PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 17 April 2026. Sejumlah agenda yang dinanti pemegang saham antara lain penetapan penggunaan laba bersih, termasuk kebijakan pembagian dividen, serta rencana perubahan susunan pengurus perseroan.
Rapat ini menjadi perhatian pelaku pasar karena keputusan yang dihasilkan akan memengaruhi arah kebijakan perseroan sepanjang tahun berjalan, di tengah dinamika sektor perbankan nasional yang disebut terus menunjukkan pemulihan kinerja.
Dalam agenda rapat, pemegang saham dijadwalkan membahas beberapa pokok bahasan, yakni persetujuan Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan tahun buku 2023, penetapan penggunaan laba bersih termasuk pembagian dividen, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Selain itu, rapat juga akan membahas penetapan honorarium dan tunjangan bagi Dewan Komisaris dan Direksi, serta penunjukan Kantor Akuntan Publik untuk mengaudit laporan keuangan tahun buku 2024.
Manajemen juga disebut akan menyampaikan pembaruan mengenai langkah mitigasi risiko operasional. Hal ini mengemuka setelah adanya isu dugaan penggelapan dana nasabah yang sempat menjadi perhatian publik.
Terkait isu tersebut, manajemen Maybank Indonesia menyatakan telah memberikan klarifikasi mengenai dugaan penggelapan dana nasabah senilai Rp30 miliar. Perseroan menegaskan komitmen untuk bekerja sama dengan pihak berwenang dalam proses hukum yang berjalan, serta menyatakan operasional perbankan tetap berjalan normal.
Dalam klarifikasi yang disampaikan, bank menyebut telah melaporkan kejadian itu kepada kepolisian, melakukan investigasi internal untuk mengidentifikasi celah keamanan, serta memastikan dana nasabah tetap aman dan terlindungi sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bank juga menyatakan terus meningkatkan sistem keamanan siber dan prosedur verifikasi transaksi secara berkala.
Di sisi kinerja, data perbandingan 2022 dan 2023 menunjukkan pendapatan bunga bersih meningkat dari Rp12.500 miliar menjadi Rp13.200 miliar, sementara laba bersih naik dari Rp1.500 miliar menjadi Rp1.700 miliar. Total aset bertambah dari Rp170.000 miliar menjadi Rp175.000 miliar. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross turun dari 3,5% pada 2022 menjadi 2,8% pada 2023.
Setelah RUPST, perseroan umumnya akan mengumumkan hasil rapat melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), melanjutkan proses administrasi pembagian dividen sesuai jadwal, serta melakukan sosialisasi perubahan struktur organisasi kepada pemangku kepentingan. Perusahaan juga akan mengimplementasikan strategi bisnis untuk mendukung target pertumbuhan tahun 2024 dan melaporkan hasil RUPST kepada OJK sebagai bagian dari kepatuhan regulasi.
Soal dividen, keputusan final mengenai besaran dan jadwal pembagian akan diumumkan setelah RUPST selesai. Investor diingatkan untuk memperhatikan tahapan penting seperti cum date, ex date, recording date, dan payment date agar tidak melewatkan hak dividen. Informasi resmi terkait jadwal dan ketentuan pembagian dividen diharapkan merujuk pada keterbukaan informasi yang diterbitkan melalui BEI.
Di tengah dinamika yang ada, perseroan menekankan pentingnya menjaga kepercayaan nasabah dan investor, termasuk melalui penguatan sistem keamanan dan tata kelola yang transparan. Adapun informasi yang beredar terkait agenda RUPST, pembagian dividen, serta laporan keuangan dapat berubah mengikuti keputusan rapat dan ketentuan yang berlaku.

