BERITA TERKINI
Safir Ahyanuddin Raih Juara 1 Lomba Cerpen 750 Kata Nasional 2025, Bidik Karier Akademisi Linguistik dan Kebudayaan

Safir Ahyanuddin Raih Juara 1 Lomba Cerpen 750 Kata Nasional 2025, Bidik Karier Akademisi Linguistik dan Kebudayaan

Safir Ahyanuddin meraih Juara 1 Lomba Menulis Cerpen 750 Kata Tingkat Nasional 2025. Ia mengatakan ketertarikannya pada dunia menulis sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMA, ketika mulai menikmati bagaimana kata-kata dapat menjadi tempat menampung perasaan, pikiran, dan pengalaman hidup.

Dalam keterangannya melalui sambungan WhatsApp dari Surabaya, Safir menyebut proses kreatifnya juga berjalan konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Baginya, dunia kampus bukan hanya ruang mempelajari teori, tetapi juga tempat mengembangkan diri lewat karya dan kontribusi nyata di bidang sastra dan literasi.

Kecintaan pada menulis membuat Safir aktif mengikuti berbagai kompetisi dalam beberapa tahun terakhir. Ia memulai dari lomba berskala ringan, seperti puisi dan menulis yang banyak diselenggarakan melalui media sosial. Dari pengalaman itu, ia belajar membangun keberanian untuk mengirim karya sekaligus menerima penilaian orang lain.

Seiring waktu, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia tersebut semakin serius menekuni kepenulisan. Ia rutin mengirim tulisan ke berbagai platform dan media, seperti Medium, Omong-Omong.com, Mojok.co, hingga Kompas. Tulisan yang ia kirim beragam, mulai dari opini, esai, hingga cerita pendek.

Safir menyampaikan, beberapa karyanya mengangkat isu sosial dan kritik masyarakat melalui sastra maupun artikel reflektif. Ia juga sesekali menulis di Instagram pribadinya, @Safierahsfr.

Prestasi yang paling berkesan baginya adalah saat meraih Juara 1 Lomba Menulis Cerpen 750 Kata Tingkat Nasional yang digelar Pusat Studi Literasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unesa. Ia menilai kemenangan tersebut menjadi pencapaian penting sekaligus penyemangat untuk terus berkarya, meski rasa takut dan minder karena khawatir karyanya tidak layak kerap muncul.

Safir mengaku keseriusannya menekuni kepenulisan menguat setelah lulus SMA pada 2022, meski minatnya telah muncul sejak sekolah. Ia kemudian memperbanyak membaca karya sastra, menulis hampir setiap hari, serta rutin mengirim tulisan ke media dan perlombaan.

Meski tidak berasal dari keluarga yang bergelut di dunia menulis, ia mengatakan dorongan itu tumbuh dari kegemaran membaca dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Dari mengamati manusia, peristiwa kecil, hingga pergulatan batin, ia menemukan banyak hal yang ingin diceritakan lewat tulisan. Baginya, menulis bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari perjalanan hidup.

Safir, yang berasal dari Kecamatan Balen, menyatakan ingin terus berkembang di ranah bahasa, sastra, dan budaya. Ia bermimpi berkontribusi sebagai sastrawan sekaligus akademisi di bidang linguistik dan kebudayaan, agar karyanya tidak hanya dinikmati sebagai bacaan, tetapi juga memberi pemahaman, membuka sudut pandang baru, serta memperkuat kesadaran literasi masyarakat.

Ia juga bercita-cita menerbitkan buku-buku yang mengangkat refleksi kehidupan, isu sosial, dan kekayaan Bahasa Indonesia. Di sisi lain, ia mengakui tugas akademik yang padat kerap datang bersamaan dengan ide menulis, sehingga ia berupaya membagi waktu dengan disiplin.

Safir menegaskan setiap kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar. Ia mendorong orang lain untuk banyak membaca agar sudut pandang semakin luas, serta tidak takut mengirimkan karya meski belum sempurna. Menurutnya, kunci utama adalah konsistensi dan kejujuran dalam menulis, tidak semata mengejar kemenangan, serta tidak mudah menyerah ketika gagal.