Sidoarjo—Rutan Perempuan Kelas IIA Surabaya menggelar kegiatan kesehatan mental bertema “Menemukan Tenang di Tengah Badai” di Aula Malahayati, Senin (4/5). Program ini merupakan kerja sama dengan Douperi Indonesia dan menghadirkan pemateri Dhylis Titian Awaly. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi warga binaan untuk mengenali emosi, memulihkan luka batin, serta menumbuhkan harapan baru.
Kepala Rutan Perempuan Surabaya, Yuyun Nurliana, dalam sambutannya menekankan pentingnya kesehatan mental sebagai bagian dari proses pembinaan. Ia menyampaikan bahwa kesehatan mental berperan sebagai kunci untuk bangkit, sehingga warga binaan diharapkan dapat menemukan ketenangan dan kekuatan untuk menatap masa depan dengan lebih baik.
Dalam rangkaian kegiatan, Douperi Indonesia juga menyerahkan sertifikat kepada Rutan Perempuan Surabaya sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi yang terjalin. Sertifikat diserahkan secara simbolis kepada Yuyun Nurliana sebagai wujud dukungan terhadap program pembinaan berbasis kesehatan mental.
Memasuki sesi inti, Dhylis Titian Awaly yang akrab disapa Umma Titian menyampaikan materi dengan pendekatan yang hangat. Ia mengajak peserta untuk memahami emosi diri, menerima masa lalu, serta mencari cara berdamai dengan keadaan. Menurutnya, ketenangan tidak selalu berarti tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk berdamai dengan apa yang dirasakan.
Dalam sesi interaktif, warga binaan diminta mewarnai sebuah lingkaran yang menggambarkan perasaan mereka. Salah satu warga binaan berinisial S mewarnai seluruh lingkaran dengan warna merah. Ia menyebut warna tersebut menggambarkan kemarahan pada diri sendiri dan kekecewaan atas kesalahan yang dilakukan, namun sekaligus menjadi semangat untuk bangkit dan berubah.
Kegiatan berlanjut dengan sesi menuliskan doa dan harapan pada potongan kertas berbentuk daun. Sejumlah warga binaan menuliskan harapan sederhana, yakni menjadi manusia yang lebih baik. Potongan daun berisi doa dan harapan itu kemudian ditempelkan bersama lingkaran yang telah diwarnai pada sebuah “pohon harapan” sebagai simbol perjalanan menuju perubahan yang lebih positif.
Di sesi penutup, peserta diajak melakukan renungan dalam suasana hening. Mereka diminta merenungi kesalahan yang pernah dilakukan, mengingat kembali perjalanan hidup, serta memeluk diri sendiri sebagai bentuk penerimaan dan kasih sayang terhadap diri. Momen ini menjadi pengalaman emosional bagi para warga binaan.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan program kesehatan mental serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Rutan Perempuan Surabaya. Selain membantu pemulihan emosional, kegiatan ini juga diarahkan untuk mendukung pembentukan pribadi warga binaan yang lebih kuat, sadar diri, dan siap menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan.