BERITA TERKINI
“Simfoni Tanah Air” Hadir di Ruang Terbuka, Padukan Simfoni Militer dan Musik Kontemporer

“Simfoni Tanah Air” Hadir di Ruang Terbuka, Padukan Simfoni Militer dan Musik Kontemporer

Program seni “Simfoni Tanah Air” digelar untuk memperingati 51 tahun Pembebasan Vietnam Selatan dan penyatuan kembali negara (30 April 1975–30 April 2026). Kegiatan ini diarahkan secara artistik oleh Kolonel dan komposer Ho Trong Tuan, dengan arahan musik dari Letnan Kolonel dan komposer Do Bao. Orkestra dipimpin konduktor Le Phi Phi, sementara produksi musik diawasi Letnan Kolonel sekaligus seniman Vu Duc Tan.

Program ini mendapat dukungan dari Bank Komersial Gabungan Saham Vietnam untuk Industri dan Perdagangan (VietinBank) serta organisasi kartu internasional JCB. Dengan keterlibatan tim profesional berpengalaman, penyelenggara menilai acara ini sebagai pertunjukan musik berkualitas tinggi untuk periode liburan mendatang.

Salah satu sorotan utama “Simfoni Tanah Air” adalah pemilihan Jalan Pejalan Kaki Tran Nhan Tong di ibu kota sebagai lokasi pertunjukan, menggantikan panggung teater tradisional. Langkah ini disebut sebagai terobosan dalam cara penyelenggaraan, sekaligus menandai pertama kalinya konser simfoni militer berskala besar digelar di luar ruangan dengan target melayani puluhan ribu penonton secara langsung.

Penyelenggaraan di ruang terbuka dinilai tidak hanya memperluas akses publik, tetapi juga berpotensi mengubah persepsi terhadap musik simfoni. Dengan format yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, simfoni diharapkan dapat hadir sebagai pengalaman yang lebih intim dan dinamis.

Kolonel, Seniman Rakyat, Dr. Nguyen Xuan Bac, Wakil Rektor Universitas Kebudayaan dan Seni Militer, menyatakan program ini dapat membantu menjembatani jarak antara seni akademis dan kehidupan. Ia menilai kegiatan tersebut dapat menciptakan kondisi agar masyarakat, terutama kaum muda, lebih dekat dengan esensi seni. Menurutnya, ini juga menjadi cara menyebarkan citra “tentara Paman Ho” di masa damai, bukan hanya sebagai kekuatan pelindung Tanah Air, tetapi juga sebagai pencipta dan penyebar nilai budaya.

Letnan Kolonel Vu Thang Loi, Wakil Direktur Orkestra Simfoni Angkatan Darat yang juga menyandang gelar Seniman Berprestasi, menilai pengalaman tampil di ruang terbuka bersama orkestra memberi tantangan dan perspektif baru, khususnya bagi seniman muda. Ia menyebut disiplin dan kedalaman orkestra dapat membuka kesempatan bagi mereka untuk mengeksplorasi serta mengekspresikan diri dari sudut pandang berbeda dibandingkan tampil dengan musik elektronik atau di studio rekaman.

Di balik gagasan “simfoni di jalanan”, penyelenggaraan konser luar ruang memunculkan tantangan teknis. Vu Duc Tan menjelaskan, ketika pertunjukan dilakukan di hadapan puluhan ribu penonton, aspek seperti sistem suara, mikrofon, desain panggung, hingga kemampuan mengendalikan lingkungan harus diperhitungkan secara cermat. Ia menekankan tujuan utama tetap memastikan setiap suara yang terdengar mampu menyentuh emosi pendengar.

Dari sisi isi, “Simfoni Tanah Air” disusun dalam lima bagian. Menurut Do Bao, struktur ini menggambarkan proses perkembangan esensi, jiwa, dan pemikiran kemanusiaan yang terjalin dengan arus sejarah dan zaman.

Bagian I bertema “Mengenang dan Berbangga” dibuka dengan nuansa musik klasik. Sejumlah lagu yang dikenal luas, seperti “Kita Bernyanyi di Pegunungan Truong Son” dan “Jejak Kaki di Pegunungan Truong Son”, diaransemen dalam bahasa simfoni. Melalui overture dan suite berskala besar, bagian ini menghadirkan kembali kenangan sejarah heroik secara khidmat dan emosional.

Bagian II, “Cinta & Tanah Air”, mengusung warna lebih liris melalui lagu-lagu seperti “Ibu Mencintai Anaknya”, “Dermaga Musim Semi”, “Burung-burung Vietnam”, dan “Membawa Makanan untuk Ibu Saat Ia Bekerja di Ladang”. Aransemen yang disebut lebih canggih diharapkan memberi kesegaran pada melodi yang familiar, sekaligus membangkitkan ingatan dan perasaan tentang keluarga, tanah air, dan negara.

Perubahan gaya terlihat pada Bagian III “Kita” dan Bagian IV “Aku”, ketika bahasa musik bergeser ke arah modern dengan perpaduan simfoni dan Pop/Rap. Kehadiran artis muda seperti penyanyi Hoang Hai dan Huong Tram disebut menciptakan ruang musik yang lebih beragam dan dekat dengan kehidupan anak muda.

Bagian V, “Vietnam Bangkit”, kembali ke atmosfer simfoni dengan pesan optimisme dan keyakinan terhadap masa depan. Bagian penutup ini merangkum spektrum emosi, dari kebanggaan nasional dan cinta tanah air hingga aspirasi individu dan masyarakat.

Menanggapi kekhawatiran soal penggabungan simfoni—yang kerap dipandang akademis dan terstandarisasi—dengan gaya musik yang lebih muda, Do Bao menyebut kolaborasi lintas genre sebagai tren yang tak terhindarkan ketika orkestra berupaya terhubung dengan audiens lebih luas. Menurutnya, simfoni tidak lagi terisolasi, melainkan perlahan terintegrasi dalam kehidupan budaya modern.

Ia menegaskan perpaduan dengan rap maupun genre seperti pop dan rock tidak mengurangi nilai inti simfoni, karena unsur fundamental—mulai dari harmoni, orkestrasi, struktur, hingga bahasa musik—tetap dijunjung sesuai standar. Di sisi lain, kombinasi tersebut dinilai membuka kemungkinan kreatif baru dan membantu simfoni menjangkau khalayak yang lebih luas, khususnya generasi muda, sekaligus menegaskan kemampuan orkestra menaklukkan ruang dan format pertunjukan baru tanpa meninggalkan nilai akademis tradisional.