Nilai tukar rupiah menguat tipis pada perdagangan Senin, bergerak di sekitar 17.174 per dolar AS. Posisi ini naik 6 poin atau 0,03% dibanding penutupan sebelumnya di 17.180 per dolar AS.
Meski menguat, ruang pemulihan rupiah dinilai masih terbatas. Rupiah sempat bergerak dekat area terlemahnya hari ini di sekitar 17.185 per dolar AS, serta masih berdekatan dengan titik terlemah 52 pekan di 17.195 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan tekanan belum sepenuhnya mereda, terutama ketika harga minyak global bertahan tinggi.
Sentimen eksternal kembali menjadi penentu arah pasar setelah ketegangan AS-Iran memanas. Situasi meningkat usai Amerika Serikat menyita kapal kargo Iran, yang kemudian direspons Tehran dengan ancaman pembalasan. Jalur perundingan disebut masih terbuka, namun momentumnya dinilai rapuh.
Ketegangan geopolitik tersebut mendorong harga minyak menguat, dengan Brent dan WTI naik sekitar 4%. Penguatan minyak juga turut menopang dolar AS, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global dan pergerakan imbal hasil AS. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung menata ulang eksposur dengan memperbesar posisi pada aset yang dianggap lebih aman dan menahan langkah pada mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, pasar mencermati kebijakan energi pemerintah. Penyesuaian harga BBM non-subsidi terjadi pada sejumlah produk, termasuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sejak 18 April. Sementara itu, harga BBM bersubsidi masih ditahan, yang dipandang membantu meredakan tekanan inflasi jangka pendek, meski transmisi kenaikan energi global ke pasar domestik tidak sepenuhnya tertutup.
Kenaikan BBM non-subsidi dinilai memberi sinyal bahwa biaya energi yang lebih tinggi mulai merembes ke dalam negeri. Pada saat yang sama, kebutuhan subsidi yang membesar menjadi salah satu perhatian pasar karena dapat memengaruhi persepsi terhadap beban fiskal apabila harga minyak bertahan tinggi lebih lama.
Kerentanan rupiah juga terkait dengan posisi Indonesia sebagai importir energi. Lonjakan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan dari sisi impor, kebutuhan dolar AS, dan ekspektasi inflasi. Inflasi Maret tercatat 3,48%, mendekati batas atas target 1,5%–3,5%.
Pasar juga menakar arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Dalam polling Reuters, 31 ekonom memprakirakan BI mempertahankan suku bunga acuan di 4,75%. Reuters juga menulis bahwa perang Iran telah membuat ekonom mengurangi proyeksi pemangkasan suku bunga BI. Di sisi lain, rupiah telah melemah sekitar 3% sepanjang tahun ini, memperlihatkan fokus kebijakan yang lebih condong pada stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi.
Ke depan, pelaku pasar menimbang beberapa faktor secara bersamaan: upaya pemerintah menahan tekanan harga energi lewat subsidi, peluang BI bertahan defensif lebih lama, serta potensi risiko fiskal jika lonjakan energi berlarut-larut. Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, penguatan rupiah berpotensi tetap dangkal dan mudah tertahan ketika sentimen global kembali memburuk.