BERITA TERKINI
Setahun Nggalek.co: Catatan Editor soal Tantangan, Proses Kurasi, dan Pembelajaran Menulis

Setahun Nggalek.co: Catatan Editor soal Tantangan, Proses Kurasi, dan Pembelajaran Menulis

Setelah 12 bulan mengelola penyuntingan di portal Nggalek.co, editor portal tersebut merefleksikan berbagai pelajaran yang didapat, sekaligus pengorbanan waktu yang harus diberikan. Di satu sisi ia mengaku menyukai membaca dan menulis, namun di sisi lain ia juga memiliki pekerjaan pribadi yang tetap harus ditata dan diselesaikan. Tugas editorial di Nggalek.co, menurutnya, menambah beban waktu karena ia ikut mengawal proses tumbuhnya bibit dan bakat menulis dari penulis-penulis Trenggalek.

Sejak awal, ia mengambil keputusan untuk mengarahkan tema, bentuk, dan jenis tulisan yang boleh dimuat. Keputusan itu, menurutnya, diambil setelah merasa tidak ada pihak lain yang memiliki waktu dan tenaga lebih untuk melakukan pengawasan tersebut. Konsekuensinya, banyak naskah yang harus dikembalikan kepada penulis, dipotong, hingga ditolak karena belum memenuhi syarat yang ditetapkan sejak awal.

Ia menyebut situasi itu tidak mudah. Di satu sisi ia harus menghadapi kekecewaan sebagian orang, sementara di sisi lain ada risiko semakin sedikit penulis yang mau dan mampu menulis sesuai topik yang ditentukan. Tantangan ini terasa karena mayoritas penulis aktif adalah anak muda Trenggalek yang sebagian besar belum berangkat dari latar sebagai penulis dan belum terbiasa dengan dasar-dasar penulisan.

Selain persoalan kemampuan teknis, ia juga menyinggung kondisi pengelolaan portal yang digagas secara swadaya. Menurutnya, Nggalek.co merupakan salah satu media yang editor dan penulisnya tidak dibayar. Bahkan, untuk biaya hosting pun portal itu memasang ajakan donasi di bagian header situs.

Meski demikian, ia menilai portal tersebut mampu bertahan selama setahun berkat keterlibatan banyak penulis yang rata-rata masih dalam tahap belajar. Ia menyebut Nggalek.co pada akhirnya menjadi ruang belajar bersama, dimulai dari hal-hal dasar seperti pembiasaan penggunaan kata baku, tanda baca, ejaan yang berlaku, hingga kalimat efektif. Ia juga mengaku turut belajar memperbaiki kemampuan menyunting melalui proses tersebut.

Dari sisi produktivitas, ia menyatakan apresiasi kepada beberapa penulis yang dinilainya konsisten, di antaranya M. Choirur Rokhim, Trigus Dodik Susilo, dan Roin J Vahrudin.

Sepanjang setahun, ia mencatat jenis tulisan yang paling banyak masuk adalah opini. Dari situ, ia berupaya mengenalkan penulis pada bentuk reportase yang dekat dengan feature, yakni tulisan yang berangkat dari pengamatan dan observasi keseharian, khususnya di lingkup kehidupan masyarakat Trenggalek. Ia menggambarkan reportase atau feature sebagai cara menulis objek dari dekat.

Ia juga menuturkan adanya interaksi yang cair dan egaliter di antara penulis untuk bertukar pikiran, mendiskusikan teknik penulisan, kemungkinan tema yang dapat dieksplorasi, serta kecocokan gagasan dituangkan dalam bentuk tulisan tertentu. Diskusi itu, menurutnya, juga kerap menyentuh hambatan menulis, termasuk kondisi macet ide atau writer’s block.

Untuk menyiasati kehabisan ide, ia merekomendasikan para penulis memperbanyak tulisan reportase. Ia menilai reportase membantu penulis tidak hanya menuangkan unek-unek dalam opini, tetapi juga melatih diri menulis berdasarkan pelaporan di lapangan melalui teknik bercerita. Dengan demikian, penulis bisa bertumpu pada kenyataan yang dilihat, dirasakan, atau dialami tanpa harus memaksakan ide-ide abstrak sebagaimana dalam tulisan opini murni.

Menurutnya, menulis tentang hal-hal sekitar juga menjadi sarana mendekatkan perhatian pada situasi lingkungan, sekaligus melatih cara berpikir yang lebih sistematis. Namun ia mencatat, bentuk tulisan yang dihadirkan Nggalek.co kerap disalahpahami pembaca. Sebagian pembaca mengira portal itu menyajikan berita layaknya koran daring, sehingga memperlakukan portal dan penulisnya seperti wartawan yang harus meliput peristiwa tertentu di Trenggalek. Ia menegaskan Nggalek.co adalah media opini yang sebagian isinya juga berupa kajian, meski jenis tulisannya beragam.

Ia menyebut sejak awal banyak penulis sudah memahami bentuk opini, sehingga mayoritas naskah yang masuk adalah gagasan. Sementara itu, reportase, feature, apalagi esai, masih relatif jarang dikuasai. Seiring waktu, beberapa penulis mulai intensif berlatih reportase, termasuk Rokhim, Trigus, dan dirinya sendiri. Ia menilai Trigus dan Rokhim kini tidak lagi hanya menulis opini, tetapi juga feature, sementara Rokhim mulai menulis esai. Meski demikian, ia memberi catatan bahwa esai-esai Rokhim masih kerap sekadar menjajarkan kutipan tanpa pengolahan yang lebih jauh.

Ia juga menggambarkan kebiasaan menulis Trigus Dodik Susilo yang dinilainya memiliki konsentrasi baik dan mampu menuntaskan draf dalam waktu singkat. Namun, ia menyebut hasil awal tulisan Trigus kerap masih berantakan sehingga perlu diedit, bahkan ia sering meminta Trigus menyunting tulisannya sendiri sebelum diserahkan untuk proses editorial.

Selain itu, ia menyinggung Roin J Vahrudin sebagai penulis dengan rasa ingin tahu besar, ditunjukkan dari kebiasaannya membeli buku-buku yang membuatnya penasaran. Ia juga menyebut ada penulis lain yang dinilai memiliki kemampuan menulis sangat baik, seperti Androw Dzulfikar, Gilang Tri Subekti, Nur Mawadah, KW Lidhya Ningsih, Rihanan, dan Randy Mahendra. Namun, menurutnya, mereka justru jarang menghasilkan tulisan, meski ketika menulis naskahnya hanya membutuhkan sedikit polesan sebelum tayang.

Di bagian akhir refleksinya, ia menyebut ingatannya pada ungkapan yang diparafrasekan dari Jorge Luis Borges. Ia menafsirkan Borges sebagai kritik terhadap penulis kontemporer yang terlalu fokus menjadi revolusioner dan unik, padahal perlu kembali pada diri sendiri dan memandang hal-hal di sekitar, termasuk tradisi dan keseharian masyarakat. Namun, ia menilai kekhawatiran itu “tidak mempan” bagi penulis Nggalek.co karena mereka, menurutnya, sudah melakukan apa yang dikhawatirkan Borges.