materi dari album Artillery Form Heaven, penonton terus bergerak, melompat, dan menghantam udara mengikuti musik. Ruang olahraga yang biasanya digunakan untuk aktivitas kampus berubah menjadi arena penuh adrenalin.

Di tengah riuhnya mosh pit, sebagian penonton terlihat memberi tanda X di kedua tangan. Tanda itu menjadi penanda gaya hidup straight edge, sebuah prinsip yang berkembang dari subkultur hardcore dan menolak konsumsi alkohol, rokok, serta narkotika. Contention dikenal sebagai salah satu band yang mengusung konsep tersebut.

Namun, penggunaan ruang yang tidak dirancang untuk konser juga memunculkan persoalan. Suara terdengar memantul, akustik kurang jelas, dan tempo kerap terasa tidak stabil. Kondisi tersebut menegaskan keterbatasan ruang pertunjukan musik di Bandung yang dirasakan banyak kolektif dan musisi.

Pendiri kolektif For Fortuna, Arga Infantaria Putra, menyebut mahalnya biaya sewa venue sebagai masalah utama dalam penyelenggaraan konser. Menurutnya, ada venue baru, tetapi harganya tinggi. Dampaknya, harga tiket ikut meningkat. Pada acara ini, tiket dijual mulai Rp150 ribu hingga Rp300 ribu. Di sisi lain, pilihan tempat juga menyempit karena sebagian venue tidak lagi terjangkau atau lokasinya jauh dari pusat kota.

Situasi itu membuat penyelenggara mencari alternatif. Melalui jejaring komunitas, For Fortuna mendapatkan akses menggunakan fasilitas kampus ISBI. Arga menilai peran komunitas sangat menentukan. Konser di lingkungan kampus ini juga menjadi kali pertama bagi For Fortuna menggelar acara di area kampus sejak kolektif itu berdiri pada 2020.

Dari sisi musisi, gitaris band Bleach, Kevin Raf Sanjani, menilai kualitas ruang sangat memengaruhi penampilan. Ia menyebut, ketika tempat terlalu besar tanpa peredam, suara menjadi memantul dan tempo bisa terasa kacau. Meski begitu, Kevin menilai skena musik bawah tanah lebih banyak bertumpu pada solidaritas komunitas ketimbang dukungan pemerintah. Menurutnya, pergerakan pada akhirnya digerakkan oleh scene yang saling menguatkan.

Krisis ruang pertunjukan di Bandung disebut tidak hadir tiba-tiba. Tragedi konser band Beside di Gedung Asia Africa Cultural Center (AACC)—kini De Majestic—pada 2008 menjadi titik balik. Dalam peristiwa tersebut, sepuluh orang meninggal akibat berdesakan di ruang tertutup. Setelah itu, musik keras kerap distigmatisasi sebagai berbahaya. Sejumlah pengelola tempat enggan menyewakan ruang untuk konser, dan kegiatan gigs sempat vakum selama beberapa tahun.

Memasuki 2011, era gigs perlahan muncul kembali. Saat itu, anak muda mencari alternatif di luar AACC, seperti kampus-kampus atau studio. Bandung juga sempat memiliki ruang khusus seperti Spasial di Gudang Selatan, tetapi tempat itu hanya bertahan empat tahun, dari 2015 hingga 2019.

Kini, banyak gigs digelar di auditorium Institute Francis Indonesia (IFI) di Jalan Purnawarman. Namun, tidak semua kolektif mampu mengadakan acara di sana karena keterbatasan biaya. Dalam situasi tersebut, penggunaan fasilitas kampus kembali menjadi opsi yang tersedia bagi skena hardcore Bandung—bukan pilihan ideal, tetapi ruang yang memungkinkan konser tetap berjalan.

Di tengah krisis venue yang belum terselesaikan, ruang-ruang alternatif seperti kampus membuka peluang bagi komunitas untuk mempertahankan aktivitasnya. Selama musik terus dimainkan dan jejaring tetap terhubung, skena hardcore Bandung akan terus mencari cara untuk bertahan, meski tanpa panggung yang benar-benar dirancang untuk mereka.