Nilai tukar Rupiah kembali melemah dan mencetak rekor terendah baru terhadap Dolar AS. Pada Kamis siang, pergerakan Rupiah berada di kisaran 17.140–17.150 per Dolar AS, dengan titik terlemah tercatat di 17.153. Pergerakan ini menandai kelanjutan fase price discovery, ketika pasar mencari titik keseimbangan baru di level yang belum pernah teruji sebelumnya.
Tekanan terhadap Rupiah muncul di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven serta ekspektasi bahwa suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed) dapat bertahan tinggi lebih lama. Kondisi ini terjadi meski harga energi disebut mulai mereda setelah lonjakan sebelumnya, namun kehati-hatian pelaku pasar tetap menahan ruang pemulihan Rupiah.
Dari sisi eksternal, pelemahan Rupiah juga berada dalam bayang-bayang penurunan prospek ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Prospects memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3,1% dan menilai risiko masih condong ke sisi negatif. IMF menyoroti tekanan dari konflik geopolitik dan lonjakan harga energi, dengan skenario ekstrem yang dapat menurunkan pertumbuhan ke rentang 2,5% hingga 1,8% atau mendekati fase resesi global, terutama jika harga energi tetap tinggi.
Di saat yang sama, IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,0% pada 2026 dengan inflasi di kisaran 3,0%. Pemerintah juga menilai fundamental domestik masih kuat, didukung konsumsi dan stabilitas kebijakan. Namun, bagi Rupiah, tekanan eksternal dinilai tetap dominan, termasuk preferensi investor pada aset safe haven serta risiko kenaikan biaya energi yang dapat memperbesar beban impor.
Ketidakpastian geopolitik turut membentuk sentimen pasar. Konflik AS–Iran disebut memasuki fase negosiasi di tengah tekanan militer yang masih berlangsung. Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran serta ancaman Iran untuk menghentikan jalur perdagangan di kawasan Teluk menjaga risiko tetap tinggi. Meski Washington mulai menunjukkan optimisme terhadap peluang kesepakatan damai dan kemungkinan perundingan lanjutan dalam waktu dekat, pasar dinilai belum sepenuhnya beralih ke kondisi risk-on dan masih menahan langkah.
Di sisi kebijakan moneter, pasar mulai membuka kemungkinan pemangkasan suku bunga AS seiring harapan de-eskalasi konflik dan kekhawatiran perlambatan global, meski belum menjadi skenario utama. Pernyataan pejabat The Fed Beth Hammack mencerminkan sikap hati-hati, dengan menilai suku bunga sudah berada di posisi yang tepat dan arah inflasi masih bergantung pada perkembangan harga energi. Selama belum ada sinyal pelonggaran yang jelas, Dolar AS cenderung tetap ditopang dan ruang penguatan Rupiah dinilai terbatas.
Pelaku pasar juga menanti rilis sejumlah data ekonomi AS pada hari yang sama, termasuk Klaim Tunjangan Pengangguran, survei manufaktur The Fed Philadelphia, serta produksi industri. Data yang lebih kuat berpotensi memperkuat Dolar AS dan menambah tekanan pada Rupiah, sementara hasil yang lebih lemah dapat membuka peluang stabilisasi.
Secara teknikal, Rupiah masih menunjukkan bias melemah. Level 17.000 disebut menjadi area uji balik setelah ditembus pada 6 April. Di sisi pelemahan, level 17.100 yang sebelumnya menahan tekanan pada 13 April kini menjadi acuan dalam tren pelemahan lanjutan. Pergerakan ke 17.140–17.150 yang mencetak rekor terlemah baru membuka peluang menuju 17.200, lalu 17.300–17.400 jika tekanan berlanjut. Sebaliknya, jika tekanan mereda, Rupiah berpeluang kembali ke 17.000 sebelum mengarah ke 16.900, mendekati level terkuat pada 13 Maret di 16.897.