BERITA TERKINI
Sabuya Memadukan Fashion Modern dan Budaya Lokal: Antara Identitas, Tren, dan Cara Memakainya dengan Tepat

Sabuya Memadukan Fashion Modern dan Budaya Lokal: Antara Identitas, Tren, dan Cara Memakainya dengan Tepat

Fashion tidak semata berbicara soal pakaian, tetapi juga memuat nilai budaya dan identitas masyarakat. Apa yang dikenakan seseorang kerap dipahami sebagai representasi gaya hidup yang ia pahami, sekaligus dapat menampilkan jejak budaya tertentu—misalnya ketika busana bergaya semi modern dipadukan dengan unsur etnik. Dalam konteks ini, penampilan menjadi medium yang membawa cerita dan pengaruh budaya lokal.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah fashion efektif untuk memperkenalkan budaya lokal. Di satu sisi, fashion dapat menjadi ruang lintas budaya melalui simbol-simbol yang direpresentasikan. Namun, penggunaan elemen budaya tanpa pemahaman juga dapat dipandang tidak menghormati budaya tersebut. Contoh yang disebutkan adalah mengenakan baju Papua tanpa mengetahui maknanya, yang dapat dianggap sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap nilai budaya.

Pakaian yang dikenakan juga dipandang sebagai narasi tentang warisan. Busana tidak lahir begitu saja, melainkan memiliki sejarah dan jejak warisan dalam proses penciptaan serta konstruksinya. Dalam perkembangan mode, sejumlah tren seperti gothic atau punk juga kerap dipahami sebagai cerminan budaya dan sikap tertentu.

Dalam kaitannya dengan budaya lokal, identitas fashion kerap tercermin jelas lewat kain atau motif tertentu. Batik, misalnya, langsung merujuk pada nilai, asal, dan jenis batik yang digunakan. Meski demikian, pelestarian busana berbasis tradisi tidak selalu mudah. Ada tantangan untuk mempertahankan esensi tradisional, sementara di sisi lain muncul kebutuhan mengembangkan pola dan warna mengikuti tren. Karena itu, peran desainer lokal dinilai penting untuk menjaga apresiasi dan representasi budaya tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya.

Akulturasi antara fashion dan budaya lokal juga terlihat melalui ajang pekan mode seperti Jakarta Fashion Week (JFW) dan Indonesia Fashion Week (IFW). Acara ini menjadi panggung bagi desainer untuk menampilkan karya yang memadukan budaya dan modernitas. Dorongan untuk mengangkat budaya tradisional yang sebelumnya jarang tampil di ruang publik membuat unsur tradisi kini hadir dalam busana formal, semi formal, hingga santai.

Salah satu contoh yang disorot adalah Sabuya, yang menghadirkan desain etnik melalui perpaduan tenun tradisional dan gaya modern. Konsep yang diusung adalah menampilkan budaya lokal lewat fashion, namun tetap relevan dengan selera masa kini. Beberapa contoh produk yang disebutkan antara lain Goyang Dress, kain Bali bergaya patchwork untuk kebutuhan kasual atau formal, serta Atsiri outer dengan pilihan warna yang beragam.

Di saat yang sama, budaya mode modern juga bergerak menuju globalisasi. Inspirasi dari tren di negara lain—misalnya gaya eklektik dan avant-garde dari Jepang—dapat memengaruhi desainer untuk menghadirkannya dalam konteks lokal. Perkembangan ini menunjukkan bagaimana busana dapat bergerak dari lokal menuju global: dari koleksi yang berangkat dari keseharian hingga menjadi adibusana.

Bagi masyarakat yang ingin memadukan produk fashion dengan budaya lokal, terdapat beberapa pendekatan yang dapat diterapkan. Pertama, memadukan batik dan tenun dengan gaya modern, termasuk streetwear. Batik kini kerap diaplikasikan pada jaket, hoodie, hingga sneaker, sehingga tampil lebih kasual tanpa meninggalkan unsur tradisi.

Kedua, adaptasi pakaian adat ke dalam busana sehari-hari maupun busana resmi pada acara tertentu. Ketertarikan generasi Y dan Z terhadap pakaian adat yang dibuat semi modern juga disebut meningkat, sekaligus menjadi cara memperkenalkan busana daerah kepada orang lain yang belum mengenalnya.

Ketiga, penggunaan aksesori etnik dalam gaya minimalis. Aksesori seperti kalung, gelang, anting, atau cincin dari daerah setempat dapat melengkapi tampilan. Contoh lain adalah blangkon, penutup kepala tradisional Jawa berbahan batik yang digunakan pada acara pernikahan Jawa.

Melalui perpaduan yang tepat, fashion dapat menjadi sarana menampilkan identitas sekaligus merawat warisan budaya. Namun, pemahaman terhadap makna di balik elemen budaya yang digunakan tetap menjadi kunci agar representasi tradisi tidak berhenti pada tampilan, melainkan juga mencerminkan penghormatan.