BERITA TERKINI
Album "Dancing On the Wall" Jadi Cara MUNA Kembali ke Karakter Musik Awal

Album "Dancing On the Wall" Jadi Cara MUNA Kembali ke Karakter Musik Awal

LOS ANGELES — MUNA merilis album baru bertajuk Dancing On the Wall melalui Saddest Factory Records. Sejak lagu pembuka, band asal Los Angeles ini membawa pendengar ke atmosfer power pop queer yang bertenaga, memadukan emosi patah hati dan gairah dalam rangkaian lagu yang bergerak cepat.

Menurut laporan Billboard, album studio keempat MUNA ini nyaris tanpa jeda hingga mencapai lagu penutup berjudul “Buzzkiller”. Dari durasi sekitar 40 menit, hanya ada dua interlude singkat yang disisipkan sebagai selingan.

Personel MUNA, Josette Maskin, mengatakan album tersebut dibuat dengan energi yang kuat dan terus melaju. Ia menjelaskan, interlude digunakan agar pendengar memiliki waktu sejenak untuk mencerna emosi dan pesan dalam lagu-lagu mereka, terutama sebelum memasuki nomor bernuansa politis seperti “Big Stick”.

Dancing On the Wall juga menandai perubahan arah dari nuansa lembut “Silk Chiffon”, kolaborasi MUNA bersama Phoebe Bridgers yang sebelumnya ikut mengangkat popularitas mereka. Kesuksesan lagu itu, ditambah album ketiga mereka bertajuk MUNA, membuat basis penggemar band ini berkembang pesat.

Di tengah peningkatan perhatian publik, MUNA sempat tampil di panggung besar sebagai pembuka konser Kacey Musgraves, Lorde, hingga Taylor Swift. Namun, alih-alih mengulang formula “Silk Chiffon”, mereka memilih kembali ke karakter musik yang dianggap sebagai identitas awal band.

Katie Gavin menyebut pendekatan tersebut sebagai “DNA asli MUNA”. Ia menegaskan, seluruh personel memiliki semangat pemberontak dalam berkarya dan tidak ingin sekadar mengikuti ekspektasi publik. Karena itu, mereka memilih kembali ke akar musik band ketimbang membuat banyak lagu yang terdengar seperti “Silk Chiffon”.